04:02 - Jumat, 19 Desember 2014

Guru Bagi Anak-Anak yang Mulia

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Duta Grafika, SAg. - 01/11/12 | 08:30 | 15 Dhul-Hijjah 1433 H

Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.com - Allah SWT telah mengajarkan kepada manusia pertama yaitu Nabi Adam as, nama benda-benda yang ada di alam semesta. Prosesi pengajaran tersebut merupakan pembelajaran bagi kita untuk meniru bagaimana cara Allah SWT menciptakan sebuah sistem belajar mengajar. Di mana Allah SWT berperan sebagai Maha Guru yang memiliki sifat sumber kebenaran dan Kebenaran itu sendiri yaitu Allah Yang Maha Benar dan apa yang difirmankan-Nya juga pasti benar. Demikian pula seluruh manusia sesungguhnya telah dididik oleh Allah SWT dengan perantaraan kalam tentang segala pengetahuan yang ada di alam semesta dan semua yang diajarkan kepada manusia adalah kebenaran. Dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir. Sampai saat sekarang pun Allah SWT terus mendidik kita tiada henti.

Jika melihat bagaimana cara Allah mengajarkan kepada Nabi Adam as dan kita semua hingga saat ini, maka kita bisa meniru dan menerapkannya dalam sistem pendidikan kita. Di mana aspek utama yang akan kita bidik adalah sosok sang pendidik. Pendidik yang kita kenal sebagai Guru adalah seseorang yang memiliki kompetensi untuk mentransfer ilmu dari Yang Maha Benar kepada siswanya untuk mengamalkan kebenaran agar kebenaran dari Al Haq menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.

Figur guru inilah yang akan kita bedah, sejauh mana kualifikasi dan kompetensi para guru dalam mentransfer nilai-nilai kebenaran ilmu pengetahuan untuk mendidik siswanya dengan metode yang dicontohkan oleh Yang Maha Benar agar para siswa menjadi manusia-manusia yang memenuhi standar penciptaan yaitu sebagai khalifah Allah di bumi (QS. 2: 28). Inilah sesungguhnya yang menjadi dasar dari falsafah pendidikan Islam bahwa sebanyak apapun ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa semuanya akan bermuara kepada tujuan penciptaan manusia yaitu menjadi Khalifah fil Ardl.

Mengapa yang kita bidik adalah sosok sang guru? Karena guru berperan sangat penting dalam men-shibghah (mensetting) murid-muridnya. Sebagaimana Allah SWT men-shibghah manusia pertama yaitu Nabi Adam as. Guru sangat berperan dalam membuat Grand-Desain sistem pendidikan yang akan dicapai.  Guru-lah yang mendesain metode pembelajaran secara kompatibel. Guru-lah yang mentransfer nilai dasar ilmu pengetahuan sesuai nilai kebenaran yang diajarkan oleh Yang Maha Benar. Guru-lah yang mengawal para muridnya menjadi pribadi berkarakter. Pribadi masa depan yang akan memimpin bangsa dalam berbagai bidang sesuai kompetensinya masing-masing. Guru-lah yang sesungguhnya terus menerus mendidik murid-muridnya. Sebagaimana Allah SWT yang selalu mendidik manusia tanpa batas.

Karena alasan itulah kita melihat bahwa sesungguhnya peran guru sangat penting. Beruntunglah bagi para guru yang sangat menyadari perannya. Betapa banyak kebaikan yang bisa dipetik oleh para guru ketika melihat para muridnya tumbuh menjadi manusia sukses, pribadi-pribadi yang mulia dan berkarakter baik. Merekalah yang akan mengubah dunia ini menjadi apa yang dikehendaki Allah SWT. Dunia saat ini membutuhkan manusia-manusia berkarakter yaitu manusia Tauhid. Membumikan ayat-ayat Allah SWT. Mengelola dunia sesuai dengan yang diinginkan Allah SWT yaitu kehidupan yang mulia dan memuliakan.

Untuk memulai semua itu, marilah kita ikuti tahapan yang telah diajarkan oleh Allah SWT, di mana ending point-nya adalah mendidik manusia menjadi khalifah fil ardh (Khalifah Allah di bumi).

Pertama, Berusahalah menjadi guru yang memegang sumpah dan janji kepada Allah SWT dalam awal penciptaan manusia yaitu bersaksi bahwa Allah SWT adalah Rabb manusia yang senantiasa mendidik manusia dengan Rahmat-Nya. Fokuslah bahwa apa yang dilakukan guru kepada para muridnya adalah bertujuan untuk mendidik dengan penuh kasih sayang agar para muridnya menjadi orang-orang yang selalu berkasih sayang kepada sesamanya.

            Kedua, Berusahalah menjadi guru yang selalu taat kepada Allah SWT, sebagaimana tujuan diciptakan manusia adalah untuk menyembah Allah SWT. Dalam logika yang sederhana diungkapkan, jika guru taat kepada Allah SWT, maka insya Allah para muridnya juga akan taat kepada guru. Karena guru senantiasa mengajak para muridnya untuk belajar dan belajar adalah perintah Allah SWT. Sehingga ketika murid-muridnya tekun belajar sesungguhnya mereka patuh dan taat kepada Allah SWT. Belajar adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu patuhlah kepada Allah, niscaya para murid akan patuh kepada guru.

