Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tapak Tilas Nabi Ibrahim (Bagian ke-1)

Tapak Tilas Nabi Ibrahim (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.  Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”. (QS. Al-kautsar: 1-2)

Berbicara tentang kurban, maka arah pembicaraannya tidak akan jauh dari tapak tilas nabi Ibrahim yaitu tentang pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang menyembelih anaknya yaitu nabi Ismail. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari tapak tilas nabi Ibrahim itu. Namun, sebelum kita mengambil pelajaran dari kisah nabi Ibrahim AS mari kita selami dulu bagaimana tapak tilas selama perjalanan hidup beliau hingga penyembelihan nabi Ismail.

Kehidupan Nabi Ibrahim AS

Siti Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik. Siti Sarah memiliki seorang pembantu yang bernama  Siti Hajar, mengetahui bahwa Ibrahim ingin sekali memiliki keturunan, sedangkan Siti Sarah tidak dapat memberikannya maka Siti Sarah meminta pembantunya yaitu Siti Hajar agar mau dinikahi oleh nabi Ibrahim dengan harapan Allah mengaruniakan dari padanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar dan lahirlah seorang anak dari Siti Hajar yaitu Ismail, kebahagiaan nabi Ibrahim meliputi harinya, sekian lama ia merindukan keturunan dan hari itu Allah menghendaki untuk ia mendapatkan keturunan.

Setelah Nabi Ismail lahir maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Siti Hajar dan anaknya ke Mekah. Dalam perjalanan Siti Hajar selalu bertanya kepada Nabi Ibrahim “mau ke manakah kita?” Sampai berulang kali. Ketika Siti Hajar menanyakan apakah ini perintah Allah? Maka Nabi Ibrahim pun menjawab “iya” maka Siti Hajar pun diam. Setelah sampai di tempat tujuan, Allah memerintahkan  Nabi Ibrahim untuk meninggalkannya, nabi Ibrahim kemudian berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).

Kembalinya Nabi Ibrahim

Setelah melalui perjalanan yang jauh, akhirnya Nabi Ibrahim sampailah ke rumahnya dan bertemu dengan Siti Sarah, istri nabi yang pertama, selang beberapa waktu setelah pulangnya Nabi Ibrahim ke rumahnya datanglah beberapa malaikat yang menyerupai manusia dan Nabi Ibrahim tidak mengenali identitasnya, dari mana ia dating dan untuk apa ia datang. Setelah saling memberi penghormatan dan menyampaikan salam antara Ibrahim AS dengan ketiga orang tersebut, nabi Ibrahim berdiri untuk memberikan jamuan sebagai penghormatan kepada tamu. Nabi Ibrahim segera membawa anak sapi yang gemuk kemudian menyembelihnya, menguliti dan membakarnya, kemudian disuguhkan kepada ketiga orang itu.

Akan tetapi tamu itu tidak mau memakan apa yang telah di sediakannya. Nabi Ibrahim dan Siti Sarah heran bercampur takut, karena ketakutannya maka ketiga orang itupun membuka identitas mereka. Akhirnya Ibrahim dan Siti Sarah tahu bahwa tamunya itu adalah malaikat yang datang memberikan kabar gembira kepada mereka tentang hamilnya Siti Sarah, dan Siti Sarah pun tersenyum mendengar kabar gembira yang disampaikan. Saat itu kondisi nabi Ibrahim dan Siti Sarah sudah cukup tua.

Kemudian Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud: 73).

Setelah mendengar itu maka Ibrahim dan Siti Sarahpun bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya.

Perjuangan Siti Hajar Membesarkan Ismail

Saat pertama kali dibawa Ibrahim AS dari Kan’aan menuju lembah yang gersang, sungguh, Siti hajar penuh dengan ketakutan. Sebab, suku Amaliqah yang suka berkemah saja, setelah beberapa hari bermukim di sana, tak pernah lagi ingin mengunjungi lembah tersebut lantaran susah mendapatkan air dan makanan ternak.

Saat tiba di lembah tersebut tampak sekali kegelisahan, kebingungan, dan ketakutan Siti Hajar, dan Nabi Ibrahim AS sangat memahaminya. Akan tetapi Siti Hajar memahami apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS adalah perintah Allah, maka ia menerimanya dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Dengan nada tegas Siti Hajar mengatakan saat Ibrahim AS ingin menaiki kendaraannya, “Jika memang begitu perintah-Nya, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Setelah kepergian Nabi Ibrahim as, Siti Hajar mulai merasuki kehidupan yang berbeda, yang hanya ditemani olah putranya Ismail as. Keesokan paginya, Siti Hajar terbangun karena tangis keras bayinya, Ismail as. Siti Hajar pun mulai panik dan bingung karena bayinya sangat lapar dan dahaga. Ia mengambil tempat air yang dibawanya, namun ternyata isinya sudah habis. Ia pun mulai mencari ke-sekeliling tempatnya bermukim. Dia pergi menuju bukit Shafa berharap ada sekelompok kafilah di sana, namun ternyata tidak ada.

Tiba-tiba dilihatnya kilauan air di lereng bukit Marwa, dikejarnya namun ternyata tidak ada. Ia melihat pula di bukit Shafa ada air, didatangi lembah bukit tersebut ternyata tidak ada juga air di sana. Ia berbolak balik antara Shafa dan Marwa hingga tujuh kali, meski sengatan matahari membakar wajahnya dan hamparan pasir membuat telapak kakinya berdarah-darah.

Di tengah harap dan putus asa, ia kembali menemui bayinya. Ketika dekat dengan anaknya, ia terkejut. Tadi Ismail AS menangis kenapa sekarang tenang? Ia tersentak kaget bercampur bahagia melihat air yang mengalir di bawah kaki bayinya. Air itu muncul bekas hentakan kaki bayinya saat menangis. Ia pun mencidukkan air tersebut dengan tangannya dan memberi minum bayinya. Ia pun tak henti-hentinya memuji Allah atas rahmat yang dianugerahkan kepadanya. Banyak keberkahan yang Allah turunkan di sana hingga sampai Nabi Ismail tumbuh dewasa.

Kisah Penyembelihan Nabi Ismail

Dengan tumbuhnya Nabi Ismail menjadi anak yang dewasa serta taat kepada orang tua, menjadikan Ibrahim dan Siti Hajar bahagia. Sampai suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. “wahai anakku Ismail sesungguhnya aku bermimpi, aku menyembelih Engkau”, kemudian Ismail menjawab “wahai ayahku sesungguhnya jika ini perintah Allah SWT maka lakukanlah” dan saat masing-masing sudah bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Dan akhirnya yang disembelih pada saat itu bukan Nabi Ismail melainkan seekor kambing yang besar dan peristiwa ini dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adha. Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Apriyadi
Lahir di Tangerang tahun 1991. Enam bersaudara. Saat ini kuliah di STEI SEBI tingkat akhir. Aktif di organisasi mahasiswa STEI sebi yait (Majelis Musyawarah Mahasiswa) yaitu badan tertinggi mahasiswa di STEI SEBI.

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November