Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Kita, Pantai, Cinta

Kita, Pantai, Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

“Kau di sampingku
Aku di sampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang”

Terima kasih Bapak Abdul Hadi W.M.
atas Cinta yang telah kau tuangkan entah di manuskrip ke-berapa
Lagi-lagi, Cinta-mu mengingatkanku pada getaran paling pasti dalam hidup: perselisihan
antara si kaya dan si miskin, si besar dan si kecil, si tua dan si muda, atau mereka yang sebaya
Saat raga-raga mendekat lalu kikuk dan saling menghindar
Saat senyum terasa hambar dan sapa tak ubahnya udara terberat
di atmosfer hangat kerabat
Tak heran, bila seorang alim di jalan Tuhan-nya,
pernah bilang:

“Karena saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai.
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita,
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil,
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja, tentu terlebih sering, …imankulah yang compang-camping…” (Salim A. Fillah)

Kini aku tahu, Bapak, maksud baris akhir puisi Cinta-Mu
tentang kunci yang mempertemukan
dari kalbu yang saling memandang
di arah yang tak kau jelaskan
di arah sini
di kalbu masing-masing
yang pada akhirnya akan menjelma: satu sama lain

Maka
aku, kau, dan semua akan tahu
bahwa jarak yang menjembatani kita hanyalah kerikil-kerikil yang menunggu untuk dihantam oleh kepalan tangan kita sendiri

“Jangan biarkan sebutir pasir retak dan pecah, ia akan menjadi debu.
Tetapi, biarlah pantai bergurat-gurat dibantai angin dan gelombang. Ia akan tetap pantai…”

Begitu Sutardji Calzoum Bachri pernah berpetuah, tentang seorang penyair yang kesal karena arti dari puisi yang ditulisnya berubah: gara-gara huruf yang salah cetak.

“Engkau menulis untuk sesuatu salah cetak…” begitu Bapak Sutardji melanjutkan.

Menulis untuk salah cetak kehidupan
Menulis karena adanya kemiskinan, pengkhianatan, kesedihan, ketidakadilan…

“Kalau itu adalah karya besar, ia tetap saja karya besar
walau telah dibikin salah cetak, bahkan oleh waktu…”
Begitu Bapak Sutardji kembali mengingatkan
Ya, Bapak… seperti sehampar pasir
yang akan tetap menjadi pantai… begitu bukan?

“Biarlah pantai bergurat-gurat dibantai angin dan gelombang.
Ia akan tetap pantai…”

Maka persahabatan
atau persaudaraan, begitu aku lebih suka menyebutnya
adalah maha karya dari Sang Pencipta
Untuk Kita
Ia akan tetap maha
Ia selalu jadi mega
Meski rintik-rintik hujan sering menutupinya

Maka kenapa kita tidak menari saja
diiringi lagu Melly Goeslaw juga tidak apa
seperti Cinta dan teman-temannya,
di layar lebar yang entah kenapa judulnya: menanyakan kabarnya

Atau mari kita duduk saja
melingkar sambil mendengar dawai gitar dipetik
menyimak bebait puisi dari Rako Prijanto dialun
seperti yang dilakukan Cinta
kepada teman-temannya:

“Ketika tunas ini tumbuh
serupa tubuh yang mengakar
setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur dan emosi
bersatu dalam jubah terpautan
tangan kita terikat
lidah kita menyatu
maka apa terucap adalah sabda pendita ratu
Ahh.. di luar itu pasir di luar itu debu
hanya angin meniup saja
lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
menari cuma kita yang tau
Jiwa ini tandu

maka duduk saja
maka akan kita bawa
semua
karena…
kita..
adalah…
SATU”

Aku ingin memandang kita
Aku ingin menjelma pantai di pinggir samudera
Aku ingin menjadi CINTA

301012
23.03

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi. Tinggal di Depok. An Englishlam buff to-be.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan