Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pantaskah Manusia Memimpin?

Pantaskah Manusia Memimpin?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ini tentang bumi. Setelah ribuan tahun bumi berwajah muram, setidaknya kini wajahnya mulai bisa tersenyum melihat kemenangan meski dari kejauhan. Ini tentang alam. Setelah ribuan tahun alam menantikan kejayaan, kini penantiannya akan berujung kemenangan. Ini tentang dunia, setelah ribuan tahun teraniaya tangan manusia, kini mulai merangkak meraih kemenangan. Ini tentang langit, setelah ribuan tahun menutup diri, kini mulai membuka tirai kemenangan. Ini tentang cinta, setelah ribuan tahun terkepung dalam kerinduan, kini mulai menemukan jalan kemenangannya. Ini tentang janji, setelah ribuan tahun terabaikan, kini telah mendekat menuju kemenangan itu.

Ini tentang manusia, yang hidup di bumi membersamai alam untuk memimpin dunia sebagai perwakilan langit meraih cinta Allah azza wajalla yang telah menjanjikan kemenangan. Semua sujud kepada Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Tetapi kebanyakan manusia tidak berpikir.

Masih tentang manusia, karena manusia adalah pelaku utama. Manusia yang telah diberikan akal untuk berpikir hingga diamanahkan memimpin bumi. Manusia yang masih belum berpikir, tidak bisakah melihat dengan jelas setiap tanda-tanda kebesaran Allah. Manusia yang masih belum menyadari makna hidup, tidak bisakah mendengar peringatan dari Al Qur’an. Manusia yang masih tersesat, tidak bisakah melangkah kembali pada fitrah yang sebenar-benarnya. Manusia yang masih menutup diri, tidak bisakah membuka hati merasakan kasih sayang Ar Rahim. Manusia yang masih terpesona pada dunia, tidak bisakah mempelajari kesudahan orang-orang terdahulu yang telah diberi azab. Manusia yang masih terpuruk, tidak bisakah mengikuti jejak Rasul. Manusia yang masih ragu, tidak bisakah mencari ilmu untuk lebih bisa mengenal Allah. Manusia yang masih tertipu, tidak bisakah membaca kebenaran yang mutlak.

Juga masih tentang manusia, karena manusia adalah objek utama. Manusia yang telah diberikan hawa nafsu hingga syetan memanfaatkannya bersanding di neraka. Manusia yang jahil, ingatlah di dunia hanya sementara hingga tak ada waktu bersenang-senang. Manusia yang sesat, lihatlah semua zat bersujud hanya kepada Allah hingga batas waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya. Manusia yang melampaui batas, kembalilah pada hati nurani hingga tak ada yang teraniaya. Manusia yang dusta, berhentilah mencari perkara yang mempersulit diri hingga kenikmatan diperoleh. Manusia yang melecehkan ayat-ayat suci jauhkan prasangka buruk hingga tiada lagi keraguan dalam hidup. Manusia yang ingkar, lepaskan yakin pada kemungkaran hingga tidak ada yang dirugikan. Manusia yang merusak, bertaubatlah dengan sebenar-benar taubat hingga Al Ghofur mengampuni.

Masih ada yang lain tentang manusia, karena manusia adalah pihak yang diunggulkan. Manusia diciptakan dari tanah yang awalnya disangsikan para malaikat karena hanya merusak dan menumpahkan darah di muka bumi. Allah Maha Mengetahui segala hal yang tidak diketahui malaikat dan makhluk-Nya yang lain. Manusia yang beriman dan mengerjakan amal shalih, merekalah yang beruntung. Manusia yang saling mencintai karena Allah dan Rasul-Nya, merekalah yang diberi ketenangan dan ketenteraman. Manusia yang berjuang menegakkan kalimatullah, merekalah yang diberi Rahmat. Manusia yang bersyukur, merekalah yang diberi kenikmatan tiada tara. Manusia yang bersujud kepada Allah dan memikirkan tanda-tanda kebesaran-Nya, merekalah yang diberi derajat yang tinggi. Manusia yang berpegang teguh pada Al Qur’an, merekalah yang akan meraih kemenangan dan surga. Manusia yang bertaqwa dan yang hanya mengharap ridha Allah, merekalah yang akan dipertemukan dengan-Nya.

Tulisan ini terinspirasi dari negeri-negeri yang selalu berjuang untuk kemenangan. Rasa turut berduka bagi saudara seperjuangan di negeri yang tertindas demi menegakkan kalimat Allah. Bagi Indonesia yang sedang berperang dalam pemikiran dan keyakinan, semoga apa yang diraih negeri-negeri yang berjuang di jalan Allah menjadi inspirasi untuk bergerak. Allahu Akbar.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atik NH
Lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tinggal di Sumedang. Berharap tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain (pembaca maupun dirinya). Mari bersama kita mencari ilmu pengetahuan.

Lihat Juga

Surat Cinta untuk Perempuan