03:20 - Sabtu, 22 November 2014
Cahyadi Takariawan

Fiqih Dakwah untuk Masyarakat Jawa: Ambil Hikmah Walau Dari “Wong Sudra”

Rubrik: Fiqih Dakwah | Oleh: Cahyadi Takariawan - 07/11/12 | 08:30 | 21 Dhul-Hijjah 1433 H

Ilustrasi – Ramadhan di Masjid Al-Hikmah, Jakarta Selatan (Al-Hikmah)

dakwatuna.com – Kali ini saya akan menyampaikan “pada” ketiga Sekar Gambuh, yang menuturkan pelajaran penting agar manusia selalu mengambil nasihat atau hikmah, walaupun munculnya dari orang-orang rendahan. Perhatikan pitutur luhur Sekar Gambuh “pada” ketiga berikut ini:

“Tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru, nadyan metu saking wong sudra papeki, lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo”.

Terjemahan bebas dari bait-bait Gambuh di atas adalah: ajaran yang benar itulah yang patut kau ikuti, meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya, namun jika baik ajarannya, maka pantas kau terima.

Kandungan Pelajaran

Serat Wulangreh mengajarkan sikap hidup yang positif. Dalam Sekar Gambuh “pada” ketiga ini, pelajaran pentingnya adalah, manusia tidak layak menolak nasihat, peringatan atau hikmah, walaupun datangnya dari orang-orang rendahan, rakyat jelata, para pengemis, atau gembel di pinggiran jalan sekalipun.

“Tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru”, nasihat yang benar itu, sesungguhnya sangat pantas diikuti. Sangat banyak ajakan, bujukan, bisikan, godaan yang kita terima setiap hari. Baik dari orang-orang dekat kita, maupun dari media massa cetak dan elektronik. Berita-berita di televisi, koran, majalah, internet mengajak kita melakukan sesuatu. Namun yang pantas dan harus diikuti adalah nasihat yang benar, yang baik, yang konstruktif. Bukan ajakan yang negatif dan destruktif.

“Nadyan metu saking wong sudra papeki”, walaupun keluarnya hikmah atau nasihat itu dari orang-orang rendahan dan hina (wong sudra papa). Jangan hanya menerima nasihat yang datang dari para pejabat, atau ulama, atau orang-orang kaya dan para tokoh. Karena hikmah dan nasihat itu bisa datang dari siapapun, bahkan dari orang-orang yang dianggap hina atau rendahan.

“Lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo”, jika memang ajaran dan pelajarannya baik, itulah yang pantas diambil dan digunakan. Ini merupakan ajaran mulia, agar kita pandai mengambil hikmah dan nasihat dari semua orang dan semua kejadian. Esensinya adalah “pelajaran apa” yang bisa didapatkan, bukan “siapa” yang memberi pelajaran.

Pandai Mengambil Hikmah

Sesungguhnya semua kejadian dalam hidup itu penuh dengan hikmah dan pelajaran penting. Namun sayang, tidak semua manusia bisa menangkap pesan dan hikmah dari kejadian tersebut. Nabi mengajarkan kepada kita tentang sebuah nasihat besar dari kematian, sebagaimana sabda beliau, “Perbanyaklah mengingat perkara yang membinasakan kelezatan –yaitu kematian” (Hadits Hasan, Riwayat Tirmidzi). Juga nasihat dari Al Fudahil bin Iyadh,  ”Cukuplah kematian sebagai peringatan”.

Berbagai peristiwa, kejadian, fenomena kehidupan adalah pelajaran dan hikmah yang sangat berharga bagi kita, selama mampu menangkap pesannya. Demikian pula dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat, ada sangat banyak butir-butir hikmah mengalir dari setiap orang yang kita temui. Mungkin saja mereka adalah ulama, pejabat tinggi, politisi, pedagang, penjual koran, tukang sampah, petani, nelayan, bahkan pengemis sekalipun.

Ketika kita mengobrol dengan petani di sawah yang sedang digarapnya, tidak terasa ia telah memberi banyak pelajaran penting kepada kita. Tentang kesungguhan, tentang kesabaran, tentang perjuangan, tentang keikhlasan. Bisa jadi ia tidak bermaksud mengajari sesuatu kepada kita, namun apabila kita pandai mengambil hikmah dan pelajaran, obrolan tersebut mirip dengan sebuah kuliah di masjid atau di ruang kelas.

Perhatikan pengarahan Nabi Saw berikut:

Hikmah adalah harta orang mukmin yang hilang. Di mana saja menemukannya, dia lebih berhak untuk mengambilnya” (Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah).

Hikmah atau pelajaran dan nasihat, diibaratkan sebagai harta atau barang orang-orang beriman yang hilang atau tercecer. Maka di manapun hikmah itu didapatkan, orang-orang mukmin itulah yang lebih layak untuk mengambilnya. Ini sungguh pengarahan yang luar biasa. Orang beriman harus pandai mengambil pelajaran dari siapapun dan dari peristiwa apapun. Semua ada pelajaran yang berharga selama kita mampu menangkap pesannya.

Undzur ma qala wa la tandzur man qala,” perhatikan apa yang dikatakan, jangan memperhatikan siapa yang mengatakan. Begitulah pesan seorang sahabat Nabi yang mendapat julukan sebagai pintu gerbang ilmu, Ali bin Abi Thalib Ra. Sebuah pesan agar dalam usaha mencari kebenaran, hendaknya kita memusatkan diri pada substansi kebenaran, bukan pada siapa yang mengucapkannya.

Ternyata, Serat Wulangreh telah menguatkan berbagai hikmah kenabian dalam bait-bait Sekar Gambuh. Sungguh sebuah pelajaran yang sesuai dengan nilai-nilai dakwah Islam yang selama ini sudah kita laksanakan.

Cahyadi Takariawan

Tentang Cahyadi Takariawan

Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina di Harum Foundation, Direktur Jogja family Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. Alumni Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (Belum ada nilai)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • iinda sari

    Saya setuju dengan apa yang
    dikatakan oleh Sekar Gambuh,yang menyatakan bahwa nasehat bisa datang dari mana
    saja.Walaupun itu datangnya dari orang-orang rendahan.Selagi nasehat tersebut
    baik ajaranya dan tidak menyimpang dari norma-norma agama.lebih penting lagi
    kita kita tidak boleh memandang seseorang dari pangkat/derajatnya.

    Dan di dalam Al-qur’an juga sudah
    dijelaskan bahwa semua umat manusia
    dihadapan allah adalah sama,yang membedakan hanyalah amal perbuatannya. Jadi
    menurut saya kenapa tidak, bila nasehat
    itu bisa bermanfaat untuk kita dan orang
    lain,walaupun itu datangnya dari orang rendahan sekalipun.

Iklan negatif? Laporkan!
98 queries in 1,563 seconds.