Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Esensi Kumpul Bersama Teman

Esensi Kumpul Bersama Teman

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Betapa kita sering sekali mendengar ataupun mengucapkan dua kata yang demikian memiliki arti dan mengandung makna yang sangat dalam, yaitu “Teman Sejati”. Teman sejati juga dapat kita misalkan bukan hanya sebagai calon pasangan kita nanti. Teman sejati dapat kita misalkan pada teman terdekat kita, yang sudah sangat soulmate dengan kita, selalu bersama dalam suka maupun duka, serta bersama dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan tentunya.

Sebagai remaja, tentu Ana sangat mengerti keadaan yang sudah menjadi suatu hal yang sangat wajar di kalangan remaja beberapa tahun terakhir. Kumpul-kumpul atau sering disebut nongkrong-nongkrong sudah menjadi rutinitas yang konstan dilakukan remaja di sekitar kita. Meskipun sudah menjadi suatu kebiasaan, namun itu tentunya bukan berarti bisa menjadi sesuatu yang etis untuk dilakukan.

Pada dasarnya, berkumpul adalah suatu kegiatan yang sangat bagus apabila dilakukan untuk membicarakan tentang hal-hal positif. Namun, akan sangat disayangkan apabila esensi kumpul-kumpul seperti yang dilakukan para remaja tersebut diisi dengan sesuatu yang sia-sia. Disadari atau tidak, pembicaraan yang dilakukan pada saat nongkrong-nongkrong itu akan memancing kepada obrolan yang tidak perlu, seperti membicarakan orang lain, cerita-cerita yang dapat memancing kepada hal yang menyebabkan mudharat kepada Allah. Na’udzubillah…

Ibnu Qayyim Aljauziyah membedakan berkumpul menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah “Engkau berkumpul untuk mencari kepuasan”. Dan yang kedua adalah “Engkau berkumpul bersama mereka untuk mencari keselamatan”.

Dua jenis yang disebutkan di atas tentunya memiliki makna yang sangat signifikan. Pada jenis berkumpul yang pertama, acara kumpul-kumpul hanya di tujukan kepada hedonisme semata. Dan mudharat akan lebih mendominasi dibandingkan dengan manfaatnya. Sedangkan, pada esensi kumpul yang kedua, ditujukan untuk saling member nasihat dalam hal kebenaran dan kesabaran. Oleh karena itu, kegiatan kumpul yang jenis kedua akan sangat menguntungkan kita karena sangat bermanfaat.

Namun, di samping manfaatnya, kita juga perlu hati-hati terhadap kumpul yang jenis kedua ini, karena ada 3 hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Saling membanggakan dan menampakkan kehebatan masing-masing
  2. Perkataan lebih banyak diobral dari ukuran yang dibutuhkan
  3. Menjadi tradisi dan terkadang memotong maksud yang sesungguhnya

Tiga hal tersebut adalah godaan syaitan yang terkutuk untuk menjerumuskan manusia. Oleh sebab itu, kita perlu mengevaluasi kembali kegiatan yang telah kita lakukan untuk dikaji dan menjadi pengalaman, sehingga kita menjadi makhluk yang senantiasa berusaha menjadi lebih baik. Wallahu’alam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Khaulah Naqiyyah Farhana
Lahir di Jakarta, tahun 1995. Pernah menempuh pendidikan di MI Plus Asy-Syukriyyah, dan SMP Negeri 1 Tangerang. Menuntut ilmu dunia dan akhirat di SMA Negeri Cahaya Madani Banten Boarding adalah perjalanan pencapaian hikmah yang sangat panjang baginya. Kini masih menutut ilmu di Universitas Indonesia jurusan Sastra Indonesia. Berorganisasi menjadi bagian yang menjadi kesehariannya. Memiliki moto hidup Barangsiapa mempermudah urusan Allah, maka Allah pun akan mempermudah urusannya. Sangat bercita-cita menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain dan menjadi seorang hafidzah Quran. Menyukai dunia tulis-menulis sejak SMP. Berusaha menjadi muslimah terbaik untuk Allah subhanahu wa taala. Saat ini aktif di Lembaga Da'wah Fakultas FORMASI FIB UI.

Lihat Juga

Pembuktian yang Sebenarnya