Home / Pemuda / Cerpen / Perlombaanku dengan Mahli

Perlombaanku dengan Mahli

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Ramadhan tahun ini seperti biasanya aku dan kebanyakan masyarakat muslim lainnya menyambut Ramadhan dengan suka cita. Kebanyakan mereka menyambutnya dengan perubahan-perubahan fisik, seperti gotong royong membersihkan masjid-masjid dan membuat gapura-gapura di perbatasan desa yang bertuliskan “Marhaban ya Ramadhan, sucikan hati, luruskan niat, untuk menjadi pribadi yang bertaqwa”. Tetapi ada juga yang menyambutnya bukan hanya secara fisik. Sebagaimana aku dan sahabatku ini Mahli namanya. Sudah jadi kebiasaan ketika sebelum Ramadhan hadir di tengah-tengah kami, aku dan sahabatku ini mengadakan sebuah perjanjian perlombaan. Sebuah perlombaan berupa tantangan, yakni siapa yang terbanyak mengkhatamkan al Qur’an, siapa yang terbanyak menambah hafalannya, siapa yang terbanyak membantu orang lain, yang intinya sebuah perlombaan dalam peningkatan amalan sehari-hari di bulan Ramadhan.

Seperti biasanya juga di setiap tahunya aku yang selalu kalah. Dengan membayar tebusan di setiap kekalahannya berupa memberikan uang jajan lebarannya seratus persen pada si pemenang. Mungkin sebuah perlombaan yang tidak wajar bagi kebanyakan orang. Bahkan terkadang ada saja yang mengomentari perlombaan kami. Perlombaan yang menyulutkan sifat riyalah, menyulut permusuhanlah dan menyulut semua hal-hal negatif lainnya. Tapi bagi kami perlombaan ini hanyalah menjadi penyemangat dalam melakukan amalan-amalan harian Ramadhan.

Seperti ustadz-ustadz di televisi ataupun di desa kami yang selalu mengatakan.

“Bulan Ramadhan adalah bulan obral pahala yang amalan sunah itu bagaikan amalan wajib, dan amalan wajibnya akan diganjar sepuluh kali lipat pahala oleh karena itu marilah kita berlomba-lomba untuk menggapai obral terbesar tahun ini…” dengan semangat ustadz agung menyampaikan ceramahnya di pengajian akhir sebelum Ramadhan di desa kami.

Kata-kata ustadz agung lah yang menjadi sebuah pemicu semangat kami dalam melakukan perlombaan ini.

***

Tak terasa sudah memasuki pekan kedua kami melakukan perlombaan tahun ini. Seperti biasa kami bertemu di gubuk rindang pinggir sawah di belakang desa untuk melaporkan pencapaian sementara lomba kami.

“Aku sudah khatam satu kali, memberi shodaqoh empat belas kali, shalat wajib belum pernah putus selalu jamaah di masjid, ditambah juga tahajjud ku belum pernah putus selama Ramadhan tahun ini. Sekarang giliran mu Gus?“ ucap Mahli dengan bangga menyampaikan pencapaian sementara lombanya.

“Wah luar biasa sahabatku ini. Dia selalu semangat dalam perlombaan ini. Aku tidak boleh kalah, walau masih di belakangnya” kagumku dalam hati.

“Hey Gus gak usah bengong gitu kali, ayo sekarang giliranmu” Mahli menagih lagi.

“Aku masih jauh darimu Li, aku tinggal satu juz lagi khatam, memberi shodaqoh baru sepuluh kali, shalat wajib jamaah pernah tinggal dua kali, tahajjud juga kemaren kelewat satu kali” ucapku agak ragu memenangkan lomba tahun ini.

“Gak apa, Ramadhan tinggal dua pekan lagi Gus, ayo tetap semangat. Masa setiap tahun aku terus yang ngambil jatah jajanmu, haha. Sekarang ayo giliranmu lah yang ngambil uang jajanku” Mahli menyemangatiku.

“Uang jajanku kemungkinan banyak Gus tahun ini, kan tetehku yang di Arab lagi mudik Gus”. Lanjutnya.

“Oke siap aku akan rebut uang jajanmu haha” aku menjadi semangat juga mendengarnya apalagi tetehnya yang menjadi TKW sedang pulang. Pasti uang jajan Mahli lebih banyak dariku.

***

Ramadhan semakin menjelang akhir. Aku dan Mahli makin bersemangat dalam menjalankan lomba di akhir-akhir finish ini. Apalagi di akhir-akhir Ramadhan sekolah sudah libur. Sehingga waktu kami dalam berlomba menjadi semakin lapang. Sebuah desa kecil yang pernah menjadi tempat istana dari tokoh nasional Sultan Ageng Tirtayasa menjadi hamparan luas lapangan amalan harian kami. Dari sahur hingga sahur lagi menjadi waktu yang tanpa batas kami dalam berlomba.

“Semangat amat itu yang lagi tilawah di masjid, suaranya siapa yah” ucap warga.

“Siapa lagi mang kalau bukan Agus dan Mahli” jawab warga yang lainnya. Sudah tak asing lagi jika warga di desa membincangkan kami tiap tahunnya.

Setelah Dhuha seperti biasa menjelang waktu Zhuhur aku berkeliling desa untuk mencari orang yang membutuhkan pertolongan dan yang akan aku beri shodaqoh hari ini. Kulihat seorang nenek-nenek pengemis dari desa sebelah menghampiriku. Dengan sangat lemah dia mengulurkan tangannya padaku, meminta untuk keikhlasan hatiku memberinya sebagian rizki. Sudah pasti karena memang sudah kujatahkan untuk memberi shodaqoh hari ini, aku dengan sigap mengulurkan tangan. Aku memberi nenek tersebut uang sepuluh ribu rupiah. Dengan wajah yang bercampur antara letih dan senang nenek itu berucap.

