Musibah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Musibah banjir

dakwatuna.com – Alhamdulillah, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasulillah

Musibah, setiap kita pasti ingin menghindar darinya. Namun apalah daya, musibah adalah sesuatu yang niscaya, dan setiap kita pasti akan mendapatinya, sebagai ujian dari Allah, siapakah di antara kita yang beriman dengan benar dan siapakah di antara kita yang dusta?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan adalah ragam musibah yang akan ditimpakan Allah kepada manusia (Al-Baqarah: 155).

Yang dimaksud dengan kekurangan harta adalah lenyapnya sebagian harta. Musibah yang menimpa jiwa maksudnya adalah meninggalnya keluarga, kaum kerabat, teman, serta kasih-kekasih. Musibah yang ditimpakan Allah terkait dengan buah-buahan (ats-tsamarat) maksudnya ialah kebun dan lahan pertanian tanamannya tidak menghasilkan buahnya sebagaimana kebiasaannya, entah ia gagal panen ataupun menurun produksinya. Sedangkan musibah yang ditimpakan oleh Allah berupa ketakutan dan kelaparan maksudnya adalah Allah menimpakan kepada manusia kesengsaraan berupa rasa takut dan rasa lapar. Demikianlah yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya.

Berbagai musibah yang telah disebutkan di atas, suatu saat pasti akan datang menghampiri kita semua, dan tidak ada satu pun dari kita yang bisa menolak kedatangan musibah tersebut, karena hal itu sudah menjadi suatu ketetapan yang datangnya dari Allah, Tuhan Yang Maha Berkehendak. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima ketetapan tersebut, dan menyikapinya dengan cara yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Di antara sikap yang harus kita lakukan ketika musibah datang menimpa antara lain adalah:

Pertama, Menanamkan keyakinan bahwa musibah yang sedang dihadapi adalah kehendak Allah SWT

Allah SWT berfirman “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

Terkait ayat di atas, Imam Ibnu Katsir memberikan penjelasannya bahwa seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah Ta’ala tersebut, maka Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allah Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”

Kita juga diajarkan oleh Allah SWT untuk mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un (Sesungguhnya kami milik adalah milik Allah dan Sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kami kembali” ketika kita ditimpa musibah. Ini adalah bentuk pengajaran yang menyuruh kita untuk merenungi posisi kita sebagai makhluk, dan Allah sebagai Al-Khaliq. Semua eksistensi diri kita dan apa yang ada pada diri kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Karena itu, kita hanya bisa memasrahkan diri kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, karena Dia lah yang memiliki kehendak atas diri kita.

Kedua, Bersabar

Sikap selanjutnya yang harus dilakukan oleh setiap kita ketika ditimpa musibah adalah bersabar. Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa sabar itu merupakan pengakuan seorang hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya, dan ia jalani hal ini dengan penuh ketabahan karena mengharapkan pahala yang ada di sisi-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah ayat 153)

Barangsiapa mengira bahwa jalan menuju iman itu ditaburi semerbak wewangian, dihampiri permadani merah yang anggun maka sesungguhnya ia tidak mengerti sunnatullah dalam beriman kepada Allah. Musibah, ia adalah sunnatullah dalam beriman kepada Allah.

Allah telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang beriman, dan mereka bisa menikmati surga tersebut yaitu salah satunya adalah dengan bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpa harta benda, jasmani, dan goncangan-goncangan jiwa dan batin.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan dengan berbagai macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah”. Ingatlah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (Al-Baqarah: 214)

Dan jalan memperoleh pertolongan Allah adalah dengan sabar dan shalat (Al-Baqarah: 153)

Ketiga, Memperbanyak Shalat

Selain bersabar, sikap yang harus kita lakukan ketika ditimpa musibah adalah memperbanyak Shalat, menjalin hubungan vertikal kepada Allah secara lebih intens.

Ustadz Sayyid Quthb menjelaskan “Sesungguhnya shalat adalah hubungan dan pertemuan antara hamba dan Tuhan. Ia adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Hubungan yang memberikan kekuatan kepada hati, menumbuhkan rasa dekat kepada ruh dan memasok jiwa dengan bekal yang lebih berharga ketimbang segala perhiasan dunia. Oleh sebab itu, bila dalam keadaan berat, Rasulullah bersabda “Istirahatkan kami dengan shalat wahai Bilal”. Rasulullah juga memperbanyak shalat apabila menghadapi perkara yang memberatkan, agar sering berjumpa dengan Allah SWT.” (Tafsir Fii Zhilalil Qur’an: Al-Baqarah ayat 153)

Begitulah sikap Rasulullah ketika ditimpa ujian, memperbanyak shalat agar sering berjumpa dengan Allah. Padahal kita tahu bahwa Beliau adalah orang yang sangat erat hubungannya dengan Tuhan dan sangat akrab dengan wahyu dan ilham.

Keempat, Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an

Orang yang tertimpa musibah akan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan segala rasa yang akan mengguncangkan hatinya. Karena itu, dibutuhkan upaya agar keguncangan tersebut bisa mereda, agar nafsu ammaroh tidak muncul sehingga membawanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Salah satu cara jitu yang bisa meredakan keguncangan dalam hati ketika kita ditimpa musibah adalah dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Ar-Ra’d: 28)

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan siapakah orang yang mendapat tuntunan-Nya itu? Mereka ialah orang-orang beriman, yang di mana hati mereka merasa tenteram karena senantiasa mengingat Allah. Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan merasa takut atau pun khawatir.

Salah satu bentuk dzikir (mengingat Allah) yang paling baik adalah dengan tilawah Al-Qur’an. Sebab Adz-Dikir adalah salah satu nama Al-Qur’an, yang dengannya kita bisa memperoleh hidayah, rahmat dan obat yang dapat menyembuhkan hati kita.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

Kelima, Berdoa

Terakhir, kita harus banyak berdoa kepada Allah SWT. Karena doa adalah senjata pamungkas kita sebagai mukmin dalam menghadapi semua ujian kehidupan serta agar memperoleh kebaikan dari Allah SWT. Doa menjadi inti dari setiap ibadah yang kita lakukan

“Doa adalah pangkal (otak-)nya Ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Serta ia adalah perbuatan mulia yang harus menjadi bagian dari diri kita

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Kita memohon semoga Allah memberikan kesabaran serta menolong kita agar bisa melewati musibah yang sedang diujikan-Nya dengan sikap yang benar, yang memperoleh ridha-Nya.

Demikianlah penjelasan yang bisa saya sampaikan terkait bagaimana sikap kita dalam menghadapi setiap musibah yang datang dari Allah. Semoga dengan mengambil sikap yang benar, kita dicatat oleh Allah sebagai orang yang beriman kepada-Nya dengan keimanan yang benar. Wallahu A’lam.

Alhamdulillah akhirnya tulisan ini rampung juga, setelah pekan lalu usai bertakziyah ke rumah sahabat yang ibunya meninggal dunia, saya langsung tergerak untuk membuat tulisan tentang musibah, sempat baca-baca buku dan menulis beberapa kalimat tapi tidak diselesaikan karena ada kesibukan lain. Dan pagi ini, Allah mentakdirkan saya untuk mengunjungi masjid yang ternyata sedang ada yang berduka, ada yang sedang menyelenggarakan shalat jenazah, akhirnya usai pulang ke rumah, istirahat sejenak, langsung bergegas menyelesaikan tulisan yang belum rampung tsb. Ini semua ketentuan Allah, saya hanya bisa mengambil hikmah dari setiap ketentuan tersebut.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengurus Yayasan Telaga Insan Beriman, lembaga yang berkhidmat kepada ummat di bidang Sosial, Dakwah dan Pendidikan dan administrator www.alimancenter.com.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas)

Menjadi Setegar Yusuf AS