18:23 - Minggu, 21 Desember 2014
Cahyadi Takariawan

Menjaga Gairah Cinta Malam Pertama

Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Cahyadi Takariawan - 29/10/12 | 08:30 | 13 Dhul-Hijjah 1433 H

Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com – Pernikahan adalah sebuah ikatan yang harus diniatkan untuk selamanya, sepanjang hayat dikandung badan. Tidak boleh ada pernikahan yang dibatasi oleh waktu tertentu, misalnya setahun atau sepuluh tahun, yang lazim disebut sebagai kawin kontrak. Karena ikatan ini akan terjadi “selamanya”, sepanjang usia hidup kita, maka ukuran waktunya menjadi tidak terbatas. Sesuai jatah umur kita masing-masing.

Pada pengantin baru, suasana cinta dan kasih sayang di antara suami dan istri sedemikian kuat dan hangat. Bahkan panas membara. Ada kehangatan cinta yang selalu menggelora dalam jiwa, selalu ingin berdua, dan tak mau berpisah lama. Ingat lagu lawas yang dinyanyikan bang Chrisye, “Malam Pertama”, bagaimana suasana kehangatan cinta kasih sepasang pengantin yang dimabuk asmara? Coba dengarkan kembali lantunan merdu lagunya:

Pagi yang cerah
Senyum di bibir merah
Dari balik jendela
Sinar mentari lembut menyapa

Kita berdua
Yang t’lah berpeluk mesra
Menikmati hangatnya
Suasana jiwa insan bercinta

Ku tidur di dalam pelukmu
Di antara rambut yang terurai
Dan degup di dada
Kudengar kurasa
Membisikkan kata bahagia

Pagi yang terang
Berlalu tanpa kata
Hanyut kita berdua
Dalam lamunan malam pertama

Ku tidur di dalam pelukmu
Menetes air mata bahagia
Kuberikan semua
Sepenuh jiwa
Diriku cintaku
Dan segalanya untukmu

Mendengar kembali lagu ini setelah dua puluh satu tahun menikah, saya kembali merasa merinding. Serasa sesak dada mengingat indahnya malam pertama. Ingin selalu merasakannya. Hah… Sudah berlalu dua puluh satu tahun, tapi degupnya masih bisa dipanggil kembali saat ini.

Sangat terasa detak-detak jantung yang berdegup kuat di malam pertama. Sebuah cinta yang menggelora, dahsyat luar biasa. Rasa memiliki, rasa mencintai, bercampur hasrat ingin menikmati, semua menjadi adonan yang membuat hangat bahkan panasnya cinta. Hari-hari pertama dalam kehidupan rumah tangga, menjadi momentum paling indah sepanjang hidup yang tidak akan terlupakan selamanya.

Namun seiring berjalannya waktu, perasaan cinta dan gairah yang sangat menggelora itu perlahan menjadi reda. Setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun hidup berkeluarga, semakin terasa hampa dan tidak lagi memiliki hasrat yang menyala. Di mana cinta yang dulu demikian kuat menggelora? Di mana rasa hangat dan berdegub-degub dada karena ingin selalu berdua? Semakin lama, rasa itu semakin tiada. Hidup menjadi biasa saja, hubungan suami istri sekadar kewajiban semata. Tidak lagi dinikmati sebagai pesta.

Bosan dan Jenuh Bisa Membunuh Cinta

Jika rasa bosan dan jenuh telah mendera, apalagi Anda mulai merasa lebih nyaman apabila sendiri, terpisah dari pasangan, maka inilah tanda yang amat kuat bahwa cinta dalam keluarga Anda mulai pudar. Anda telah mengalami kejenuhan hidup berumah tangga, karena digerus oleh kesibukan dan rutinitas. Anda lalai menjaga gairah cinta malam pertama, dan membiarkan semua berjalan apa adanya, tanpa upaya untuk menguatkan kehangatannya.

Lihat rumah tangga Budi dan Novi. Sesungguhnya rumah tangga mereka tampak bahagia dan tak ada kekurangan yang bisa dicela oleh orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat di dalamnya, yang terjadi sesungguhnya adalah sandiwara. Budi dan Novi berada dalam jarak psikologis yang sulit disatukan.

