Home / Pemuda / Essay / Malas??? Ke Laut Aje!

Malas??? Ke Laut Aje!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.c0m – Sebagai seorang pelajar yang setiap hari berkecimpung dengan berbagai macam mata pelajaran tentunya kita pasti pernah dihinggapi rasa bosan. Nah rasa bosan itulah penyebab awal dari timbulnya penyakit malas. Penyakit paling berbahaya yang dapat menyerang siapa saja. Kenapa disebut berbahaya? Karena bila seseorang khususnya para pelajar sudah terjangkit penyakit ini, pasti hari-harinya tidak akan berjalan dengan efektif. Mau buka buku malas, membacanya apalagi, mendengarkan penjelasan dari guru, rasanya selalu ada kekuatan besar yang menarik matanya sehingga terkatup-katup. Yang lebih parahnya bila seorang pelajar tersebut sudah malas untuk bersekolah, ketika mau berangkat izinnya ke orang tua sih berangkat sekolah, namun di tengah jalan ia lupa jalan menuju sekolah, jadinya berbelok deh ke warnet, tempat play station, taman kota, mall dan tempat-tempat hiburan lainnya. Kalau hal ini terus menerus dibiarkan bagaimana nasib Indonesia 5 hingga 10 tahun ke depan?

Sebagai seorang pembelajar yang memiliki visi besar, bahasa kerennya pembelajar sejati kekuatan kita untuk melawan rasa malas itu harus lebih besar Sob, dari pada malas itu sendiri. Sahabat pasti masih ingat tentang kisah para sahabat yang baru saja pulang dari medan jihad perang Badar. Tiba-tiba saja Rasulullah bersabda bahwa apa yang baru saja dilakukan oleh para sahabat itu belum ada apa-apanya, karena setelah itu mereka akan menghadapi perang yang lebih besar, yaitu perang melawan diri sendiri. Nah Sob perang yang paling besar menurut versi Rasulullah itu ternyata adalah perang melawan diri sendiri. Dan rasa malas itu timbulnya dari dalam diri, artinya bila kita berjuang melawan rasa malas kita telah melakukan jihad paling besar menurut versi Rasulullah. Hebat nggak tuh???

Tapi Sob, yang namanya perjuangan di manapun tempatnya pasti ada rasa nggak enaknya, oleh karena itu kita butuh senjata yang namanya kesabaran. Itulah yang justru akan membuat kita bernilai, terutama di mata Allah Swt. Bukankah Allah itu senantiasa bersama orang-orang yang sabar Sob? Memang terkadang sabar terasa pahit, tapi di dalamnya terkandung keberkahan yang tiada tara. Semakin tinggi tingkat kesabaran yang kita miliki maka semakin berkualitas lah nilai diri kita di mata Allah Swt dan tentunya dapat mengundang cinta-Nya. Dan kalau Allah sudah cinta Insya Allah apa yang kita cita-citakan akan dikabulkan-Nya. Dan kalaupun Allah belum mengabulkan itulah pertanda sinyal cinta dari-Nya agar kita lebih kuat lagi memacu energi kesabaran dalam diri.

Nah Sob terkadang kita ingin selalu mempertahankan semangat dalam diri tapi apalah daya, rasanya virus malas yang menyerang diri lebih kuat dari pada imun kesabaran yang ada hati. Bila terbayang saat-saat diri dalam semangat prima rasanya ingin kembali meneguknya. Lalu bagaimana caranya agar semangat itu terus terpacu dalam diri dan kita pun dapat mendepak virus malas yang terus menggilas. Nah ada lima kiat agar kita tetap istiqamah dalam memegang teguh semangat serta bertahan dalam kesabaran:

