Home / Pemuda / Essay / Tawadhu Teknologi

Tawadhu Teknologi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Suatu hari Einstein sedang duduk di atas sebuah kursi di Kantor Paten Swiss di Bern, yang merupakan sebuah ruang tempatnya bekerja sebagai pegawai paten. Saat itulah sebuah ide cemerlang melintas di benaknya. “Seseorang yang jatuh bebas tidak akan mengetahui berat badannya.”

Artinya, jika saat itu ia beserta seluruh ruangan jatuh dari ketinggian tak terhingga menuju suatu titik tak hingga pula, maka ia akan merasa tidak memiliki bobot, karena seluruh tubuhnya akan melayang, begitu pula kursi, meja, kertas, pulpen gelas. Karena seluruh benda di ruangan itu dalam keadaan jatuh bebas. Kondisinya akan persis seperti seorang astronot dalam sebuah pesawat luar angkasa.

Ide sederhana ini memberi Einstein pemikiran yang mendalam. Emosi liar yang melandanya saat itu mendorongnya ke arah teori gravitasi dan akhirnya membuatnya tak ketulungan menjadi ilmuwan besar. Tak tanggung-tanggung, dua postulat diajukannya dan jadilah Relativitas Einstein suatu argumen yang belum bisa dibantah.

Begitu simpel, begitu remeh, namun itulah yang terjadi. Memang ini hanya ilustrasi yang disederhanakan, namun ada pelajaran besar di sana: Bahwa pemikiran singkat dan sederhana, andai saja diolah dengan lebih dalam akan menjadi suatu hal yang besar. Mungkin itu di kepala Newton, kepala Einstein, kepala Galileo, atau juga di kepala kita? Namun memang kadang itu tak terjadi. Kita lebih memilih berfikir sederhana dan mengungkapkan hal biasa sambil berlindung di balik jubah tawadhu dan rendah hati. Dan akhirnya jadilah kita manusia-manusia sangat sederhana yang benar-benar kelewat tawadhu.

Masalah umat Islam hari ini dalam hal tawadhu‘ teknologi adalah sangat akut. Ia kalah oleh pemikiran-pemikiran besar para pendahulunya, yang dulu menguasai dunia dengan ilmu. Justru sekarang kita yang menjadi badut, atau penonton pasif. Dunia bergejolak dengan keilmuannya yang meramaikan sains & teknologi, dan akhirnya menjadi percaya diri untuk sekadar membuat nuklir dan mengancam Palestina dengan rudal balistik. Ah, betapa tawadhu itu ternyata membawa keburukan. Bagi saudara-saudara kita.

Tapi itulah yang terjadi hari ini. Maka berbicara teknologi, dengan konteks keislaman dan kondisi umat, sesungguhnya adalah bukan bicara sesuatu yang jauh di awang-awang. Namun merupakan langkah nyata perwujudan syariah dan pelembagaan ilmu yang merupakan inti kebudayaan Islam itu sendiri. Merupakan satu langkah yang tak hanya bisa dikatakan nanti saja, namun sesuatu yang harus juga dipersiapkan, direncanakan, dan dibuat menjadi nyata, kapan tepatnya Islam akan menguasai teknologi dunia?

Ini pertanyaan yang harus kita jawab, dengan langkah nyata dan program yang jelas. Bukan dengan janji-janji dan retorika saja. Lebih tepatnya ini menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh orang-orang yang mengaku Islam dan memiliki kemampuan untuk mengejar ketertinggalan teknologi itu. Atau bagi mereka yang bisa dan mampu belajar. Siapa saja. Bukankah memang menuntut ilmu itu wajib dan tuntunan mendasar agama?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ashif Aminulloh
Mahasiswa Master of Semiconductor Technology di Asia University Taiwan. Penggiat Forum Lingkar Pena Taiwan dan Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan.

Lihat Juga

Dakwah, Belajar, Bekerja : Berusaha Menjadi Umat Terbaik