Masing-masing merasa tidak butuh dengan pasangannya. Novi asyik dengan kesibukannya mengurus Shinta dan Boby, dua anak yang mungil dan lucu. Shinta masuk kelas satu Sekolah Dasar, Boby mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini. Sementara itu Bagus sibuk dengan urusan bisnis yang amat menguras tenaga dan waktu, juga perhatiannya. Sesampai di rumah, kebutuhan Budi adalah istirahat, melepas lelah. Ia tidak ingin diganggu oleh istri dan ulah dua anaknya. Sementara itu, sebenarnya Novi ingin sekali berbagi cerita, ingin sekali dimanja dan mendapatkan perhatian sepenuhnya.

Namun karena keinginan Novi tidak pernah menjadi nyata, semakin lama ia percaya bahwa ia harus bisa memupus angan-angan indahnya berumah tangga. Ia harus melaksanakan semua kegiatannya sendiri. Ia menyelesaikan semua masalahnya sendiri, karena Budi tak mau mengerti. Ia mengelola dua anaknya sendiri, dan akhirnya ia pun menikmati hidup sebagai diri yang mandiri, kendatipun memiliki suami. Kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga masing-masing menikmati indahnya hidup sendiri.

Masing-masing merasakan kenyamanan dalam keadaan kesendirian, dan merasa tidak butuh lagi dengan kehadiran pasangan. Jika keadaan ini dipertahankan, kematian cinta akan sangat mudah didapatkan. Gairah cinta malam pertama semakin jauh dari harapan dan tinggal menjadi kenangan. Budi dan Novi akan semakin kesulitan untuk menjemput gairah cinta malam pertama yang dulu pernah mereka miliki dan pernah mereka nikmati. Kini, itu semua tinggal gambar di album kenangan pernikahan yang tetap tersimpan dan sangat jarang mereka buka kembali.

Kembalikan Gairah Malam Pertama

Hati-hati, gejala kejenuhan dan kebosanan hidup berumah tangga bisa menghinggapi siapa saja. Jangan sampai hal itu terjadi pada keluarga Anda. Kadang dengan alasan kesibukan, mengejar karier, mengejar target prestasi, mengejar posisi, kedudukan dan jabatan, keharmonisan keluarga rela ditelantarkan. Alih-alih mendapatkan apa yang dikejar, yang terjadi justru meredupkan cinta dalam keluarga, sementara karier dan kedudukan belum tentu bias didapatkan.

Apabila Anda mulai merasakan kenyamanan saat sendirian, dan bosan dengan pasangan, segeralah melakukan evaluasi dan mengambil tindakan darurat yang diperlukan. Raih kembali gairah cinta yang telah mulai beranjak meninggalkan hati dan perasaan Anda. Jika perasaan itu Anda biarkan saja bercokol dalam jiwa, gairah cinta malam pertama akan semakin menjauh dari keluarga Anda. Semakin sulit bagi Anda untuk mendapatkannya kembali.

Berhentilah sejenak dari rutinitas. Ambillah cuti, buat kegiatan refreshing dengan keluarga. Letakkan dulu semua beban pekerjaan, beban mengejar karier, beban permasalahan di perusahaan. Istirahatkan hati dan pikiran dari mengejar urusan pekerjaan. Beberapa hari saja. Buat perayaan cinta Anda bersama pasangan.

Ingat kembali kejadian-kejadian indah dan lucu yang akan menguatkan kembali kehangatan cinta Anda. Saat pertama kali bertemu, saat janjian dan kencan, saat menikmati ritual malam pertama, saat mengalami kekakuan di awal hidup berumah tangga. Semua kenangan indah bisa dimunculkan kembali, dalam suasana segar dan tanpa tekanan rutinitas pekerjaan. Tertawa bersama, melewati jalan kenangan, mengunjungi restoran tempat pertama kali kencan, mengunjungi hotel yang pernah memberikan kenangan….

Semua gairah itu bisa Anda dapatkan lagi, jika Anda bersedia merawatnya. Hangat, bahkan terasa panas menggelora. Cinta sepasang kekasih yang sudah sepuluh tahun berumah tangga, atau sudah dua puluh tahun berumah tangga, atau lebih dari itu. Kegairahan cinta malam pertama bias kembali Anda dapatkan dan Anda rayakan bersama pasangan. Rajinlah merawat dan menyiram bara cinta Anda dengan bensin atau spiritus, agar kembali terbakar dan menyala-nyala.

Kini Anda siap menikmatinya. Gairah cinta di malam pertama, setelah dua puluh tahun berumah tangga.

Cahyadi Takariawan

Tentang Cahyadi Takariawan

Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina di Harum Foundation, Direktur Jogja family Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. Alumni Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (13 orang menilai, rata-rata: 9,31 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
109 queries in 2,719 seconds.