Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kita Adalah Pemuda

Kita Adalah Pemuda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar, sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk (Al Kahfi: 13)

Indonesia membutuhkan banyak pemuda-pemudi yang siap untuk membangun negeri dan umat. Memiliki idealisme, pemikiran yang jernih, dan khazanah yang tinggi sehingga tidak mudah untuk dirusak pemikirannya dengan pemikiran-pemikiran seperti liberal, kapitalisme dan isme isme lainnya.

Yang dibutuhkan oleh umat ini bukan hanya pemuda yang cerdas, namun juga mereka peduli dan bersedia bekerja dan mewakafkan dirinya untuk kesejahteraan rakyat dan umat. Tidak cukup satu atau dua pemuda saja, akan tetapi umat ini membutuhkan banyak pemuda dan pemudi untuk mengisi pos kepemimpinan negeri dalam membangun peradaban yang madani dan sejahtera.

Kita tengok sejarah, rata-rata pada saat zaman Rasulullah SAW, beliau hidup bersama di kalangan para pemuda. Rasulullah SAW menjadikan para pemuda sebagai kunci kemenangan dakwah, karena saat itu pula para pemuda lah yang menjadi tonggak kekuatan dalam membantu perjuangan untuk menegakkan panji Islam.

Hasan Al-Banna pernah mengatakan “mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok”. Wajah negeri dan umat ini ialah bagaimana dengan wajah pemudanya saat ini. Karena pemuda merupakan wajah yang akan membawa negeri dan memperjuangkan umat hingga pada kejayaannya kembali. Pemuda juga yang akan menggantikan kepemimpinan yang tak lama akan berlalu. Maka tangan-tangan para pemuda harus tetap menggenggam idealism dan bara perjuangan agar negeri ini tidak menjadi longgar dan banyak penyelewengan. Bermimpilah para pemuda, bermimpilah untuk membawa dan memformat akan seperti apakah wajah negeri kelak. Akan tetapi bukan hanya sekadar mimpi sesaat, namun kita realisasikan dengan benar-benar, diperjuangkan dan terus diupayakan.

Pemuda adalah energi besar untuk peradaban. Jika Soekarno mengatakan “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia dan akan aku geser gunung Semeru”, inilah ungkapan yang menunjukkan bahwa pemuda adalah kekuatan besar dalam membangun peradaban. Pemuda lah yang memiliki semangat juang dan idealisme yang kuat yang susah untuk dirobohkan. Al Fatih yang pernah membebaskan Konstantinopel setelah sangat lama Rasulullah katakan itu, dia adalah sosok pemuda yang memiliki kekuatan barisan, kekuatan pemikiran, kekuatan gerak, dan keluhuran iman. Sehingga Konstantinopel pun mampu untuk dibebaskan. Maka Al-Fatih dan pasukannya mendapat penghormatan sebagai panglima terbaik dan tentara terbaik sepanjang masa. Tentunya yang diharapkan negeri ini adalah pemuda-pemudi yang shalih dan shalihah, cerdas, siap untuk terus bergerak dan bekerja. Karena wajah umat ini hanya akan bisa dibawa oleh mereka orang-orang yang shalih. Inilah sosok yang Allah cintai. Bergerak dan bekerjalah karena Allah akan melihat kerja-kerja kita. Inilah sosok yang dicemburui para sahabat dahulu di hadapan Rasulullah SAW.

Sejarah Islam sudah banyak memperlihatkan sosok-sosok pemuda yang menjadi khazanah perubahan bagi umat. Mus’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, Ali, Khalid bin Walid, Salman Al-Farisi, abu Ubaidah, bilal bin Rabah, Shalahudin, Al-Fatih, dan umumnya adalah para pemuda. Maka bangkitlah para pemuda, karena negeri ini membutuhkan pemuda pemudi seperti Anda!!

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Ilustrasi. (10wallpaper.com)

Kepala LAPAN: Abaikan Pemikiran Bumi Datar (Flat Earth)