Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Menghapus Virus di Pikiran

Menghapus Virus di Pikiran

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Banyak yang bertanya, kok saya kelihatan santai saja, seperti tanpa beban. Padahal beban kerja luar biasanya banyaknya. Masalah yang muncul hampir tak berhenti dari menit ke menit, datang silih berganti.

Masalah pekerjaan, masalah kampung, masalah organisasi, masalah keluarga, masalah terus… seperti tak habis-habis terus berdatangan yang harus dihadapi sejak fajar mulai menyingsing hingga larut tengah malam menjelang mata terlelap.

Jawabannya sederhana saja, yaitu pemaaf dan ikhlas. Jika ada masalah, diselesaikan dengan baik sampai tuntas secepatnya, jangan ditunda-tunda. Jika ada yang berbuat salah, segera maafkan dan jika berbuat salah segera minta maaf. Jika ada yang berbuat jahat terhadap kita, jangan balas dengan kejahatan. Karena jika hal itu kita lakukan, maka sama saja jahatnya kita dengan mereka. Biarlah Allah yang menunjukkan jalan yang terbaik.

Tentu akan timbul pertanyaan, bagaimana jika ada di antara masalah yang dihadapi tersebut tidak bisa diselesaikan dan menemui jalan buntu? Jawabannya, serahkan masalah tersebut kepada Allah SWT. Jika telah diupayakan dengan kerja keras dan segala upaya, namun masalah itu tetap tak ada jalan keluar, maka hanya Allah tempat kita mengadu.  Insya Allah, Allah akan menunjukkan jalan keluar yang terbaik.

Pada umumnya manusia memiliki tiga kelemahan yang merupakan sifat dasar manusia, yaitu khilaf, dhaif (lemah) dan nafsu. Ketiga sifat ini membuat manusia sering berbuat kesalahan.  Namun kadangkala kesalahan kecil, tanpa disadari bisa berdampak besar. Di lingkungan kerja, kesalahan bisa menyebabkan kekesalan yang pada akhirnya menyebabkan suasana tidak nyaman dan prestasi kerja menjadi menurun.

Siapa pun manusia di dunia ini, sehebat apapun dia, pasti pernah berbuat kesalahan.  Tak ada manusia yang sempurna.  Karena itu wajar manusia melakukan kesalahan. Tugas kita adalah memberi maaf dan meminta maaf.  Nabi Muhammad SAW dalam salah satu haditsnya mengatakan ciri-ciri orang masuk surga adalah memaafkan kesalahan orang lain setiap malam menjelang tidur.

Jika semua persoalan telah diselesaikan dengan baik, bekerja dengan ikhlas dan semua kesalahan telah dimaafkan dan telah meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan, maka tak ada alasan masih banyak masalah yang membebani pikiran kita. Hidup terasa nyaman, beban pikiran terasa ringan, kita bisa bekerja dan berpikir dengan tenang. Benar apa yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, orang yang memaafkan kesalahan orang lain, akan memperoleh surga.

Dalam kenyataannya, tidak hanya surga di akhirat kelak yang bisa kita peroleh tetapi, tetapi juga surga di dunia. Mereka yang bersikap pemaaf dan bekerja dengan ikhlas mendapatkan ketenteraman hidup di dunia. Makan enak, tidur nyenyak, tak ada dendam dan sakit hati, tak ada beban pikiran menumpuk di kepala. Itulah surga di dunia.

Kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja bisa menimbulkan amarah, dendam dan sakit hati. Amarah, dendam dan sakit hati jika disimpan akan menjadi beban dalam pikiran. Makin lama makin banyak dan terus bertumpuk-tumpuk. Seperti virus dalam komputer, virus tersebut terus bertambah banyak dan bertambah. Akibatnya suatu saat komputer tersebut error, tak mampu lagi bekerja.  Pada manusia hal yang hampir sama juga terjadi. Jika beban pikiran terus menumpuk, maka suatu saat bisa menimbulkan stress.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada komputer diatasi dengan antivirus. Antivirus akan mendelete (menghapus) virus-virus yang mengganggu sistem kerja komputer. Pada manusia antivirusnya adalah “memaafkan”.  Memaafkan akan menghapus (mendelete) semua beban pikiran berupa amarah, dendam dan sakit hati. 

Allah dalam QS. Ali Imran: 133 berfirman, 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”

Dan pada QS. Ali Imran: 134,

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 9,15 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi. M.Sc
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar).

Lihat Juga

Ilustrasi. (merdeka.com)

Fokus Kerja Fokus Menang