Home / Pemuda / Cerpen / Kekuatan Sebuah Mimpi

Kekuatan Sebuah Mimpi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.comSemuanya berawal dari sebuah mimpi. Mimpi yang selalu menjadi bahan bakar perjalananku, penguat di kala lemah, dan penghibur tatkala diri harus berurai air mata. Mimpi yang telah 2 tahun aku tanam, akhirnya pada waktu itu benar-benar menjadi kenyataan.

Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMA, bertempat tinggal di sebuah asrama sekolah yang begitu damai. Kedamaian itu semakin terasa ketika setiap hari ahad, kami penghuni asrama yang berjumlah sekitar 30 orang itu bersama-sama menyaksikan sebuah acara penyejuk qolbu yang disiarkan di TPI. Acara itu berlangsung dari jam satu siang hingga jam tiga sore. Sebuah acara yang disampaikan oleh dai sejuk untuk masyarakat majemuk. Seorang dai yang taushiyahnya mampu mengguncangkan jiwaku, mengurai dosa-dosa yang ku tutupi, dan membuncahkan sebuah mimpi di dalam sanubariku yang terdalam. “Suatu saat aku harus pergi ke pesantren dai itu, menggali ilmu lebih banyak darinya, tidak hanya lewat layar kaca tapi harus benar-benar secara langsung menghadapnya.” Bisikan itulah yang selalu menguatkan tekadku, meyakinkan diri bahwa mimpi itu akan benar-benar menjadi kenyataan.

Kini aku menjadi mahasiswi di sebuah sekolah tinggi ternama di kotaku. Hari-hariku selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus. Sebagai mahasiswi baru yang haus akan pengalaman aku pun mengikuti berbagai kegiatan kampus yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa senior. Atas izin Allah saat aku mengikuti kegiatan yang diadakan oleh ta’mir masjid kampus, aku pun berkenalan dengan mahasiswi senior yang sempat nyantri di pesantren impian. Bagaikan orang yang baru mendapat sebuah berlian, aku pun sangat antusias bertanya ini itu tentang pesantren impianku. Mulai dari program-programnya, biayanya, dan jalan mana yang harus ku tempuh saat aku ingin pergi ke sana. Alhamdulillah berkat kesabaran kakak kelasku itu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaanku yang tiada habisnya, aku pun banyak mendapat informasi mengenai pesantren impianku itu. Hari demi hari ku sisihkan uang sakuku agar saat liburan semester gasal nanti aku benar-benar bisa pergi ka sana. Agar tabunganku cepat bertambah aku pun rela bekerja paruh waktu di sebuah toko sepulang dari kuliah. Tekadku benar-benar telah bulat, dan pesantren impian itu seakan sudah berada di depan mataku. Ya Allah semoga Engkau memudahkan langkahku….

Saat yang dinanti-nanti itupun akhirnya tiba. Saat liburan semester gasal aku benar-benar bertekad untuk pergi ke pesantren impian. Uang tabunganku sudah lebih dari cukup kini tinggal meminta doa restu dari orang tua. Saat ku sampaikan keinginanku, mereka pun awalnya ragu untuk memberiku izin. Karena ini untuk pertama kalinya aku pergi jauh seorang diri di tempat yang sama sekali belum ku jamah sebelumnya. Tapi setelah ku yakinkan sepasang bidadariku itu, bahwa aku pergi untuk menuntut ilmu, dan Insya Allah, Allah akan menjagaku, memudahkan langkah hamba yang berjalan guna mencari ilmu, Alhamdulillah akhirnya mereka mengizinkan, bahkan membawakanku bekal seadanya. Ya, karena langkah inilah yang akan memudahkan seorang hamba menggapai surga-Nya dan gugur dalam perjalanan ini akan ternilai sebagai syahid di hadapan-Nya.

Pukul 17.00 kereta yang ku tumpangi mulai bergerak menuju daerah-daerah transitnya, yang salah satunya adalah kota Bandung tempat pesantren impianku berada. Sengaja aku memilih kereta malam hari agar aku sampai tempat tujuan pada waktu siang hari. Sehingga apabila nanti merasa kebingungan saat mencari lokasi pesantren impian tidak terlalu merasa panik ataupun ketakutan.

Pukul 08.00, kereta yang ku tumpangi telah tiba di sebuah stasiun. Ketika ku tanya pada Mbak Iis yang duduk di sampingku, beliau mengatakan bahwa kereta telah sampai di stasiun kiara condong yang ada di kota Bandung. Sebagian besar penumpang dari stasiun Madiun dan kota-kota sekitarnya turun di stasiun ini. Dalam hati aku merasa gelisah dan sangat panik, takut bila salah alamat. Tapi aku berusaha bersikap setenang mungkin sambil berfikir jernih mencari solusi. Ku coba mengirim sebuah sms kepada contact person pesantren impian putri. Tapi jawabannya sama sekali tak nyambung bahkan membuatku semakin bingung. Ku coba meneleponnya, walaupun biayanya mahal tapi tak apalah asalkan aku tidak tersesat. Nomornya nyambung tapi tak diangkat, ku coba hingga beberapa kali tapi tetap juga tak diangkat. Aku semakin bertambah panik, tapi aku terus berusaha untuk bersikap tenang dan mencoba berfikir jernih. Sebelum kereta ini benar-benar berjalan kembali meninggalkan kiara condong aku harus segera mendapatkan jawaban yang benar-benar valid. Ya selain menyimpan nomor CP putri aku juga menyimpan nomor CP putra. Tanpa banyak pikir langsung saja aku meneleponnya. Menghilangkan segenap rasa gengsi dan maluku. Alhamdulillah nomornya nyambung dan diangkat.

“Assalamu’alaikum, benar ini dengan saudara Ali, CP pondok Ramadhan di pesantren impian?” sapaku tak sabaran.

“Wa’alaikumsalam, ya benar ini dengan siapa?” jawab suara dari ujung sana.

“Begini Pak, saya dari Madiun ingin ke pesantren impian tapi bingung turun di stasiun mana? Saat ini saya sudah berada di stasiun kiara condong.”

“Oo… turun saja di stasiun Bandung Buk….”

“Stasiun Bandung itu yang mana Pak? Ini kan juga sudah sampai kota Bandung?”

“Stasiun setelah kiara condong, namanya stasiun Bandung.”

“Oh begitu, ya udah Pak terima kasih…, Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikum salam….”

Lega rasanya, ternyata aku tidak tersesat. Kusaksikan para penumpang di samping kanan dan kiriku, juga di bagian depan dan belakang. Tempat duduk telah banyak yang kosong, para penumpang telah banyak yang turun. Suasana di kereta pun mulai lenggang tidak berjubel seperti semalam, hingga banyak penumpang yang rela berdiri selama berjam-jam. Para pedagang yang semula lalu lalang pun juga mulai sepi. Hanya ada beberapa pemulung yang mendesak naik ke atas kereta untuk memungut botol-botol plastik bekas di bawah kolong-kolong kursi para penumpang.

Beberapa menit kemudian kereta pun berhenti. Ku baca sebuah tulisan besar di tempat itu. “Stasiun Bandung” Alhamdulillah…. aku benar-benar bisa sampai di kota pesantren impian. Tepat setelah ini aku harus mencari angkot yang menuju ke arah kampus UPI. Tapi lagi-lagi aku bingung, di mana aku harus menanti angkota itu. Aku baru sadar setelah turun dari kereta aku sama sekali tidak tahu arah. Sedangkan kanan kiri ku lihat masih lokasi stasiun yang luas. Ku yakinkan diriku sendiri, aku tidak boleh panik, tidak boleh terlihat seperti orang bingung, aku pasti bisa menemukan angkota itu. Begitu aku mengetahui ada seorang bapak-bapak yang juga turun di stasiun itu, aku langsung mensejajari langkahnya.

“Maaf Pak, tahu angkota yang menuju kampus UPI?”

“Biasanya pangkalan angkot itu di sana Mbak, Coba nanti saya carikan.” Kata Bapak itu ramah sambil terus berjalan.

“Oh terima kasih Pak,” kataku sambil terus mengikuti langkah Bapak itu.

“Mbak aslinya mana? Mau kuliah di UPI?” tanya Bapak itu.

“Saya dari Madiun Pak, mau ikut pesantren kilat di sebuah pesantren dekat UPI. Bapak sendiri aslinya mana?”

“Saya dari tasik, di sini mau kerja Mbak. Oh ya tadi nama angkotanya apa?” tanya Bapak itu ketika sudah sampai di tepi jalan raya.

“Wah namanya nggak tau Pak. Pokoknya jurusan ke kampus UPI dan berwarna krem.” Jawabku sambil mencoba mengingat keterangan dari kakak kelasku.

