Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sepucuk Surat Untukmu Saudaraku

Sepucuk Surat Untukmu Saudaraku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Bismillahirrahmanirrahim,

Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwatuna.com Segala puji bagi Allah yang telah satukan hati kita dalam Islam. Dalam satu landasan iman. Di pererat oleh tali cinta. Ini adalah ukhuwah yang sangat indah. Sehingga berat sekali jika harus berpisah. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah bagi manusia sempurna. Imam para mujahid; Muhammad SAW. Beserta para pengikutnya hingga akhir Zaman.

Saudaraku yang Allah muliakan,

Langit telah memberikan hak kepada kita sebagai pengurus tanah ini. Pemegang tampuk peradaban; “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Sebab itu kita di berikan ruang kreativitas untuk membuahkan karya. Aku melukis sesuatu dalam kanvas sejarah kita sendiri. Maka suatu saat nanti kerja itulah yang akan di kenang dunia. Kita adalah umat terbaik. Mercusuar bagi manusia lainnya. Langit pula yang menjaminnya; “kalian adalah umat terbaik yang di lahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Coba kita renungi kembali, bahwa Allah telah memilih kita dari ribuan manusia di daerah untuk menjadi cahaya bagi mereka. Tempat kerumunan dari kegelapan. Janganlah kau padamkan harapan itu.

Saudaraku yang Allah muliakan,

Pernah saya sampaikan tidak ada yang gratis di dunia ini. Turun begitu saja dari langit sebagai hadiah. Tidak… semua harus di bayar mahal oleh pengorbanan; waktu, tenaga dan pikiran. Atau dengan harta yang ada. Atau dengan darah sekalipun. Karena memang begitu. Seperti Sayyid Quthb yang membayar mahal Laa ilaha ilallah dengan tiang gantungan. Apabila melihat mereka, kita belum pantas dikatakan sebagai umat terbaik. Umat yang Allah janjikan surge. Namun tekadkan bahwa hari ini kita sedang telah menuju ke jalan itu. Demi dakwah. Mari kita tapaki setiap kesulitan dengan gelora iman. Kita daki dengan penuh kesabaran menuju puncaknya. Walau dengan cara yang sulit pula. Dan itu semua memerlukan kesungguhan yang luar biasa, kesungguhan yang hanya di miliki oleh orang-orang yang mencintai Rabb-Nya.

Saudaraku yang Allah muliakan,

Apabila saat ini merasa sulit. Sesungguhnya Allah sedang mempersiapkan kita menjadi orang besar. Mahal, seperti emas. Meski menjadi orang besar bukan segalanya. Selalu ada kabar gembira yang Allah katakan; “barang siapa yang bertaqwa kepada Allah. Maka Allah akan mengeluarkannya dari kesulitan. Dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak di sangka-sangka.” Dan yakinlah bahwa Allah tidak pernah menzhalimi hambanya. Jangan sedikit pun berkeluh kesah dari kasih saying Allah berupa kesulitan hidup ini. Belajarlah dari nabi Daud; ujian itu tetap nikmat. Sebab Allah begitu dekat. Setenang Sayyid Quthb di atas tiang gantungan: “selamat datang kematian di jalan Allah. Sungguh Allah maha besar!”

Saudaraku yang Allah muliakan,

Jangan sekali-kali putus asa lalu berhenti melangkah. Kemudian menyerah. Itu bukan pribadi kader dakwah. Itu bukan pribadi umat Rasulullah. Itu bukan pribadimu. Itu pribadi orang-orang hina. Berlarilah bersama ridha Allah. Menopang beban, menapaki jalan ini, menghadapi mara bahaya, membuka dan membedah setiap potensi menuju kemuliaan.

Saudaraku yang Allah muliakan,

Nasib negeri ini terletak di tangan kita. Mari kita bekerja hingga sampai kepada keputusan-Nya. Seandainya kita berpisah, Aku rela dan bangga karena telah bertemu dengan orang yang risau dengan masalah umat ini. Dan menghabiskan masa mudanya untuk kejayaan umat.

Selamat berjuang saudaraku, di sana ada mimpi besar, mimpi semua umat, mimpi kita semua. Raihlah ranjang surge beserta 72 bidadarinya. Saya tidak akan mengatakan apa yang di katakan kaum Bani Israil kepada Nabi Musa. Tapi Ana akan mengatakan apa yang di ucapkan oleh sahabat Anshar kepada Nabi kita: “ya Rasulullah berperanglah Anda bersama Rabb-Mu dan kami akan selalu bersamamu. Wallahu’alam.

Bandung, Salam cinta, Saudaramu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Muslim membagi-bagikan Al-Quran di Eropa. (islammemo.cc)

Austria Larang Pembagian Al-Quran