Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Justifikasi: Refleksi Kaca Mata Hati

Justifikasi: Refleksi Kaca Mata Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet / hdn)

dakwatuna.com – Dalam perjalanan kehidupan manusia banyak sekali peristiwa yang menjadikan seorang manusia berubah, baik perubahan ke arah yang lebih baik maupun sebaliknya. Banyak manusia yang berubah secara tiba-tiba dengan berbagai alasan termasuk adanya faktor eksternal lingkungan di sekitarnya.

Saat ini kita melihat banyak sekali para artis yang kita anggap sebagai public figure atau trend setter sehingga banyak dari para penggemarnya mengikuti apa yang dilakukan dan ditampilkan para idolanya. Hal itu tidak dapat dinafikkan dan memang suatu hal yang “diwajarkan” oleh otak sadar maupun otak bawah sadar kita. Lambat laun, yang menjadi idola dan mengidolakan pun semakin “kreatif” dan “inovatif” mengembangkan karakter khas komunitasnya dan bangga atas apa yang mereka tampilkan dan mereka lakukan. Para pengidola seolah tersihir dan terhipnotis bahwa apa yang mereka contoh itu hanya fana, semu dan tak berarti.

Jika suatu ketika sang pengidola melakukan “kesalahan” dalam langkah hidupnya sehingga cerita indahnya berubah menjadi kelam, terjerumus dalam kegelapan. Para pengidola akan serempak mengatakan, “Ah wajar, kan manusia biasa. Bisa salah dan khilaf!”. Kemudian mereka tetap setia menanti sang idola “kembali” ke gelanggang dunia hiburan.

Di sisi lain, di dunia para ulama sejati yang tanpa pamrih menebarkan dakwah tanpa mengenal lelah dan letih pengorbanan terdapat suatu hal yang amat berbeda. Pada awalnya seorang ulama begitu tak dikenal, kemudian ia berubah menjadi sangat terkenal dan mempunyai banyak majelis ta’lim sebagai lahan dakwahnya. Dari sekian banyak para “pengikutnya” tersebut banyak yang berubah, paling tidak dari segi fisik (penampilan, dll). Namun, sang ulama takkan pernah berubah meski godaan dunia melambai untuk memberi kenikmatan sejati, sang ulama pun tak bergeming, tetap istiqamah.

Namun, suatu ketika sang ulama melakukan hal yang kurang baik menurut kacamata publik (misal: poligami), para pengikutnya berbondong-bondong menjadi penghujat dan meninggalkannya begitu saja. Pada hal tersebut bukan hal yang haram. Lontaran kalimat penghakiman sepihak dari publik pun langsung menyeruak ke seantero dunia nyata dan dunia global. Hanya sedikit dari mereka yang tetap percaya dan mengikuti sang ulama dan melihat dengan kacamata kebenaran. Karena sebagian besar menganggap sang ulama bukan manusia biasa, “tak punya salah, tak punya khilaf!”.

Begitu mudahnya kita menghakimi seseorang yang nampak baik atau buruk hanya atas satu atau dua perbuatan yang nampak oleh kita. Tak digunakanlah mata hati kita untuk melihat kebenaran yang ada, salahkah orang lain atau terlalu burukkah “kacamata” hati kita?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Kamu adalah Temanmu