Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tarbiyah Dzatiyah Untuk Memproteksi Hati

Tarbiyah Dzatiyah Untuk Memproteksi Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(sri)

dakwatuna.com “Bismillahirrahmannirrahim….. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyanyang. Sungguh manusia bukan lah apa-apa dibandingkanNya. Dia yang memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Jiwa-jiwa yang kosong dan raga yang lemah dijadikannya berisi dan kuat. Hati yang gersang dan pikiran yang kotor, bisa Dia buat bersih. Takkan ada makhluk apapun di dunia ini yang mampu menandingiNya, karena Dialah sang Pencipta segalanya tanpa terkecuali jiwa yang lemah ini.”

Dunia kini sudah masuk pada fase akhir zaman. Semua permasalahan yang ada menjadi sangat kompleks dan membutuhkan iman yang kuat. Pernah terlintas pemikiran plagmatis bahwa Islam yang benar-benar kaffah sulit sekali diterapkan. Astaghfirullah…. Untung saja itu hanya sepintas. Tetapi ada sebagian orang yang berusaha mewujudkan penerapan tersebut. Mungkin inilah yang dikatakan oleh Rasul dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari Sahabat Abu Hurairah RA bahwa Nabi saw bersabda,

بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء

“Islam ini pada awalnya dianggap aneh dan akan kembali menjadi aneh sebagaimana awalnya dan beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh saat itu.” [HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Iman (145), dan Sunan Ibnu Majah bab Al-Fitan (3986), Musna Imam Ahmad bin Hambal (2/389)]

Para “ghuraba” berusaha berbuat baik ketika banyak yang telah rusak. Merekalah yang tetap istiqamah dengan jalan yang lurus

Dalam keberjalanan hidup manusia yang makhluk social, tentunya interaksi social tidak bisa dilepaskan. Begitu pun dengan para “ghuraba” yang notabenenya adalah manusia biasa juga. Hal ini menuntut para “ghuraba” untuk berinteraksi dengan manusia lain, yang mungkin pemahaman Islam nya tidak menyeluruh bahkan tidak tahu. Salah satu akibat dari hal ini adalah terjadinya ikhtilath atau bercampur baurnya perempuan dan laki-laki bukan mahram tanpa hijab. Ikhtilath bisa terjadi di mana saja dan kapan saja tergantung interaksi social itu berlangsung. Tanpa terkecuali kampus dan media maya.

Dalam konteks kekinian, jika berbicara kampus maka mungkin para “ghuraba” itu salah satunya adalah para ADK. Para ADK (Aktivis Dakwah Kampus) ini adalah orang-orang yang dibina dan dibentuk untuk menyampaikan risalah Islam pada masyarakat kampus. Dalam kehidupan sehari-hari di kampus pun ADK sering dibuat dilema dengan system yang ada. Kenapa dilema?? Bagaimana tidak, ADK yang berusaha untuk menjaga keimanannya untuk tidak berihktilat dihadapkan pada keadaan berseberangan 180ᴼ. Di sisi lain, misi menyampaikan nilai-nilai Islam harus terus diusung. Sehingga mau tidak mau ADK harus masuk ke system tersebut dan berusaha mewarnainya. Kejadian ikhtilath di kampus ini bisa saat mengerjakan tugas kelompok, praktikum, rapat di organisasi amah atau yang lainya.

Fenomena ikhtilath saat ini sudah mulai canggih seiring dengan perkembangan zaman. Saat ini ikhtilath bisa terjadi meskipun tidak ada interaksi secara nyata dan langsung. Salah satu contohnya adalah fenomena ikhtilath dunia maya dan elektronik. Katakanlah Facebook, Twitter, YM, telepon dan sms. Semua itu adalah media yang jika tidak dipergunakan secara bijak akan mengakibatkan kemudharatan. Lebih dari ikhtilath, bahkan bisa zina atau kemaksiatan yang lain.

Kenapa ikhtilath itu tidak dibolehkan??

Kita tahu bahwa Allah SWT menciptakan laki-laki dalam keadaan punya kecenderungan yang kuat terhadap wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita punya kecenderungan kepada lelaki. Bila terjadi ikhtilath tentunya akan menimbulkan dampak yang negatif dan mengantarkan kepada kejelekan. Karena, jiwa cenderung mengajak kepada kejelekan dan hawa nafsu itu dapat membutakan dan membuat tuli. Sementara setan mengajak kepada perbuatan keji dan mungkar.