Pertama, muahadah. Muahadah itu berasal dari bahasa Arab, lebih gampangnya kita sebut saja dengan komitmen diri. Sebagai seorang pelajar sejati tentu kita punya yang namanya cita-cita. (Kalau ada yang sudah melupakan cita-citanya coba diingat-ingat lagi deh ketika ditanya Bu guru TK dulu) Dalam perjalanan menggapai cita-cita itu memang tak mudah Sob, ada berbagai godaan dan rintangan yang harus kita hadapi. Misalnya saja seseorang yang bercita-cita ingin menjadi angkatan, maka ia harus rela setiap pagi lari-lari pagi dan berolah raga untuk memperbagus tubuhnya dan menjaga kesehatan. Nggak ada ceritanya kalau ia mau jadi angkatan tetapi bangunnya selalu setelah matahari terbit. Itu artinya ia belum mempunyai komitmen terhadap cita-citanya. Nah sekarang mari kita tentukan cita-cita kita, kalau perlu menulisnya dalam tulisan super besar dan dipajang di kamar tidur atau di tempat yang bisa kita lihat setiap hari. (supaya kita tidak lupa).

Kedua, mujahadah. Mujahadah itu bahasa gaulnya sungguh-sungguh Sob. Masih ingat kan dengan mahfudzot yang berbunyi man jadda wajada. Yap betul barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat apa yang diimpikannya. Setelah kita menentukan cita-cita kita harus berjuang sungguh-sungguh untuk menggapainya dan melakukan berbagai hal yang dapat menunjang keberhasilan kita meraih mimpi. Misalnya kita ingin menjadi penulis best seller kita harus sungguh-sungguh latihan menulis, mengikuti pelatihan menulis dan juga banyak membaca. Bila malas kembali menyerang ingat kembali cita-cita kita dan juga orang-orang tercinta yang sedang menunggu keberhasilan kita.

Ketiga, muhasabah. Artinya kita juga perlu evaluasi diri Sob. Minimal seminggu sekali lah. Apa saja yang telah kita perbuat di minggu itu dan sejauh mana komitmen kita terhadap cita-cita yang telah kita tetapkan. Guna mengukur kesuksesan kita. Sebagaimana sabda Rasulullah bahwasanya kriteria orang sukses itu manakala hari ini lebih baik dari pada hari kemarin.

Keempat, muaqobah. Nah setelah kita adakan evaluasi pastinya kita akan tahu apakah kita betul-betul menepati komitmen atau malah melanggarnya. Bila kita berhasil menepati bolehlah kita beri hadiah pada diri kita sendiri. Misalnya membeli makanan kesukaan, baju baru atau yang lainnya. Tapi bila kita melanggar kita juga harus memberi hukuman terhadap diri kita sendiri seperti membersihkan kamar mandi, rela nggak dapat uang saku dari Ibu dan sebagainya. Agar lebih efektif kita juga bisa meminta tolong teman untuk ikut mengawasi.

Kelima, muroqobah. Inilah Sob sejatinya, kita ini hanya makhluk lemah, terkadang sekeras apapun usaha kita, kenyataan jauh dari harapan. Tak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Kita harus senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah agar kemudahan senantiasa menyertai kita, dan ridha Allah pun dapat kita raih.

Indah ya Sob bila kita mampu melakukan kelima hal tersebut. Seakan kesuksesan itu telah tergambar jelas di depan mata dan kita pun tak mengenal kata malas dalam kamus kehidupan kita. Namun bila kita masih beralasan untuk malas mending ke laut aja deh! Kesuksesan akan sulit digapai untuk para pemalas. So kerahkan kemampuanmu untuk melawannya. Let’s go!!!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Safira Rahima
Safira Rahima adalah nama pena dari Santy Nur Fajarviana. Ingin selalu menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan yang tak ada batas usianya ini. Pernah mendapat juara harapan 2 lomba menulis novel tingkat nasional juga juara 3 lomba menulis artikel tingkat provinsi. Saat ini ia sedang berjuang menggapai mimpinya untuk menjadi penulis best seller dan bercita-cita mendirikan sekolah menulis di kota kelahirannya, Madiun.

Lihat Juga

7 Tahun Kedua: Menyelamatkan Pernikahan Dari Kebosanan