“Oh itu mungkin Mbak.” Kata Bapak itu sambil menunjuk sebuah angkota yang sedang berhenti di lampu merah.”

“Iya mungkin Pak.” Kataku sambil bersorak senang.

“Bang ke arah UPI?” tanya Bapak itu kepada sopir angkota.

“Iya Bang, ayo Neng, naik Neng…,” jawab sopir angkot itu sambil mencari penumpang.

Saking gembiranya aku langsung berlari masuk ke dalam angkot dan lupa belum mengucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah menolongku. Maka ketika aku sadar aku pun langsung berteriak kepada Bapak yang baik hati itu.

“Pak… terima kasih….” teriakku ketika sudah berada di dalam angkot.

Aku pun hanya melihat Bapak itu melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum lebar.

Aku pun membalas senyumnya, sembari mendoakan semoga kebaikannya di balas oleh Allah Swt.

Di sepanjang perjalanan, ku saksikan kanan kiri jalan, sambil menunggu detik-detik pertemuanku dengan pesantren impian. Pak sopir tak henti-hentinya menyapa orang yang berdiri di tepi jalan, untuk menanyakan arah tujuan mereka.

“Ya Allah mimpi itu selangkah lagi akan menjadi kenyataan. Semoga semua ini berjalan seiring dengan ridha-Mu. Dan Engkau mencatatnya sebagai amal shalih yang akan menjadi pemberat catatan amal kebaikanku kelak.” Munajatku dalam hati.

Ketika sibuk menikmati indahnya kota Bandung dan membayangkan pesantren impian, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah plang yang bertuliskan. “Daarut Tauhid 200 M.” “Hah benarkah aku telah sampai?” teriakku dalam hati.

“Maaf Pak ini sudah sampai gang panorama?” tanyaku tak sabar kepada sopir angkot.

“Oh iya Neng, ini sudah sampai.” Kata sopir angkot itu menjelaskan.

“Baik Pak, saya turun sini saja. Terima kasih Pak.” Kataku sambil menyerahkan 1 lembar uang 5 ribuan kepada sopir angkot itu.

“Ya Allah aku benar-benar sampai….” Teriakku dalam hati.

Ketika ada seorang gadis remaja yang juga sedang berjalan, langsung saja ku sejajari langkahnya.

“Maaf Mbak pesantren impian itu masih jauh ya?” tanyaku sambil menyapa.

“Oh nggak kok Teh, mungkin sepuluh menit lagi sudah sampai.” Kata gadis itu sambil tersenyum dan memanggilku dengan panggilan khas kota Bandung.

“Oh begitu ya, Mbak kuliah?”

“Iya, Teteh sendiri datang dari mana?”

“Saya dari Madiun, ingin mengisi liburan dengan ikut pesantren kilat di pesantren impian.”

“Oh begitu, maaf Teh saya harus belok. Teteh lurus aja nanti ada tulisannya kok.”

“Oh iya terima kasih banyak Mbak….”

“Sama-sama semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat. Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikum salam….” balasku sambil menjabat tangan Mbak itu erat.

Beberapa menit kemudian ku saksikan bangunan-bangunan megah yang bertuliskan nama pesantren impian. Bangunan-bangunan itu adalah beberapa usaha milik pesantren Impian. Tak bisa diungkapkan betapa bahagianya hatiku saat itu. Ya Allah aku benar-benar telah sampai pesantren impianku semoga ilmuku bermanfaat. Begitu sampai di masjid pesantren aku pun langsung bersujud. Dan tanpa ku sadari orang yang berada di sampingku adalah istri dari dai yang selama ini ku kagumi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Safira Rahima
Safira Rahima adalah nama pena dari Santy Nur Fajarviana. Ingin selalu menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan yang tak ada batas usianya ini. Pernah mendapat juara harapan 2 lomba menulis novel tingkat nasional juga juara 3 lomba menulis artikel tingkat provinsi. Saat ini ia sedang berjuang menggapai mimpinya untuk menjadi penulis best seller dan bercita-cita mendirikan sekolah menulis di kota kelahirannya, Madiun.

Lihat Juga

Banjir darah di kota Dhaka Bangladesh akibat buruknya sistem drainase, pasca pemotongan hewan Qurban yang diiringi dengan hujan (14/9/2016). (indiatimes.com)

Beberapa Ruas Jalan di Bangladesh Banjir Darah

Organization