Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Refleksi 84 Tahun Soempah Pemoeda: “Harapan Itu Masih Ada”

Refleksi 84 Tahun Soempah Pemoeda: “Harapan Itu Masih Ada”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sejarah mencatat dengan tinta emas, tentang optimisme yang berhasil dibangun para pemuda bangsa tercinta ini. Walaupun tanpa hingar bingar, tepatnya tiga kali rapat utama diselenggarakan sebagai rangkaian Kongres Pemuda Indonesia ke dua. Rapat pertama diselenggarakan di Gedung Pemuda Katholik (Katholieke Jongelinen Bond) di Waterlooplein (Jalan Lapangan Banteng) pada Sabtu malam 27 Oktober 1928. Rapat ke dua di Gedung Bioskop “Oost Java” di Medan Merdeka Utara (Ahad pagi 28 Oktober 1928), dan rapat ke tiga (Ahad malam 28 Oktober 1928) di Indonesische Clubgebouw Jalan Kramat Raya 106 (Parakitri T. Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta: Kompas, 2006, 695).

Ternyata kuatnya peran pemuda menjadi awal dari setiap kebangkitan bangsa maupun peradaban hingga meraih keberhasilan. Kuat dan kejamnya kekuasaan Raja Namrudz tumbang oleh kecerdasan, kepiawaian diplomasi, dan kekuatan pemuda Ibrahim ‘alaihis salaam. Dominasi rejim Fir’aun mulai goyah bahkan akhirnya tumbang karena ‘keperkasaan’ pemuda Musa as yang ditopang oleh kekuatan penduduk Bani Israil yang berhasil digalangnya. Sejarah juga tidak pernah melewatkan nama-nama besar pemuda yang mendampingi Nabi Akhir zaman Muhammad ShallaLlaahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) mulai awal perjuangan hingga tegaknya peradaban Islam di dunia ini. Nama-nama semisal Abu Bakar as Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, adalah sebagian dari para pemuda yang berperan besar dalam perjuangan itu. Hingga akhirnya sejarah peradaban modern mencatat pemuda selalu menjadi ‘faktor penentu’ bagi keberhasilannya.

Sejarah negeri ini juga mencatat ucapan Bung Karno ’sang proklamator’, “Berikan kepadaku sepuluh pemuda, akan aku guncangkan dunia dengan mereka!”

Berawal dari Optimisme

Hampir seluruh kemenangan yang diraih oleh para pemuda tersebut, diawali dengan optimisme. Diawali Kebangkitan Gerakan Nasional pada 1908 (walaupun masih menjadi perdebatan apakah pada tahun 1905 saat lahirnya Sjarikat Dagang Islam atau tahun 1908 saat lahirnya Boedi Oetomo), hawa optimisme sangat dirasakan oleh bangsa negeri tercinta ini. Tetapi dengan kenyataan bertambahnya organisasi pergerakan yang walaupun bersifat kedaerahan tetapi cukup memengaruhi arah pergerakan nasional, maka dimunculkanlah wacana perlunya menggagas persatuan (bukan penyatuan) antar pergerakan yang ada.

Mr. Mohamad Jamin termasuk orang yang awalnya ‘menolak’ gagasan peleburan berbagai organisasi politik zaman itu. Tetapi, larut malam, beliau (Jamin) sebagai sekretaris Kongres menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo, ketua Kongres, berisi kalimat ringkas “kebersatuan tekad hati”. Kertas itulah yang menjadi draft dari apa yang kini dikenal sebagai “Soempah Pemoeda”, yakni bertumpah darah satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Kalimat-kalimat yang bernas itu akhirnya menjadi entry point peradaban baru, yakni kedalaman rasa kebangsaan Indonesia (Armada Riyanto CM, Rasa kebangsaan 1928: Kompas, 27 Oktober 2008)

Sebuah keputusan cerdas dilandasi jiwa optimis, semangat membangun negeri tercinta telah ditunjukkan para pemuda zaman itu. Sebuah bukti kesadaran yang luar biasa, sebuah bukti kejeniusan para pemuda Angkatan 1928. Betapa tidak? Jika sekat-sekat kedaerahan, budaya, bahasa, dan perbedaan-perbedaan lainnya dapat disatukan oleh semangat kebersamaan, solidaritas, perdamaian, kebersatuan, kesetiakawanan, kerja sama, dan tekad hati menatap masa depan yang lebih cemerlang. Optimisme yang digelorakan oleh sebagian komponen bangsa yaitu para pemuda menyebar, menggelora menjadi optimisme kolektif bangsa yang akhirnya berbuah kemerdekaan.

Tetapi, setelah berlalu 83 tahun deklarasi Sumpah Pemuda ada keprihatinan yang sangat akan melorotnya optimisme kolektif bangsa. Hampir di setiap diskusi kebangsaan, optimisme yang dulu dipraktekkan oleh para pemuda dan dikagumi di Asia bahkan dunia berganti menjadi pesimisme. Bangsa ini seolah sedang didera pesimisme kolektif. Bahasa bersama hari ini adalah bahasa pesimistis. Optimisme yang kembali digaungkan oleh Presiden dengan slogan “Bersama Kita Bisa” saat peringatan 100 Tahun Kebangkitan Indonesia dimentahkan dengan “Bersama Kita Bisa (Apa)?”. Sungguh situasi yang sangat tidak sehat. Optimisme yang sudah mulai mekar, dilayukan kembali oleh pesimisme karena berbagai hal, antara lain krisis yang berkepanjangan, transisi politik, tingkah polah politisi yang tidak beradab, hingga hilangnya keteladanan pemimpin negeri ini.

Tentu hal ini tidak dapat dibiarkan terus menerus. Ada tiga sikap yang harus segera diwujudkan oleh setiap komponen bangsa. Pertama, segera kembali mewujudkan semangat optimisme, ke dua meluruskan orientasi bahwa pembangunan bangsa ini harus kembali bertumpu pada tujuan asasi yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, dan ke tiga menghilangkan sikap mengambinghitamkan antar sesama komponen negeri ini. Sudah bukan saatnya untuk saling menyalahkan, saling menjatuhkan, apalagi menghalang-halangi upaya perbaikan. Kritis terhadap kebijakan bukan dibangun oleh sikap membenci, optimisme tidak berarti kehilangan kekritisan.

Inilah awal yang sangat baik bagi kita untuk melupakan kekelaman masa lalu, menatap masa depan yang lebih gemilang, dan terus menyadari besarnya negeri ini bukan karena kekuatan satu atau dua pihak, tetapi karena kebersamaan, persatuan, solidaritas, dan saling menopang satu sama lain. Empat belas tahun Reformasi, delapan puluh empat tahun Sumpah Pemuda, dan Seratus empat tahun Kebangkitan Nasional semoga menjadi inspirasi munculnya kekuatan optimisme membangun kembali negeri ini…

S’lama matahari bersinar, s’lama kita terus berjuang
S’lama kita satu berpadu, jayalah negeriku jayalah
Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku, jalan itu masih terbentang

(dari lagu Harapan Itu Masih Ada, Shoutul Harakah)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ghusni Darodjatun
Pendidik di MTs Negeri Margadana Kota Tegal. Pembina Yayasan Ribathul Ukhuwwah (penyelenggara Sekolah Islam Terpadu Usamah) Kota Tegal. Anggota Presidium Forum Silaturahim Umat Islam Kota Tegal. Anggota Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Tegal.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI

Organization