Home / Pemuda / Cerpen / Mengurai Benang Kesetiaan

Mengurai Benang Kesetiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com – Kau berdandan lebih rapi dari biasanya. Memakai setelan kemeja biru muda dan celana jeans yang sudah lama kau tinggalkan. Seminggu ini aku melepasmu pergi meninggalkanku dan anak-anak keluar kota karena ada pelatihan kenaikan pangkat. Bisnis multilevelmu merangkak naik kian pesat. Kau tenggelam ditimbun ambisi dan gelimang harta. Sungguh, itu tak pernah kuharapkan karena semuanya telah membuat tilawahmu, tahajudmu, dhuhamu nyaris lewat setiap hari.

“Tumben Abi rapi jali, mau nge-date ya?” kelakarku.

Aku menyembunyikan segala resah yang berkecamuk dalam batin. Kau memang tak pernah telat memberikan gaji bulanan yang kini beratus kali lipat kudapatkan. Tapi uang itu telah menjadi pembatas, waktu berkumpul dengan keluarga, rihlah ruhani, mabit dan liqa bersama teman-temanmu, shalat berjamaah, semua telah terjadwal menyesuaikan aktivitasmu.

“Mau ketemu klien, Mi. Terus nanti mau nge-date gitu sama klien. Ummi mau ikut?” balasmu.

Astaghfirullah. Aku tak tahu apakah kau sengaja mengatakannya agar aku cemburu atau memang itu sudah ada dalam rencana perjalananmu. Aku tak mau percaya, tapi itu kenyataannya. Bahwa rumus matematika cintaku salah. Banyak perhitunganku yang meleset. Sudah banyak yang mengingatkan agar aku lebih waspada atas perubahan sikap dan penampilanmu. Bahkan sudah banyak cerita yang kudapatkan dari kawan-kawanku yang berprofesi sepertimu rawan menjatuhkan seseorang tergiur untuk bermaksiat.

“Laki saya dulu pernah main sama downlinenya sendiri.”

“Godaannya laki tuh cuma harta, tahta, wanita. Wajar kalau suaminya situ mulai berubah. Sudah mulai ngelirik yang lain sih,” tegur seorang tetangga sambil melirikku dengan tatapan sinis di sebuah warung tempat biasa aku membeli kebutuhan dapur.

Aku seperti kambing pincang yang menaiki gunung cadas yang gersang. Tertusuk duri-duri kaktus yang tumbuh di sekelilingnya. Disengat mentari yang sepertinya berada tepat di atas kepalaku. Diterpa angin berdebu yang menusuk tulang-tulangku. Kali ini aku benar-benar ingin membuktikan bahwa apa yang dibicarakan banyak orang adalah bualan. Kutelepon Husna adikku untuk mengantar mencari jejakmu.

“Mbak, yakin kuat kalau itu kenyataannya?” Husna melihat keraguanku.

Kuikuti mobilmu seperti reality show yang ada di televisi. Sengaja tak kusewa jasa mereka agar aib keluarga kita biar aku dan Husna saja yang tahu. Terlalu berat untuk kutanggung sendiri.

“Mbak, itu kan Sasa!” Pekik Husna tertahan.

“Kamu kenal?”

“Iya, suaminya dia teman suamiku. Baru beberapa bulan yang lalu berpisah, Sasa yang menggugat cerai. Katanya sih ngerasa diperdaya suaminya cari duit.”

“Astaghfirullah, Na. Hentikan, itu prasangkamu, belum tentu juga benar,” diingatkan begitu Husna langsung manyun.

Abi, kau lupa bahwa aku juga klienmu? Kita dipertemukan Allah juga karena takdir mempertemukan kita dengan penyakit ini. Aku masih ingat ketika kau datang ke rumah dan meyakinkan bapak bahwa benar-benar akan merawatku hingga akhir hayat. Di saat aku hampir putus asa dengan penyakitku, kau datang menjadi penawar.

Itu mobilmu, berbelok ke sebuah kafe. Pasti kau berencana akan bertemu klienmu di sana, ya dengan Sasa tentunya. Itu membuatku merinding. Aku tak seharusnya mencari-cari alasan untuk bertemu denganmu. Menjadi istri penurut yang menjaga dan mendidik anak-anak di rumah, dan menengadah begitu awal bulan tiba. Tapi aku naif. Kau turun, kemudian membukakan pintu untuk Sasa.

“Kenapa kok seperti adegan di sinetron sih, Na?” gerutuku.

“Emang mbak pernah nonton sinetron? Tapi bener tuh, kegatelan banget si Sasa. Turun sendiri nggak bisa napa?” Husna ikut bersungut. “Mbak mau turun nggak?”

Aku memutuskan untuk turun sendiri dan Husna tetap di mobil. Memesan meja yang agak jauh darimu. Dua jam aku menunggu menanti klien yang kau maksud, sampai tenderloin yang ada di hadapanku menjadi dingin. Tapi tak ada seorang pun datang menghampiri meja kalian. Malah yang ada canda mesra seperti sepasang kekasih. Tak kuasa kuhampiri mejamu. Ingin kurobek kerudung yang menutupi kepala wanita yang ada di hadapanmu, ingin kumaki dan kugeret dia ke kantor polisi. Tapi begitu tiba di hadapanmu tenggorokanku tercekat.

“Abi,” panggilku.

Sontak kalian mendelik ke arahku, lalu saling pandang dan menghentikan obrolan. Keadaan berbalik, seolah-olah aku yang menjadi tersangka.

“Kok, Ummi bisa di sini?”

“Ummi ikuti Abi tadi. Jam tangan dan buku agendanya ketinggalan, kuserahkan dua benda itu sebagai alasan. Sengaja keduanya kuambil ketika kau ke kamar mandi sebelum berangkat. Sekali lagi, aku memang naif. Tak ada ucapan terima kasih. Kau berdiri dan malah menyeretku kasar keluar kafe tanpa memperhatikan aku yang mengaduh.

“Ummi tahu kan betapa sibuknya Abi? Lewat telepon kan bisa. Ini kan benda sepele,” katamu sambil menunjuk-nunjukku. Hal yang tak pernah kau lakukan sebelumnya. Sebegitu marahnyakah ketika seorang istri memergoki suaminya sedang selingkuh?

“Iya, maafkan Ummi. Ini mau langsung pulang, Assalamu’alaikum,” aku sudah tak sanggup lagi menahan bendungan air mata yang sedari tadi membuat pandanganku mengabur. Apa yang terjadi padaku tak seperti yang kubayangkan di film. Kau mengejarku, meraih tanganku, lalu minta maaf. Kau hanya mematung karena kudengar dering telepon lebih menyibukkanmu.

Abi, kepala Ummi sakit, dalam sujudku terasa hentakan yang sama seperti dulu. Sakit di kepalaku kian menjadi. Badanku gemetar. Kuputuskan pulang ke rumah ibu diantar sopir dan Husna. Dan anak-anak pun kubawa serta. Pesan yang hendak kukirim kuurungkan karena kau pasti tak akan sempat membacanya.

Seandainya Abi Lebih Dulu Mengerti

Aku masih marah dengan kelancangannya tempo hari, atau aku memang merasa di skak mat karena ia tahu pengkhianatanku dengan Sasa? Akan kuutarakan keinginanku untuk berpisah dengannya ketika aku pulang nanti. Sepele, hanya karena ia tak lagi mempercayaiku, dan atas saran dari Sasa. Nama itu lah yang selama ini memaksa Ummi keluar dari pikiranku. Aku menjadi semakin geram. Apalagi beberapa hari ini kau tak pernah mengangkat telepon atau membalas smsku. Telepon rumah pun tak ada yang menjawab. Ketika sampai di depan pintu gerbang terkunci.

“Pak Sholeh,” panggil sebuah suara di belakangku. Aku pun menoleh, ternyata Bu Har tetanggaku. “Ini dititipin kunci sama nyonyanya. Sudah pergi dari seminggu yang lalu.”

“Iya, saya habis dari luar kota. Baterai hp saya mati. Lupa chargernya tidak saya bawa, Bu. Jadi nggak bisa hubungi orang rumah.”

Alasan bodoh. Sebegitu miskinnya kah aku hingga tak bisa mencari cara? Seminggu? Kenapa Ummi pergi tanpa seizinku? Berarti setelah kejadian itu ia langsung berkemas. Pasti pulang ke rumah orang tuanya, sejak kapan ia menjadi wanita cengeng? Kekesalanku memuncak ketika melihat rapor Alma dan Aisyah tergeletak di ruang tamu dengan sebuah surat.

“Maaf, ummi pamit pulang ke rumah orang tua tanpa seizin Abi. Ada yang harus ummi selesaikan. Semoga bisnis Abi lancar.”

Allah, mengapa harus kulupakan janji yang dulu pernah terucap. Janji suci yang mengikat tanggung jawabku akan seorang wanita yang mengabdikan seluruh hidupnya untukku, cara yang ia pilih untuk taat pada Tuhannya? Segala harta yang kumiliki kini tiada guna. Aku menangis begitu masuk kamar kutemukan beberapa obat yang sering dikonsumsinya ketika penyakitnya kambuh. Istriku sakit.

Ummi…ummi…, mengapa setelah seminggu aku baru merasa kehilangan? Dia yang selalu sabar menanti kepulanganku hingga larut dengan tubuh ringkihnya. Tanpa curiga. Dia yang selalu menerima amplop bulanan tanpa pernah bertanya adakah yang kusimpan untuk Sasa? Dia yang membesarkan dua buah hatiku yang pandai dan gembil pipinya. Bahagia yang tak bisa kudapatkan dengan Sasa. Aku yakin dia tahu semua sejak lama.

Rumahmu nampak lengang dan pintunya hanya sedikit terbuka. Aku pun tak melihat Alma dan Aisyah mainan ayunan kesayangannya. Setelah kuparkirkan mobil, perlahan kulangkahkan kakiku masuk.

“Assalamu’alaikum,” kuharap aku akan disambut senyuman dari wajah tirus istriku, dan rangkulan dari Alma dan Asiyah. Tapi yang kudapat hanya tatapan benci dari orang-orang yang ada di sana. Gurat kesedihan mendalam, diam yang tak bisa kuartikan.

“Waalaykumussalam. Mau cari siapa, Bang?” Husna menghadangku di depan pintu.

“Alma dan Aisyah mana?”

“Tidur,” katanya tanpa mempersilakanku masuk.

“Rania mana?”

“Yakin betul dia masih mau bertemu Abang?”

“Kucoba menebus khilafku, Husna.”

“Dia tidak ada.”

“Kumohon, Na. Panggilkan dia.”

Baiklah, Husna menyuruhku mengikutinya. Keluar dari halaman kami menyusuri pematang sawah di sebelah rumah. Ketika masih awal menikah dulu, Rania sangat suka mengajakku melewati jalan ini. Berkecipak di tengah genangan air hujan yang senantiasa membasahi. Kadang ditingkahi burung-burung yang hinggap mematuk jagung yang kami bawa. Tuhan, tiba-tiba aku sangat merindunya.

Setelah 10 menit berjalan dalam diam, sampailah kami di sebuah pemakaman umum yang dekat dengan taman tempat Rania mengajakku main ayunan yang tergantung di sebuah pohon beringin. “Abi, lihatlah rumah masa depan Rania. Keren ya? Rumah itu sudah tersedia sebelum aku meminta bahkan membelinya,” tunjuknya pada area pekuburan ini kala itu.

“Kau bohong kan, Husna?” Dia duduk bersimpuh di sebuah makam yang tanahnya masih merah. Bunga-bunga yang ditaburkan di atas kuburannya telah layu. Husna tenggelam dalam tangis pilunya. Kulihat pusara istri yang amat kucintai telah tertancap nyata. Mungkinkah ia sangat bahagia telah benar-benar memenuhi impiannya untuk membeli rumah masa depan? Tak kuasa kutahan tangis penyesalanku. Berkelebat semua kemunafikan dan pengkhianatanku.

“Kesehatan kakak menurun setelah hari itu. Ia hanya sampaikan permintaan maaf karena tak mempercayai Abang. Kematian telah memilihnya dengan cara yang indah.”

“Dan aku mengkhianati kepercayaanmu, Nia,” batinku perih.

Husna menyerahkan HP, buku tabungan, dan sepucuk wasiat dari istriku. Gemetar tanganku membukanya. Kutinggalkan pusaranya dan aku duduk di ayunan tempat kami biasa bercengkerama.

“Salam takzim untuk Abi yang teramat lekat namanya di hati Ummi hingga akhir hayat.

Abi bagaimana kabarnya? Semoga Allah selalu melindungi Abi di jalan-Nya di mana pun berada. Ummi tinggalkan beberapa yang bisa Ummi simpan. Tapi bukan sakit hati dan penyesalan. Untuk Abi semua sudah Ummi ikhlaskan.

Ummi hanya ingin Abi tak menjadi jadikan harta sebagai pegangan, karena agama telah menyiapkan Al Quran dan sunnah Rasul sebagai panutan. Tak jadikan hawa nafsu setan sebagai biang kebimbangan, karena imanlah obatnya. Jangan jadikan khilaf sebagai akar penyesalan, karena taubat lah obatnya. Karena Allah adalah pemilik seluas-luas maaf dan Maha Penerima Taubat.

Tak banyak yang bisa Umi berikan, hanya 2 buah hati yang senantiasa ingin Ummi dapatkan doa yang tak putus-putusnya. Buku tabungan ini adalah amanah dari Abi yang alhamdulillah bisa Ummi jaga sampai napas terakhir. Ini untuk Alma dan Aisyah. Carilah ibu pendamping bagi mereka, rasa-rasanya Abi tak akan kesulitan memilihnya. Maafkan Ummi karena tak bisa membalas semua telepon dan sms Abi karena saat itu Umi sedang kalut menentang takdir.

Salam kangen selalu.” – Ummi dan rumah masa depan

Berbekalah untuk hari yang sudah pasti

Sungguh kematian adalah muara manusia

Relakah dirimu, menyertai segolongan orang

Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa

Rasulullah bersabda perbanyaklah mengingat

Akan pemusnah segala kenikmatan dunia

Itulah kematian yang kan pasti datang

Kita tak tahu kapan waktunya kan menjelang

Menangislah hai sahabat karena takutkan Allah

Niscaya engkau kan berada dalam naungan-Nya

Di hari kiamat di saat tiada naungan untuk manusia

Selain naungan-Nya

Dalam ampunan-Nya, dalam magfirah-Nya

Dosa pun berguguran bak daun dari pepohonan

[Suara Persaudaraan]

Inspiring book: Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,62 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Najwa Fahrini
Dentist, blogger, city walker. Aktif sebagai blogger detik.com. Kini tercatat sebagai relawan korps kedokteran Gigi Bulan Sabit Merah Indonesia cabang Surabaya.

Lihat Juga

Indahnya Hidup dalam Panduan Allah