Home / Pemuda / Essay / Aku Menikah, di Jalan Dakwah

Aku Menikah, di Jalan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com – “Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab RA berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari dan wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapati apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Menilik satu hadits tentang niat ini menjadikan bekal luar biasa bagi makhluk yang bernama aktivis dakwah. Karena apa? Ya, karena tanggung jawabnya bakal lebih berat dibandingkan dengan muslim mukmin lainnya. Apapun yang menjadi sarana mereka untuk menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamin, jika niatannya bukan karena Allah dan Rasul-Nya, maka yang akan mereka dapatkan hanya sebatas apa yang menjadi kehendaknya. Pujian orang lain? Oh, kecil! Jabatan? Apalagi… Atau, ini nih yang lagi banyak dicari aktivis dakwah muda. Ekhemmm… pasangan hidup yang sempurna. Insya Allah dikasih juga ko. Tapi, ya… sebatas kebaikan dan kesempurnaan dunia saja. Wallahu a’lam untuk akhiratnya.

Ya! Pobhia nikah muda menjadi bincangan hangat di kampus yang menjadi awal perkenalan saya dengan dunia tarbiyah. Banyak faktor yang mungkin menjadi latar belakang. Harapan saya, semoga faktor-faktor syar’i-lah yang menjadi alasan. Tapi tak bisa dipungkiri, mungkin karena saking pengennya, segala hal menjadi sebuah hal yang pantas untuk menjadi permakluman. Model nikah aktivis dakwah kampus saat ini terbilang nyeleneh. Apalagi dengan model ‘memilih’nya para ikhwan dengan siapa dia hendak menikah. Atau model lain seperti janjian antar akhwat ikhwan yang saling lobi dulu tanpa nuwun sewu dengan sang murabbi.

Wah…jangan-jangan saya malah yang kuno ya? Jangan-jangan model seperti ini sudah tidak lagi nyeleneh. Hmm… Whatever lah. Saya hanya mengamati saja. Ternyata model nikah yang menurut saya nyeleneh itu dengan model nikah yang menurut saya masih dalam garis syar’i dan manhaji murni; beda banget lho. Mereka yang beranggapan bahwa ‘Di Jalan Dakwah Aku Menikah ‘ini terlihat begitu damai gambaran rumah tangganya. Mereka dikaruniai anak-anak yang mudah diatasi, keuangan yang selalu cukup, atau kemudahan-kemudahan lain setelah menikah. Namun lain ternyata jalan hidup bagi mereka yang beranggapan bahwa ‘Aku Menikah di Jalan Dakwah’. Baru saja menikah, sudah banyak ujian yang datang menghampiri rumah tangga mereka. Sampai-sampai imbasnya konsentrasi dakwah mereka menjadi menurun.

Jadi ingat pesan Pak Cah, pakar kerumahtanggaan islami ini. Beliau mengingatkan untuk meletakkan prosesi pernikahan dan kekeluargaan dalam kerangka dakwah, karena Islam telah memberi amanat kepada kita untuk menunaikan pekerjaan kenabian yang satu ini, dakwah ilallah.

Ya, semoga dengan renungan hadits pertama tentang niat ini menjadikan aktivis muda yang sudah ingin menggenapkan separuh diinnya, tidaklah menjadikan ketidaksabaran sebagai alasan untuk berhak memilih pasangan hidup kita. Jadikan pilihan hidup kita tetap karena Allah dan Rasul-Nya dengan siapa dan kapan pun kita dipertemukan dengan jodoh kita.

Jangan sampai setelah menikah, menjadikan diri dan keluarganya tidak dapat berkontribusi lebih untuk dakwah ini. Hanya karena jawaban Allah atas ketidaksabaran kita.

Kembali menjadi renungan dalam-dalam. Apakah kita-para aktivis dakwah muda-hanya menjadikan dakwah sebagai sarana kita untuk menghendaki pasangan yang menurut kita sempurna, atau memang menjadikan dakwah sebagai sarana hijrah kita karena Allah dan Rasul-Nya? Maka jawab dengan jujur kata hati kita ini…

Salah seorang ummahat berkata kepada saya, “Berkonsentrasilah kepada perintah. Maka segala apa yang menjadi keputusanmu tidak keluar dari perintah itu sendiri. Sadar atau tidak kau sadari.”

Wallahu a’lam bisshawab…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Suka membaca dan menulis. Pernah mengirim tulisan di majalah Tarbawi. Selain itu juga suka dengan dunia anak-anak. Selain menjadi seorang guru, penulis juga menjadi pembina Osis dan staf Humas di sekolahnya.

Lihat Juga

Tolak Pacaran, Vitalia Sesha Ingin Langsung Taaruf dan Menikah