Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Teman, Inilah Cinta

Teman, Inilah Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Selamat pagi teman.
Di sini masih pagi.
Pagi itu selalu indah teman, ia memberikan janji kehidupan.
Pagi ini terlalu kering teman, tiada embun, tapi ia tetap indah teman, karena ia membisikkan keoptimisan
Pagi itu selalu indah teman, karena itu aku mencintai pagi, karena ia juga membuka lembaran baru untuk hari ini.

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Teman, aku sangat menyukai alam. Alam mengajarkanku banyak hal. Alam itu sangat indah teman, karena ia diciptakan oleh yang Maha indah.

Teman, alam tidak pernah bicara padaku teman, tapi ia memberikanku banyak cinta.
Teman, pernahkah kalian memperhatikan sekuntum bunga? Ia akan bermekaran ketika musim semi tiba.

Teman, kalian mungkin tahu, bahwa aku sering berjalan ke taman. Menghabiskan waktu berlama-lama, menunggu petang, mendengarkan usikan burung, menikmati mekarnya sekuntum bunga.

Teman, pernahkah kalian merasakan ketenangan? Menghilangkan jengah, melupakan segala masalah, hanya dengan bersandar pada rerumputan hijau, dan kemudian memejamkan mata. Menikmati wewangian rumput, mengikuti seruling alam, dan menghayati sentuhan angin petang.

Teman, ketika itulah kadang alam bicara, mengajarkanku tentang sepotong kata cinta.
Teman, sekuntum bunga tidak pernah tahu, kumbang mana yang akan singgah di mahkotanya. Membawakan serbuk sari dari kekasih hatinya. Kekasih yang sama sekali tidak ia kenali rupanya.

Teman, bunga itu tidak pernah mengeluh, tidak pernah berhenti menunggu sang kumbang membawakan titipannya. Bunga itu selalu mempercantik diri, menyediakan sari terbaik agar sang kumbang berkenan singgah di tempatnya. Menunggu titipan dari kekasihnya.

Teman, aku mencintai alam, karena alam tak pernah ingkar, ia akan bergerak, bertindak, dan melakukan seluruh keinginan Tuhan. Karena alam selalu benar teman, karena Tuhan menyuruh kita untuk belajar pada alam.

Teman, itulah cinta yang ku maksud, cinta sekuntum bunga yang sabar menunggu kekasihnya. Ia tak akan pernah ambil pusing untuk mengetahui sejauh mana tentang kekasihnya. Yang ia lakukan hanyalah mempercantik diri, dan memberikan kualitas terbaik jika kekasihnya tiba.

Teman, bagiku cinta sejati itu adalah melepaskan. Siap melepaskan jika ia tidak ke pelukan kita. Bagai bunga yang siap menerima jika kumbang belum singgah ke tempatnya.

Teman, siapa yang tidak pernah merasakan cinta? Kata termasyhur di kalangan muda, tua, bahkan belia. Terlalu egois memang jika kita memaksakan cinta, memaksa agar ia berlabuh di hati kita. Seperti bunga yang memaksa kumbang untuk singgah ke tempatnya, namun ia tak memiliki nektar terbaik untuk menariknya.

Teman, aku juga pernah merasakan hal yang sama, mencintai seorang wanita, dan aku dapat merasakan bagaimana remuknya jiwa, jika ia bukan jodoh kita. Tapi teman, aku merasa itu terlalu egois.

Teman, mari kita sama-sama berusaha dari sekarang, mendidik jiwa kita, dan merasakan pedihnya. Bayangkan ketika ia lepas ke tangan yang lain, kemudian bayangkan bagaimana perasaan kita. Remuk. Dan ketika itulah kita belajar bagaimana harus melepasnya.

Teman, semua orang sudah siap untuk kaya, sukses, dan berhasil. Namun tidak semua orang yang siap untuk miskin, bangkrut, dan gagal. Begitu juga dengan cinta teman. Kita harus persiapkan mental jika gagal dalam meraih cinta yang kita inginkan, itulah kedewasaan teman. Kita tidak akan perlu latihan jika ia akhirnya jadi kekasih kita, tapi kita butuh usaha besar jika ia bukan jodoh kita. Dari sekaranglah teman, kita didik jiwa kita untuk merasakan jika ia bukan jodoh kita.

