Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Sang Pemusar Gelombang

Sang Pemusar Gelombang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Buku : Sang Pemusar Gelombang
Nama Penulis : M Irfan Hidayatullah
Tebal: 500 hal
Ukuran: 14,5  x 21 cm
ISBN: 978-602-84-5895-5
Nama Penerbit : Salamadani
Cetakan: ke-1

Cover buku “Sang Pemusar Gelombang”.

dakwatuna.com – “Tidak hanya dua itu saja, Gilang,” jawab Randy dengan nada meyakinkan, tak ketinggalan dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

“Golongan ketiga adalah para aktivis pergerakan Islam yang kemudian berpikir mendalam dalam menyelesaikan permasalahan ideologis ini, untuk kemudian menghasilkan sikap moderat.”

Wajah Gilang seolah mengatakan: cih!

Randy melanjutkan, “Mereka itu punya keyakinan bahwa Islam sesungguhnya adalah sebuah ideologi yang membawahi semua ideologi, termasuk di dalamnya nasionalisme, dan termasuk di dalamnya demokrasi. Mereka memandang bahwa semua isme yang sedang dianut sekarang bukan menjadi penghambat yang berarti bila semua dihadapi dengan strategi cerdas di tengah gelanggang. Merekalah yang kemudian turun ke lapangan dengan menawarkan langkah-langkah politik yang bermoralkan Islam atau Islami. Jadi, sudah bukan saatnya lagi jadi apolitis dan menganggap bahwa demokrasi-yang mungkin identik dengan sekularisme-adalah sesuatu yang besar dan tidak bisa dikangkangi.”

Gilang berusaha menyela, “Ah, gue nggak yakin, Ran. Gue lebih ngehargain mereka yang bertentangan secara ideologis dan menjadi outsider dengan mengusung isu-isu alternatif, misalnya Khilafah, daripada orang-orang yang masuk ke sistem dan kemudian menjadi oportunis.”

“Maaf, aku nggak sepakat dengan diksi ‘oportunis’ karena mereka bergerak dengan sebuah konsep yang ujungnya sampai pada apa yang dicita-citakan; berupa kemerdekaan umat dalam mengatur dirinya. Dan juga menunjukkan kepada umum bahwa Islam bisa menyelesaikan masalah-masalah yang kontekstual, bukan melulu menjanjikan masa depan berupa kemenangan. Dan yang terpenting lagi, ini adalah sebuah cara untuk menjadikan umat Islam melek politik, yaitu dengan bersimulasi di dalam kancah sebenarnya, bukan dalam tataran teori.”

Gilang menyanggahnya cepat-cepat, “Mereka bisa saja tergerus oleh arus yang terbanyak, lantas digeneralisasi oleh masyarakat bahwa mereka sama saja dengan para pelaku politik lainnya yang cenderung pragmatis. Itu tadi, hipokrit tapi sok eksklusif!” Gilang tetap pesimistis, bahkan cenderung skeptis.

“Hmm… tidak menutup kemungkinan. Tapi, itulah yang mesti dilakukan dan memandang apa yang kemudian terjadi sebagai resiko perjuangan yang harus disikapi dengan sistem. Di sini diperlukan kesadaran…” Randy mencoba menjelaskan.

“Gue masih punya keyakinan bahwa Islam nggak bakalan berdaya menghadapi berbagai pergerakan global kalau umat Islam sendiri masih seperti sekarang ini. Menurut gue, nggak perlu ada kesatuan manusia dalam satu bendera bila memang itu akan menimbulkan perpecahan dan peperangan. Buat apa sebuah nilai ideal bila diperjuangkan dengan darah.” Gilang memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang keyakinan Randy.

“Makanya, diperlukan pergerakan Islam alternatif yang bisa bermain di antara ini semua dengan cerdas dan membangun berbagai prosesnya dengan cara Islami pula, yaitu tanpa kekerasan, kecuali jika dalam prosesnya umat Islam dizhalimi.”

…….

“Lang, agama itu nasihat; manusia tanpa nasihat nggak bakal tentu juntrungannya,” ujar Randy tanpa diduga.

…….

Sang Pemusar Gelombang,

Sebuah novel yang berpusar pada peri kehidupan Syaikh Hasan Al-Banna.

Sosok dan teladan Syaikh Hasan Al-Banna telah menciptakan pusaran gelombang pemikiran dan perubahan yang mampu menginspirasi generasi demi generasi. Pusaran gelombang itu pula yang memengaruhi tokoh-tokoh utama dalam novel ini ; Hasan si pemuda yang gegar identitas ; Randy si aktivis dakwah militan ; dan Cikal, seleb superstar yang terjebak dalam kubangan hedonisme.

Novel karangan M Irfan Hidayatullah, ketua FLP pusat sekaligus dosen sastra Indonesia UNPAD ini ditulis dengan gaya bahasa yang tajam sekaligus juga ringan. Tebalnya yang “hanya” 500 halaman sama sekali tak menyisakan ruang jenuh bagi para pembacanya, karena memang setiap untaian kata dan cerita yang menyenangkan untuk terus diikuti. Di dalamnya banyak hikmah dan sentilan-sentilan sederhana yang mendobrak sejauh mana pemahaman kita terhadap dakwah dan nilai yang diperjuangkannya.

Good recommended!!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alkhansa
Mahasiswi S2 Farmasi ITB 2012.

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia