Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kesalahan Kita Membaca Diri

Kesalahan Kita Membaca Diri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (jr-photos.com)

dakwatuna.com“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan sifat pengecut. Dan aku berlindung kepada-Mu dari jerat utang dan ketertindasan.”(Hadits riwayat Abu Dawud).

Saat kita terbebani oleh urusan pekerjaan, mencari ilmu dan bermacam masalah yang kita hadapi. Semua terasa berat menimpa. Awalnya kita merasa biasa saja, tapi dengan seiring berjalannya waktu kita merasa kalah dan menyerah. Padahal perjuangan itu sudah setengah perjalanan dan bahkan mungkin hampir di ujung titik ‘finish’.

Saat kita dirundung masalah, maka semua terasa berbeda. Ada hati yang terasa perih, rasa badan tak lagi nyaman dalam merasakan ini membuat berubah dalam bersikap. Mudah tersinggung, sensitif yang berlebihan, kehilangan keramahan dan senyum yang selalu dirindukan orang-orang tercinta. Semakin terasa hidup ini pahit, getir tanpa cahaya. Kita semakin merasa bahwa kita adalah orang yang paling terpuruk. Tak sempat kita bermanja dengan diri kita, mencoba rileks di tengah keterhimpitan dan mencoba mencari energy positif di setiap tarik nafas kita. Saudaraku jangan menyerah kalah dengan kumpulan masalah.

Sebenarnya kita boleh berbuat dan kita mungkin tidak selemah itu. Seperti kata Ibnu Qayyim, “Adalah tabiat kehidupan dunia. Dipenuhi masalah yang menggelisahkan, yang menimpa manusia.” Lalu beliau membagi tiga, “Bila masalah hidup itu terkait masa lalu, akan menghasilkan sedih. Bila terkait masa depan, maka yang timbul galau. Bila terkait masa kini, menghasilkan gelisah.” Dan terapinya adalah cara pandang kita yang harus dirubah yaitu dengan pandangan yang positif di setiap masalah.

Saat diri ini tenang, mencoba dinginkan kepala dan hati yang bergejolak. Maka akan kita temukan energy yang luar biasa dari Allah untuk menyelesaikan masalah kita, dengan energy ketundukan yang kita berikan pada-Nya di setiap dzikir kita untuk mengingat-Nya dan di setiap sujud kita untuk menghambakan diri ini pada-Nya. Maka setiap doa akan terjawab, setiap kerja akan tampak hasilnya dan kebaikan yang kita lakukan akan ada imbalannya.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”” (QS. At Taubah: 105)

Jangan karena dirundung masalah membuat kita lupa dengan bekal yang kita siapkan sebelumnya, kesabaran yang tertata dan justru menghapus semua amalan kita dengan kesalahan langkah kita untuk menyelesaikan masalah. Na’udzubillah…

Ada cerita seorang sahabat yang dikenal sebagai seorang yang tangguh dan selalu ikut dalam setiap peperangan yang ada di zaman Rasulullah. Tapi saat terakhirnya, hanya karena dia tidak tahan rasa sakit yang ada pada luka bekas goresan pedang hingga dia mengambil menghunuskan pedangnya membunuh dirinya sendiri.

Saudaraku…

Kita mampu bertahan dengan apapun yang terjadi, kita telah memiliki takaran dalam setiap kejadian. Allah tahu dan paham akan diri kita, maka itu jangan menyerah berusaha dan bekerjalah untuk merubah nasib kita. Jangan pernah putus dalam setiap pengharapan doa yang terpanjatkan. Ingatlah, telah banyak peristiwa yang pernah kita lalui, dan semua ada jalan keluarnya.

Saat ini, semua yang menjadi masalah kita aka nada jalannya. Kala kita sabar, tenang dan ikhlas dalam menjalaninya. Jangan pernah lupa bahwa kita akan mengatasinya dengan izin Allah. Kita perlu melihat ke dalam diri kita, untuk berkaca dan menggali potensi diri untuk mampu keluar dari setiap masalah.

Terkadang kita memang paham dengan ilmu untuk menyelesaikan masalah kita, masalahnya adalah belum mampu menerapkannya dalam kehidupan yang sebenarnya. Kita paham hukum setiap masalah, tapi kita melaju tanpa mau menengok akan apa yang pernah kita pelajari dan mungkin pernah kita sampaikan kepada yang lain. Ilmu itu sebisa mungkin kita pahami dan kita terapkan agar hasil itu Nampak jelas dan manis terasa oleh kita. Dan kita akan menjadi lebih baik dengan sinergi yang indah antara ilmu dan amal kita. Insya Allah.

Kita mampu bertahan dengan kerja keras dan harapan dalam doa yang terpanjat pada-Nya. Allah menjawab setiap doa, membalas setiap amalan, dan member ganti yang lebih baik dalam setiap kehilangan kala kita yakin dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Karena manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, lupa bahwa Allah saja yang mampu berikan yang ter-baik untuk kita. Padahal orang yang beriman harus selalu melipat gandakan kesabaran.”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkan kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” Q. S. Ali Imran: 200.

Masalah kadang timbul dengan adanya gesekan dengan manusia yang lain. Mungkin kita paham akan apa yang kita lakukan, tapi kita kadang terlupa cara untuk saling menghargai. Bertoleransi dengan sesama, memahami bahwa kita memiliki muatan yang berbeda dalam setiap diri. Kita memiliki rasa yang berbeda dalam setiap kejadian, maka itu cintailah saudaramu sebagaimana ia ingin di cintai. Jangan kita mencintai saudara kita sesuai keinginan kita yang terkadang berbeda dengan kemauannya. Bertanyalah, ber-islah untuk saling mengerti dan memperbaiki diri dalam berukhuwah.

Saat kita menjadi seorang pemimpin, maka berusahalah untuk mampu berbuat adil, bertanggung jawab dalam setiap masalah. Mungkin dalam keorganisasian kita boleh unggul tapi masalah bermuamalah dengan bawahan kita yang harus diperbaiki. Harus mampu menjadi tauladan yang baik, melakukan semuanya dengan hati yang selalu menghambakan pada-Nya, selalu mengambil contoh akan kepemimpinan Rasulullah dalam bertindak.

Ada kalanya masalah timbul karena kita kurang bersyukur dengan setiap karunia-Nya. Kita masih merasa kurang dan kufur akan nikmat-Nya. Padahal mungkin kita lebih beruntung dari pada saudara kita yang lain. Kekayaan, kekuasaan dan semua keindahan dunia hanya akan melenakan kita. Kala kita lupa bahwa kelak akan ada pertanggungjawabannya. Maka itu berbuatlah untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Agar kita mampu memberi yang terbaik untuk Allah dan makhluk-Nya. Saat miskin maka bersyukurlah bahwa dengan kemiskinan kita akan lebih mudah mempertanggungjawabkan, saat kaya maka bersabarlah akan gemerlap dunia yang menyilaukan agar kita tidak lupa akan akhirat dan perbanyaklah amalan di saat apapun jua karena semua ada nilainya di hadapan Allah.

“Bekerjalah untuk duniamu seolah engkau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari.” Maka beramallah, bekerjalah. Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat amal-amali kita dengan senyum dan bahagia. Dengan dasar kepribadian diri kita yang selalu menjaga kehormatan, kita bisa meletakkan energy kebaikan diri yang sangat besar. Lalu kita akan maju untuk mengurai masalah dan melejit pesat untuk menang dalam mencapai capaian diri yang maksimal. Boleh jadi kita tidak sekadar seperti yang kita rasakan saat ini. Mungkin kita hanya salah menghargai diri.

Amal shalih, kerja ketaatan, dan laku kebajikan, kata Sayyid quthb dalam Zilal, adalah batang yang tumbuh tegak secara alami dari keimanan yang telah berakar dalam jiwa. Maka keimanan adalah gerak aktif dan energik. Begitu hakikat keimanan menghujam dalam nurani, maka pada saat itu ia bergerak mengekspresikan dirinya di luar dalam bentuk amal shalih.