Teman, itulah yang diajarkan bunga itu teman, ia rela melepas sang kumbang ketika titipannya tak kunjung datang. Teman, itu juga yang dilakukan imam Ali, ketika ia rela melepaskan Fatimah dikhitbah oleh Abu Bakar, Umar, bahkan Utsman. Tapi apa teman? Allah memberikannya pada Ali karena kerelaan untuk melepasnya.

Teman, mari berusaha untuk melepasnya, dalam artian siap jika ia bukan jodoh kita. Kalian tahu teman, Allah juga tidak pernah melalaikan hambaNya.

Teman, terkadang kita sering salah, kita berusaha untuk mencari seluruh identitasnya. Teman, tanpa kita sadari, kita telah membuat diri kita tidak sekufu dengannya teman, bagaimana kita akan mendapatkannya, jika ia selalu menjaga hati, dan kita selalu merusak hati. Atthayyibat litthayyibiin.

Teman, jika kita mencintainya, jangan rusak ia teman. Jadilah seperti sekuntum bunga teman, yang selalu mempercantik diri, dan sabar menunggu sang kekasih hati.

Teman, bukan dengan mencari seluruh datanya lantas kita akan mendapatkannya, tapi dengan mempercantik dirilah kita akan menjadi berhak dengannya.

Cinta dalam diam, ya aku suka kalimat itu teman, karena aku juga melakukannya. Mencintai seseorang, tapi hanya diungkapkan pada dinding yang bisu, berharap agar Tuhan mendengarkan lirih hatinya. Seperti Umar Bin Abdul Aziz yang mencintai seorang putri raja dalam malam-malam bisu.

Teman, alam mengajarkan kita banyak hal teman, karena itu aku mencintai alam.

Teman, seekor burung harus sabar mengerami telurnya sampai anaknya menetas. Rembulan harus sabar menunggu mentari hingga ia terbenam. Pohon harus bersabar menunggu asupan air dan hama sampai ia berbuah. Petani harus sabar menjaga tanaman sampai waktu panen tiba. Dan sang ibu juga harus sabar menjaga kehamilannya hingga bayinya dilahirkan. Begitu juga dengan cinta teman, kita harus sabar menunggu, hingga waktu yang tepat itu tiba.

Bayangkan, jika seekor burung tak sabar mengeram, haruskah ia mencatok telurnya? Sehingga anaknya akan menetas? Apa yang akan terjadi jika rembulan tidak sabar menunggu mentari terbenam di sore hari? Akankah ia harus bersinar di samping mentari? Bayangkan jika petani tidak sabar menunggu panen, apakah ia harus memberikan pupuk banyak-banyak agar segera panen? Ataukah si ibu harus mengoperasi perutnya agar anaknya segera keluar?

Teman, kita tahu jawaban semua itu. Teman, itulah balasan bagi yang tidak sabar, ia tidak akan mendapatkan impiannya. Seorang anak haram untuk mendapatkan warisan bapaknya jika ia membunuhnya. Itu karena apa? Ia tidak sabar.

Teman,  begitu juga cinta, kita tidak akan mendapatkannya jika kita tidak sabar hingga waktunya tiba. Percantik diri, dan selalulah berharap yang terbaik untuk Ilahi.

Jadilah sekuntum bunga yang memberikan keindahan, sehingga sang kumbang akan tertarik mendatanginya. Namun jangan jadi seorang petani yang memberikan banyak pupuk, sehingga tanamannya mati.

Selamat berjuang teman. Waffaqakumullah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa semester 2 Islamic Madinah University Saudi Arabia fak. syariah. Sebelumnya pernah kuliah satu tahun di Universitas Al-Azhar Mesir. Saksi sejarah keruntuhan rezim Mubarak di Mesir. Dan juga pernah aktif di Studi Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir.
  • nice acticle

  • Rama deye

    Amin,,,Semoga perjuangan demi kebaikan bangsa dan negara kita selalu dilindungi olehnya.Allah SWT

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI