Bintang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul : Bintang
Penulis : Win R.G
Penerbit : Format Publishing – Medan
Cetakan : II; 2011
Tebal : 254 Halaman
ISBN : 978-602-97084-9-3

Cover buku “Bintang”.

dakwatuna.com  – Hidup memang bermula dari mimpi. Siapapun, apapun yang diimpikan. Kehidupan kita yang sekarang ini, adalah hasil dari mimpi-mimpi orang tua kita. Begitupun, setelah sukses, ataupun gagal. Semuanya merupakan buah dari apa yang kita impikan. Hal ini pulalah yang menjadi tafsir dari sebuah ayat langit, “Bahwa Allah tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, selama kaum tersebut tidak mengubah dirinya sendiri.”

Hal inilah yang hendak diungkap oleh calon penulis nasional asal Tanah Deli, Win RG. Penulis yang besar di Forum Lingkar Pena ini dengan cerdik membuat sebuah novel perdana dari Triloginya yang berjudul Bintang. Merupakan sebuah kombinasi dari kesederhanaan dan idealisme yang melangit.

Bintang yang ndeso itu berhasil diciptakan secara konyol namun bercita-cita global. Bermula dari bocah kecil yang punya hobi aneh, khas anak desa. Ia yang cewek itu tak segan-segan bermain lumpur di sawah, memanjat pohon, bermain dengan teman-temannya yang cowok, juga sesekali menunggangi kerbau yang digembalakan oleh kakangnya, Iwan.

Dalam novel yang menggunakan alur cepat ini, Bintang berhasil dipotret dengan detail hanya dalam 254 halaman. Sehingga kita tidak terlalu bosan dalam mengunyah lembar perlembarnya. Novel yang telah dua kali cetak ini menceritakan sebuah konflik yang tak biasa, yang dialami oleh tokoh utamanya, Bintang.

Konflik itu terjadi antara ia dengan ibunya yang super. Ia dan bapaknya yang jutek, sombong dan otoriter bahkan bersikap militer dalam mendidik anak-anaknya. Ia dengan kakaknya, Iwan, yang sering kali dizhalimi oleh ayahnya hanya karena sang kakak tidak pandai matematika. Padahal, kakaknya itu selalu bernilai 10 dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Bintang adalah seorang anak yang tak pernah lelah dalam menggapai mimpi. Uniknya, mimpi-mimpinya ini ditipkan kepada bintang-bintang di langit yang seringkali ia saksikan di belakang rumahnya bersama sang kakak. Ia juga seorang anak yang gila belajar dan juga gila mengajar. Sejak kecil, ia terbiasa mengumpulkan anak-anak tetangga untuk diajari aneka rupa pelajaran. Mulai pelajaran sekolah umum, hingga pelajaran agama. Hal inilah yang membuat bintang bercita-cita menjadi guru.

Yang menarik, sebagai seorang bocah yang bercita-cita sebagai guru, Bintang kecil sudah mempunyai grand design tentang dirinya kelak, ketika menjadi Pahlawan tanpa Tanda Jasa. Sehingga ia sering berkelakar dan berimajinasi. Tidak ingin menjadi seperti guru matematika yang galak, ingin meneruskan jejak guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelasnya yang pantang menyerah, baik hati, lembut dan pandai mendeklamasikan puisi. Juga, terkait nalurinya sebagai wanita normal. Yang naksir dengan guru-gurunya yang tampan secara fisik.

Bintang juga menceritakan tentang seorang gadis kecil yang bisa saja terjerumus lantaran pengaruh lingkungan. Hal ini sebagaimana dia alami ketika SMA. Setelah banyak karyanya dimuat di sejumlah media lokal Medan, banyak publik yang mengenalnya. Hingga para cowok-cowok penggombal yang senantiasa menjalankan aksinya. Jadilah Bintang berubah. Sinarnya perlahan redup. Prestasinya turun setengah tiang. Hingga akhirnya sang Ibu mengalami sakit lantaran Bintang yang diharapkan mulai melemah. Apalagi tetangga yang selalu menggosipinya. Bintang berpacaran dengan Andra. Salah satu anak band paling populer di kota Horas.

Lantaran penghakiman dari ayahnyalah, Bintang kembali benderang. Ia putuskan Andra sebagai pacarnya. Ia pun terbang tinggi bersama mimpi-mimpinya. Kuliah di Medan. Di sanalah ia menemukan dirinya yang sebenarnya. Bersama teman-teman di Lembaga Dakwah Kampus, ia berhasil mengasah potensinya hingga menggapai puncak. Prestasinya meroket, karyanya terus mengorbit. Tulisannya seringkali nampang di media, juga menjadi pembicara di berbagai forum diskusi di berbagai organisasi kampus, KAMMI misalnya.

Bintang yang telah mencapai puncak itu, setelah resmi bergelar sarjana, tetap memilih untuk mudik dan merawat kampungnya. Padahal, jika mau, ia bisa saja menetap di Medan dengan menjadi guru di sekolah favorit dengan gaji melangit. Atau, menerima beasiswa strata dua di pulau jawa. Namun, tekadnya baja. Dengan gagah ia pulang untuk menyinari desanya dari gelapnya kebodohan.

Sesampainya di kampung, Bintang disambut bak pahlawan oleh keluarga dan seluruh warga. Hingga akhirnya, ia akan dinikahkan dengan Si Arul. Teman main kang Iwan yang telah menjadi orang sukses sepulangnya kuliah di Kota Gudeg.

Namun, sebelum hari bahagia itu, Andra yang sempat menjadi pacar bintang kembali dimunculkan oleh penulis dalam bentuk yang lebih arogan.

Akankah bintang jadi menikah dengan Arul? Ataukah rencana pernikahannya akan batal lantaran makar yang dibuat oleh Andra? Bagaimana pula kehidupan keluarga dan desa setelah Bintang mengabdikan dirinya?

Silakan simak di buku kedua dari Trilogi Bintang, Biarkan Bintang Benderang!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Aksi bakar diri akibat frustasi hadapi hidup semakin sulit. (al-marsd.com)

Kebutuhan Hidup Semakin Mahal, Seorang Warga Mesir Frustasi Dan Membakar Diri