Amal itu yang membuat kita menjulang menggapai cakrawala luas, dan mampu memberi naungan dengan rimbunan daun. Amal itu yang membuat kita berharga di hadapan Allah, rasul-Nya dan makhluk-Nya. Amal itu yang mengantarkan pinta dan doa kita keharibaan-Nya.

Berjuanglah saudaraku…

Bekerjalah untuk memperbaiki ‘nilai’mu di hadapan-Nya dan makhluk-Nya. Berprasangka baik kepada Allah “Aku selalu sesuai dengan persangkaan hambaKU kepadaKU. Dan aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepadaKU. Dan jika ia ingat padaKU dalam jiwanya, maka AKU pun mengingatnya dalam Zat-KU. Dan jika ia ingat padaKU ditempat ramai, AKU pun mengingatnya ditempat ramai yang lebih baik daripadanya. Jika ia mendekat padaKU sejengkal, AKU pun mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat sehasta, Aku pun mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia datang kepadaKU dengan berjalan, AKU pun akan datang kepadanya dengan berlari cepat” (Hadits Qudsi)

di sinilah kita…
melaju bersama kereta cobaan, ujian, cabaran
melayang bersama rindu, cinta dan benci
melintasi setiap terminal-terminal hati
tak seorang pun tahu apalagi mengerti
teringatkah engkau kawan kisah Yusuf yang tampan?
ataukah dilema yang dialami Umar bin Abdul aziz, sang pembaru?
 
semuanya berpusing pada “CINTA”
 
beradanya nafas dalam jasad, sudah pasti karena cinta
cinta itu universal, cinta adalah sebuah energi yang besar
dan sebaliknya cinta adalah tank penghancur yang tangguh
 
semuanya ber”pusing” pada cinta
energi besar yang timbul dari keimanan, ketaqwaan atas CINTA
cintalah kekuatan kita menatap fajar
 
teman, isilah penuh keranjang hatimu dengan bunga2 cinta
tebarkan ke setiap sudut, ruang penuh ikhlas
cinta yang dapat dirasakan oleh siapa pun, apapun jua
dan…berikanlah untuk yang teristimewa untuk…
Sang Pemilik CINTA
 
teman, kembalilah padaNya, cinta yang tak buat mu merasa sakit
cinta semanis madu-madu surga
cinta yang kekal, abadi, seperti pemiliknya
 
saudaraku, bila pemilik cinta itu telah menetapkan
di mana hatimu harus berlabuh,
berlabuhlah sesuai kehendakNYa
dan pasti…lakukanlah karena CINTA sang Pemilik CINTA
 
di sini, di sana…
tidaklah beda, kita punya Pemilik Cinta yang sama
Pemilik cinta yang cintanya tak akan habis walau dibagi tuk semesta
 
saudaraku
bila engkau harus menjadi bintang
jadilah bintang yang tak menyilaukan tapi indah penuh asa
bila engkau harus jadi matahari
jadilah matahari yang menghangatkan tak menyakitkan
bila engkau harus jadi air
jadilah air untuk smua bukan yang menghanyutkan
dan bila engkau harus jadi bunga
jadilah bunga yang tumbuh dari rasa malu, penuh rasa cinta
dan berderap dijalan yang ujungnya surga
 
saudaraku, jagalah dirimu
saudaraku kuserahkan dirimu, amanahmu pada Rabb yang…
tak pernah tidur, pemilik cinta yang sebenar
 
saudaraku… jadilah penyejuk mata

Dipetik dari berbagai materi. Semoga bermanfaat untuk memperbaiki diri, melejitkan potensi dan untuk lebih mendekatkan diri ini pada Sang Pemilik diri.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Choiriyah
Nama lengkap Choiriyah, lahir dan besar di kota Malang-Jawa Timur, domisili di Batam. Mulai ikut dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, dan menang juara II Karya Ilmiah Remaja di Malang. Saat bekerja di perindustrian Batam, ikut aktif dalam pembuatan buletin dan berita perusahaan se-Asia. Mulai tahun 2011-2014 aktif di FLP Johor. Sekarang Aktif dalam FLP Batam. Semoga dapat lebih banyak berkarya untuk dakwah bil Qolam.

Lihat Juga

Berdiri Bersamamu