Ketiga, Berusahalah menjadi guru yang ikhlas dalam menyampaikan ilmu. Tempat bersemayamnya ikhlas adalah di hati. Oleh karena itu sampaikanlah nilai kebenaran ilmu pengetahuan dari ketulusan hati. Ikhlaslah dalam mendidik, sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada Rasulullah SAW untuk membaca (Iqra’) dengan ikhlas. Mulailah setiap mengajar dengan selalu menyebut asma Allah untuk membuka pintu-pintu rahmat Allah. Niscaya para murid akan menerima pelajaran dengan ikhlas dan akan senantiasa mengharap rahmat-nya. Keberhasilan utama seorang guru tidak hanya ketika para muridnya mendapat nilai yang baik saja (secara kuantitatif) tetapi juga ketika melihat muridnya tumbuh menjadi pribadi yang ikhlas dalam belajar dan mengamalkan pengetahuannya.

Keempat, Berusahalah menjadi guru untuk bisa tampil sebagai teladan utama bagi para muridnya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk menjadi uswatun hasanah bagi mereka yang mengharap rahmat Allah SWT. Sungguh, guru merupakan sosok yang selalu dilihat oleh para muridnya. Dalam bertutur kata dan bersikap serta dalam berbagai aktivitas lain sehari-hari. Seorang guru hendaklah tidak hanya memberi contoh tetapi jadilah contoh bagi kebaikan dan kemuliaan hidup. Jika guru bisa menjadi teladan utama bagi muridnya, maka lihatlah para murid akan tumbuh menjadi manusia-manusia teladan bagi generasinya masing-masing. Di sinilah sesungguhnya keberhasilan seorang guru yang terus menerus menjadikan kehidupan selalu baru dan terbarukan. Bersabarlah untuk menjadi teladan. Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan kepada kita tentang kesabaran, tetapi Allah SWT tidak pernah mengajarkan kepada kita tentang batas kesabaran. Oleh karena itu tetaplah sabar sampai kapan pun dan mohonlah kepada-Nya agar Allah SWT selalu bersama kita dalam menjalani kesabaran.

Kelima, Berusahalah menjadi guru yang baik bagi diri sendiri. Sebagaimana Allah SWT mengingatkan kepada kita bahwa sesungguhnya jika melakukan kebaikan, maka kebaikan itu adalah untuk diri kita sendiri. Demikian pula seorang guru yang berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan kepada muridnya tentunya merupakan pribadi yang bisa memimpin dirinya menjadi diri yang baik. Seluruh perangkat anggota jasmani dan ruhani difungsikan untuk hal-hal yang baik. Pandangan matanya selalu melihat kebaikan, selalu berpikir yang baik, setiap langkah kakinya akan diarahkan menuju tempat-tempat yang baik. Singkatnya, seorang guru mampu mendidik jiwa dan raganya untuk melakukan kebaikan. Karena tubuhnya diibaratkan sebuah sistem di mana Hati adalah guru, sedangkan anggota tubuh yang lain adalah muridnya, maka jika hati baik maka baiklah seluruh perbuatan anggota tubuh lainnya, tetapi jika hati buruk maka buruklah seluruh perbuatan anggota tubuh lainnya. Oleh karena itu jadilah guru yang hatinya selalu baik, niscaya akan terlahir murid-murid yang hatinya baik. Hati yang baik akan melahirkan perbuatan baik.

Karakteristik guru tersebut tentunya bukanlah harapan satu-satunya untuk keberhasilan pendidikan, tetapi dengan beberapa kriteria tersebut diharapkan akan lahir para guru teladan yang akan memberikan segenap kompetensinya demi membangun pribadi-pribadi mulia di masa depan.

Bisa kita bayangkan betapa indahnya masa depan generasi anak-anak kita ketika mereka mendapatkan pendidikan dari para guru yang mulia dan berkarakter. Para murid yang dididik oleh guru yang mulia akan tumbuh menjadi generasi yang memuliakan kehidupan dan senantiasa setia pada kebenaran. Hal itu akan berbeda ketika para murid dididik oleh guru yang tercela, tentunya mereka akan tumbuh menjadi generasi yang merendahkan kehidupan dan memburukkan keadaan dan akan senantiasa membela kebathilan.

Oleh karena itu menghadirkan para guru teladan yang akan menjadi guru bagi kehidupan yang mulia bagi anak-anak kita menjadi sangat penting untuk memperbaiki kualitas generasi masa depan anak-anak kita.

Marilah kita semua berkomitmen dan fokus untuk membangun pendidikan yang kokoh dengan menegakkan pilar kebenaran dari Yang Maha Benar. Menghadirkan Guru yang mulia dan memuliakan anak-anak didiknya. Insya Allah, kita melihat anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi mulia yang memuliakan kehidupan. Pribadi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Generasi RAHMATAN LIL’AALAMIIN.

Semoga Allah SWT menghadirkan para guru yang mulia untuk melahirkan peradaban Islam, peradaban yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam. Amin yaa robbal’aalamiin.

Tentang Duta Grafika, SAg.

Kepala KUA Kecamatan Gajahmungkur. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (8 orang menilai, rata-rata: 9,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • dika

    wah, syukron atas artikelnya.
    sangat bermanfaat bagi saya yang calon guru ini.

Iklan negatif? Laporkan!
122 queries in 2,570 seconds.