Home / Narasi Islam / Dakwah / Fiqih Dakwah untuk Masyarakat Jawa: Menghindari “Polah Kang Kalantur”

Fiqih Dakwah untuk Masyarakat Jawa: Menghindari “Polah Kang Kalantur”

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Pada tulisan sebelumnya, telah saya sampaikan bahwa pupuh ketiga dari Serat Wulangreh berisi ajaran filosofi hidup mulia yang diwujudkan dalam bait-bait Sekar Gambuh. Ada banyak pitutur luhur dalam bait-bait Sekar Gambuh, di antaranya adalah nasihat untuk menghindari perilaku yang tidak benar. Perhatikan isi “pada” pertama dari Sekar Gambuh berikut:

Sekar gambuh ping catur, kang cinatur polah kang kalantur, tanpa tutur katula-tula katali, kadaluwarsa katutuh, kapatuh pan dadi awon.

Terjemahan bebas dari bait-bait Gambuh di atas adalah: Sekar gambuh yang ke empat, yang menjadi bahan perbincangan adalah perilaku yang berlebihan, tanpa nasihat akan membuat kesengsaraan, terlambat sudah untuk diluruskan, semua menjadi buruk di kesudahan.

Kandungan Pelajaran

Dari bagian pertama Sekar Gambuh dalam Serat Wulangreh tersebut, tampak ada berbagai wejangan luhur yang mengarahkan kehidupan manusia untuk selalu berlaku benar dan menjauhi perilaku jahat. Pada Serat Wulangreh yang berisi pitutur luhur dalam bentuk Sekar Macapat, diawali dengan kisah bahwa yang sedang dibahas dalam pupuh ini adalah tentang “polah kang kalantur”.

Pengertian polah kang kalantur adalah perbuatan (polah) yang berlebihan atau tidak teratur atau melanggar batas-batas yang dibenarkan. Maksudnya adalah perbuatan yang tidak benar dan melanggar aturan. Perbuatan jahat, keji, zhalim, semena-mena, yang tidak mengikuti aturan dan kepatutan. Kang cinatur polah kang kalantur, maksudnya yang sedang menjadi pokok bahasan dalam bagian ini adalah perbuatan yang tidak benar.

Orang-orang yang senang melakukan perbuatan jahat, perbuatan menyimpang, perbuatan tidak benar harus diingatkan dan diluruskan, agar tidak kebablasan. Bisa jadi ada orang berlaku menyimpang hanya karena iseng, atau ikut-ikutan, atau pengaruh teman, atau coba-coba. Namun jika itu berlangsung terus menerus dalam waktu lama, akan membentuk kebiasaan dan akhirnya membentuk watak serta perilaku.

Tanpa tutur katula-tula katali, maksudnya jika tidak ada nasihat, manusia akan berada dalam kondisi yang sengsara kehidupannya. Katula-tula katali, kondisi yang sulit, berat, menderita, bertubi-tubi mengalami kesengsaraan, itu karena mengabaikan nasihat kebaikan. Kita segera mengerti bahwa pitutur Sekar Gambuh tersebut mengingatkan tentang pentingnya nasihat dan peringatan, atau pentingnya dakwah, yang dalam bahasa Gambuh disebut sebagai tutur.

Kadaluwarsa katutuh, jika sudah terlanjur terjadi penyimpangan dan perbuatan jahat, siapa yang akan disalahkan? Terlambat sudah untuk diluruskan, semua sudah terlanjur terjadi karena terlambat memberi peringatan dan nasihat. Atau sudah diberi nasihat dan peringatan tetapi selalu ditolak dan tidak diperhatikan. Akhirnya semua sudah terlambat, penyesalan akan datang di belakang.

Kapatuh pan dadi awon, jika polah kang kalantur dilakukan secara konsisten dan terus menerus, serta melalaikan nasihat kebaikan, maka akan tercetak menjadi watak dan karakter yang jelek dalam diri seseorang. Itulah sebabnya semua orang harus menjauhi polah kang kalantur, perbuatan yang zhalim, jahat, melanggar aturan dan berlebih-lebihan. Karena itu semua akan menjadi watak dan karakter yang permanen, jika tidak memperhatikan pitutur luhur.

Pentingnya Nasihat Kebaikan

Sesungguhnya nasihat itu diperlukan oleh semua orang, bukan hanya diperlukan oleh anak muda, atau rakyat jelata. Namun nasihat sangat penting bagi para pemimpin agar mereka bisa lurus dan benar dalam melaksanakan amanah kepemimpinannya. Nasihat sangat penting bagi para tokoh masyarakat, agar mereka bisa memberikan teladan dalam kebaikan. Nasihat sangat penting bagi orang tua, agar mereka bisa mendidik anak-anak dengan baik. Nasihat diperlukan oleh semua orang.

Dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi Saw bersabda, ”Agama adalah nasihat”. Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, ”Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul, untuk para pemimpin dan umatnya” (Riwayat Muslim, Abu Dawud dan An-Nasai’i).

Tampak dari pengarahan Nabi Saw tersebut, bahwa seluruh manusia memerlukan nasihat, karena itulah makna penting dari agama (ad-din). Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, beliau menulis surat kepada Imam Hasan al-Bashri yang meminta agar Imam memberi nasihat dan menceritakan sifat-sifat pemimpin yang adil. Maka Imam Hasan al-Bashri menulis surat nasihat, di antara isinya:

“Ketahuilah, wahai Amirul Mukminin sesungguhnya Allah menjadikan pemimpin yang adil untuk meluruskan orang yang menyimpang, mengembalikan arah bagi yang berdosa, memperbaiki yang rusak, memberi kekuatan bagi yang lemah, menegakkan keadilan bagi yang zhalim, menyadarkan yang lalai. Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin seperti penggembala yang penuh kasih sayang atas penggembalaannya, yang menggiringnya ke tempat penggembalaan yang baik, menjauhkan dari bahaya yang mengancamnya, memeliharanya dari binatang buas, menjaganya dari panas terik dan hujan”.

“Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin seperti ayah yang bertanggung-jawab. Lembut terhadap anaknya. Bekerja untuk anak-anaknya saat masih kecil, mengajarkan mereka dan mengurusi kebutuhan hidupnya dan menabung untuk mereka setelah matinya. Pemimpin yang adil wahai amirul Mukminin seperti ibu yang lembut terhadap anaknya, mengandung dan melahirkannya dengan susah payah, mengasuhnya ketika kecil, ikut begadang ketika anaknya bangun malam, dan ikut tenang ketika anaknya tenang. Suatu saat menyusuinya, pada saat yang lain melepaskannya. Merasa senang dengan kesehatannya dan merasa berduka dengan sakitnya”.

Butir-butir nasihat Imam Hasan Al-Bashri di atas adalah contoh nasihat atau pitutur luhur bagi para pemimpin. Sedemikian penting nasihat, sampai Imam Asy-Syafi’i mengomentari surat Al-Ashr, ”Jika saja Allah hanya menurunkan surat Al-Ashr maka sudah cukuplah surat ini sebagai pedoman untuk manusia.”

Bersambung…

Referensi:

Purwadi dan Djoko Dwiyanto, Kraton Surakarta, Panji Pustaka, Yogyakarta, 2008

Samidi Khalim, Serat Wulangreh Karya PB IV, dalam www.kompasiana.com, 2010

http://www.dakwatuna.com/2011/10/15857/tentang-hadits-agama-adalah-nasihat/

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Cahyadi Takariawan
Senior Editor diPT Era Intermedia, Pembina diHarum Foundation, DirekturJogja family Center, Staf AhliLembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. AlumniFakultas FarmasiUniversitas Gadjah Mada (UGM).

Lihat Juga

Pernyataan Sikap PBNU Terkait #AksiDamai411: “Saatnya Memenuhi Rasa Keadilan Masyarakat”