Sungguh ironi memang kehidupan umat akhir zaman ini. Tapi apakah kita menyesali hidup di akhir zaman?? Jangan!! Jangan sesekali menyesali kesempatan hidup yang telah Allah berikan kepada kita. Kita wajib mensyukurinya. Meskipun terkadang hidup ini sulit, tetapi Allah selalu memberikan jalan. Kita ingat bahwa di setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan. Bahkan dikatakan oleh Allah dua kali dalam (QS. 94:5-6).

Terlepas dari ironi tersebut. Fenomena ini sangat luar biasa dampaknya. ADK pun merasakan hal ini. Kita sadari bersama bahwa manusia memiliki bakat baik dan bakat buruk (Fuzuroha wa taqwaha). Ada kalanya manusia pun mengalami masa di mana dia sedang futur (turun kondisi keimanannya). Dan ketika itu adalah kesempatan setan untuk masuk. Saya tidak ingin memungkiri bahwa memang, saya pernah mengalami hal yang seperti itu. Di kala kondisi sedang turun setan akan lebih mudah untuk menghasut dan menjatuhkan kita.

Lalu bagaimana cara mengatasi dan meminimalisirnya??

Jika di kalangan jamaah tarbiyah sering kali kita dengar kata-kata “kita tidak mencetak kader yang steril, tapi yang mempunyai imunitas tinggi”. Begitulah kira-kira kata yang sering saya dengar. Bukan mencari-cari alasan tapi sangat relevan dengan kondisi saat ini. Untuk itulah di kala proteksi hati kita lemah dan tipis maka kita kuatkan dan tebalkan. Kemudian kenapa hati? Karena dalam konteks ikhtilath yang rawan adalah hati. Hati adalah hijab yang paling utama.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Islam untuk memperkuat imunitas kita adalah dengan Tarbiyah DzatiyahTarbiyah dzatiyah adalah sejumlah pembinaan yang dilakukan oleh seorang muslim/ah kepada dirinya sendiri. Sarananya banyak mulai dari muhasabah, taubat dari dosa, mengoptimalkan ibadah wajib dan menyempurnakannya dengan ibadah sunah. Kemudian bisa dengan memperluas ilmu, bermujahadah hingga terlibat dalam aktivitas dakwah. Wabilkhusus untuk masalah ini bisa ditingkatkan amalan-amalan iman. Seperti yang dikatakan oleh Allah swt bahwa shalat bisa menjaga dari perbuatan keji dan mungkar (QS.29:45). Kemudian juga dengan melaksanakan shaum, supaya menahan nafsu syahwat (HR.Muslim). Tentunya juga dengan dzikrullah untuk senantiasa mengingat Allah SWT supaya kita diberikan rahmat dan juga ampunanNya (QS.2:152).

Tarbiyah Dzatiyah memang sarana yang paling efektif dalam memproteksi hati dan keimanan kita. Dan bisa juga sebagai media menguatkan ketika sedang rapuh. Sekali lagi kita sadari bersama bahwa ini adalah akhir zaman. Ketika tanda-tanda yang Rasul katakana tentang kehidupan akhir zaman sudah mulai tampak satu persatu. Maka sebagai seorang yang beriman, marilah kita kuatkan diri dan hati kita untuk senantiasa menghadapi cobaan di akhir zaman ini. Yang paling dikhawatirkan adalah fitnah akhir zaman. Semoga kita termasuk orang-rang yang beruntung sebagaimana dikatakan Allah (QS.103:1-3) dan rasul pada hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim tentang orang-orang asing.

“Sungguh diri ini tak ubahnya hanya seorang yang ditutupi aibnya oleh Allah swt. Dan jika dosa-dosa diri ini dimanifestasikan dengan bau, tentunya tidak ada seorang pun orang yang ingin mendekati karena begitu baunya diri ini. Tidak ada keraguan tentang hal ini. Tentang kewajiban seorang muslim memperbaiki diri dan menyeru kepada kebaikan juga mencegah kepada kemungkaran. Semata-mata ini dilakukan untuk mengharap ridha Allah swt untuk menjadi orang-orang yang beruntung dan umat terbaik. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami…….”

Allahu a’lam bishshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Jakariya Nugraha
Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Aktifis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, Kader Keluarga Mahasiswa Islam Libaasuttaqwa STTT.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Wahai Ikhwah, Hidupkan Halaqahmu…