Home / Berita / Opini / Masjid = Lumbung Yang Tak Ber-Padi

Masjid = Lumbung Yang Tak Ber-Padi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Awal pertama kali yang dilakukan seorang petani ketika ingin bersawah dan menanam padi itu, membajak tanah yang akan ditanami terlebih dahulu sebelum menebar bibitnya. Semua dilakukan dengan teliti dan ketelatenan.

Tentu di penghujung “laga”, ketika semua sudah terlaksana, yaitu membajak sudah, menabur benih sudah, menanaminya juga sudah. Pun padi telah menghijau dan sebagian telah tunduk dan menguning. Ketika inilah waktunya sang petani membangun “Lumbung” padi. Lumbung tempat di mana nantinya padi yang sudah dipanen akan disimpan.

Ya memang begitu mestinya jalur yang harus dilalui oleh seorang petani. Membangun “lumbung” padi itu belakangan, karena kepentingannya pun ada di akhir. Orang pasti akan mengatakan bahwa petani itu bodoh, bahkan gila ketika ia membangun lumbung padi sedangkan menanam padi pun tidak. Jangankan menanam padi, tanah yang akan dibajak guna ditaburi benih pun ia belum siapkan.

Analoginya mungkin cocok dengan kondisi yang terjadi belakangan ini. Analogi terhadap apa? Analogi lumbung padi dengan masjid.

Yang banyak, orang selalu sibuk mencari dana buat bangun masjid ini, dan itu dengan biaya yang wuah! Semangat mencari dana bagi yang tidak mempunyai dana. Juga sibuk mencari tanah kosong untuk dibangun bagi ia yang sudah punya dana, dan semangat nyari-nyari media supaya bisa diliput dalam berita kalau dia telah membangun masjid dengan dana besar! Hebat bukan?

Memang tidak diragukan lagi kalau para pembangun masjid itu telah dijanjikan bangunan rumah dalam surga. Jadi simpelnya, orang itu pasti akan balik ke rumahnya masing-masing, nah kalau sudah disiapkan dan dibangunkan rumah di surga, lah masa iya dia akan pulang ke neraka. Kira-kira seperti itulah. Jadi ini juga salah satu yang bisa jadi motivasi bagi banyak orang berduit untuk berinvestasi akhirat yang pasti untung. (Padahal tidak bisa juga ditafsirkan seperti itu)

Tapi sebenarnya, anjuran dan perintah membangun masjid itu harusnya dan memang semestinya dibarengi dengan semangat memakmurkan dan meramaikan masjid tersebut. Bukan cuma semangat mengejar bangunan di surga namun kita cuek dan lupa bahwa ada kewajiban memakmurkan masjid.

Masjid itu ibarat “lumbung”, lumbung itu harus diisi dengan padi. Kalau cuma ada lumbung tapi padinya nihil, orang-orang sekitar akan mengatakan bahwa petani ini bodoh. Kok lumbung duluan yang dibangun, padi ne ngendi?! Jadi kewajibannya bukan hanya membangun lumbung (masjid), akan tetapi kita juga harus bersawah dan bertanam padi guna mengisi lumbung yang kosong itu. Nah masjid seperti itu! Harus ada SDM-SDM syariah yang menjadi pengisi lumbung beton tersebut.

Hingga akhirnya masjid (dan mushalla-mushalla tentunya) tidak hanya menjadi bongkahan beton besar yang hanya berbunyi 5 kali dalam sehari. Hanya untuk dilakukannya shalat, itupun dengan jamaah seadanya! Setelah shalat selesai, lampu-lampu kembali dipadamkan, pintu masjid dikunci dan gerbangnya pun digembok. Ujung nya masjid terkesan tidak bernilai, karena kering dari kajian ilmu-ilmu syariah yang memang seharusnya diajarkan kepada masyarakat sekitar. Dari 24 jam dalam sehari, masjid hanya ramai 50 menit. Karena biasanya durasi shalat itu 10 menit! Masjid di mana-mana tapi ilmu syariah tetap terkekang tak tersebar.

Lalu siapakah yang jadi padi guna mengisi lumbung itu? Tentu mereka para santri dan mahasiswa-mahasiswa syariah-lah yang layak untuk mengisi lumbung tersebut. Tapi mirisnya, perhatian kepada mereka sangat minim. Padahal tiada lagi yang bisa mengisi kecuali mereka yang mempunyai kompetensi dalam hal ini.

Jadi sebaiknya perhatian dan semangat membangun lumbung harus dialihkan kepada pembibitan padi yang baik dan unggul. Dana yang sudah disiapkan tersebut guna membangun masjid itu sebaiknya dialihkan untuk pembangunan pesantren, majelis taklim dan operasionalnya. Itu akan lebih baik hingga akhirnya kita bisa mengisi lumbung-lumbung beton itu dengan padi-padi yang unggul dan bisa diolah menjadi pangan yang bermanfaat dan bergizi tentunya.

Loh pesantren dan kampus-kampus syariah juga sudah banyak jumlahnya! Seandainya kita lebih dekatkan lagi telinga kita masuk ke pesantren dan kampus-kampus tersebut, kita akan mendapati banyak masalah yang terjadi. Kita akan menemukan ada calon padi unggul yang kekurangan siraman air dan cahaya matahari untuk berkembang, ada juga calon padi yang akhirnya mati karena terlalu lama tidak tersiram. Lebih parah lagi, ada petani yang sawahnya itu ludes karena terbakar! Maksudnya, tidak perlu juga kita membangun pesantren atau kampus yang baru, optimalkan saja segala potensi padi yang sudah sedikit “menghijau” di pesantren-pesantren dan kampus-kampus syariah tersebut, dengan memberikan suntikan operasional atau juga sumbangan beasiswa bagi para calon ulama tersebut!

Jadi nggak boleh bangun masjid? Boleh saja, sangat boleh bahkan! Tapi dalam syariah ini, kita mengenal ada yang namanya “aulawiyyat”, yaitu perkara-perkara prioritas yang harus didahulukan dibanding yang lain. Kebutuhan akan masjid tidak sebesar kebutuhan kita kepada SDM-SDM syariah yang siap pakai dan terjun. Baiknya dana-dana besar itu dialokasikan untuk memberikan beasiswa-beasiswa para santri dan mahasiswa-mahasiswa syariah agar mereka tenang menuntut ilmu agama.

Agar nantinya kita tidak dengar lagi ada santri yang berhenti mondok karena kurang dana, atau juga mahasiswa syariah yang lebih sibuk jualan daripada belajar karena butuh dana, sampai-sampai masuknya pun kalau lagi ujian saja, tidak sempat ikut belajar! Kalau bibitnya bermasalah seperti ini, sulit bagi kita untuk menghasilkan padi berkualitas.

Bukankah lebih baik masjid itu ramai dengan kajian ilmu syariah serta pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang agama, dibanding masjid mewah besar dan megah tapi bunyi nya cuma azan doang!?? Dan masyarakat tetap dalam kejahilannya akan ilmu agama, dan ini bisa menjadi celah untuk para liberalis melancarkan misi busuknya!

Wallahu A’lam!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Zarkasih
Mahasiswa. Lahir di Jakarta tahun 1989.

Lihat Juga

Muslim Rohingya yang termarjinalkan di Myanmar (aa.com.tr)

Belasan Masjid dan Madrasah di Myanmar Terancam Diratakan dengan Tanah