“Alhamdulillah ya nak. Semoga kamu menjadi anak yang shalih, dapat membanggakan kedua orang tua, dan yang lebih utama adalah semoga amalan-amalan yang dilakukan mu ini bukan hanya di bulan suci ini aja, tapi di hari-hari bulan lainnya juga, amin” doa nenek itu

Seperti cambuk aku mendengar doa nenek tersebut. Terutama di akhir kalimat doanya. “…semoga amalan-amalan yang dilakukan mu ini bukan hanya di bulan suci ini aja, tapi di hari-hari bulan lainnya juga…“. Aku tersadar bahwa amalan-amalan harianku hanya penuh ketika bulan Ramadhan saja. Sedangkan di bulan-bulan lainnya. Jangankan untuk shalat tahajjud dan shodaqoh, untuk shalat wajib jama’ah pun terkadang aku lupa. Seolah-olah di bulan suci inilah aku melakukan taubat, sedangkan di bulan-bulan lainnya aku melakukan kemaksiatan. Satu bulan penuh berbuat kebaikan dan melakukan amal-amal shalih, sebelas bulan lainnya melakukan kemaksiatan dan kedurhakaan pada-Nya.

“Astaghfirullah” tanpa diperintah hatiku berucap, dan beberapa tetesan air mata pun tak terasa ikut jatuh membasahi pipi menyesali perbuatan ini. Terasa campur aduk perasaanku kali ini antara sedih, menyesal dan malu pada-Nya.

“A…amin” jawabku sedikit terbata membalas doa nenek tersebut. Perlahan-lahan nenek itu pergi untuk berkeliling lagi. Tetapi doanya masih terngiang jelas di telingaku.

***

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu aku dan Mahli akhirnya telah tiba. Ramadhan sudah menyisingkan kakinya untuk bergegas pergi setelah adzan Maghrib sore ini. “Tok… tok… tok… dug… dug… dug” suara bedug di masjid disambung dengan suara yang begitu indah.

“Alla…hu akbar, Alla…hu akbar”

Entah kenapa aku rasa suara adzan Maghrib kali ini lebih merdu dari biasanya. Terdengar lebih tenang dan lebih dalam memanggil jiwa-jiwa muslim untuk menghadap-Nya. Bergegas setiap warga desa berbondong-bondong pergi ke masjid setelah berbuka puasa di rumahnya masing-masing. Aku yang lebih dahulu pergi ke masjid dibandingkan Mahli, dengan setia menunggunya di pelataran masjid desa. Dari kejauhan tampaklah Mahli yang tampak bersemangat berlari menuju masjid dan mencoba menghampiriku. Dengan agak kelelahan Mahli membisikkan sepatah kalimat di telingaku.

“Jangan lupa ba’da Maghrib ini kita laporan yah” dengan agak tersengal dia membisikkan.

Hanya senyuman yang kubalas padanya, Mahli pun membalas senyumanku disertai tepukannya pada pundakku.

“Allahu akbar” suara takbir imam, kala memimpin shalat Maghrib penutup Ramadhan tahun ini. Maghrib pun berlalu, obor-obor menemani di sepanjang jalan desa. Kembang api pun menghiasi langit malam ini menemani bintang-bintang. Suara petasan pun tak kalah menemani indahnya gema takbir yang didengungkan di setiap pelosok desa.

Dengan diiringi gema takbir yang saling bersahutan. Mahli dengan bangga menyampaikan hasil dari perlombaan amalannya padaku.

“Alhamdulillah Gus aku sudah dua kali khatam, sudah hafal surat Arrahman, full tahajjud, dan shodaqoh full juga tiap harinya, kamu gimana?” Mahli langsung menanyakan ku.

“Alhamdulillah aku juga sudah khatam tiga kali Li, Arrahman tinggal sepuluh ayat lagi, tahajjud bolong empat hari, shodaqoh juga lima hari bolong” paparku.

“Lah jadi yang menang siapa nih, kamu unggul di tilawah, sedangkan aku unggul di yang lainnya” Mahli sedikit kebingungan.

“Tapi ada satu pelajaran nih Li yang aku dapat ketika beberapa hari lalu melakukan shodaqoh pada nenek-nenek” balasku pada Mahli.

“Apa Gus?” Mahli masih penasaran, tentang pelajaran apa yang kudapat dari shodaqohku.

“Waktu itu setelah aku beri uang pada nenek itu, aku didoakan” aku mencoba menceritakan apa yang terjadi pada Mahli.

“Biasa Gus didoain pengemis mah” timpa Mahli.

“Tapi ini beda Li, di akhir doanya nenek itu berucap kurang lebih seperti ini Li semoga amalan-amalan yang dilakukan mu ini bukan hanya di bulan suci ini aja, tapi di hari-hari bulan lainnya juga. aku jadi sadar Li, perlombaan yang kita lakukan tiap tahunnya hanya pada bulan puasa aja, sedangkan di bulan lainnya kita gimana Li, jujur aja aku nol besar Li, semangat beramal shalih, bertahajjud, infaq shodaqoh, Dhuha hanya di bulan puasa aja li. Tapi di sebelas bulan lainnya aku nol besar li.” Ucapku sambil memegang pundak dan mencoba meyakinkan sahabatku ini.

“Sungguh rugi ketika kita beramal di satu bulan tapi maksiat di sebelas bulan, bukankah kalo dihitung kita minus sepuluh bulan, dan di sepuluh bulan itu kita kendor dalam mengerjakan perintah-Nya, atau malah melakukan maksiat pada-Nya” lanjutku menegaskan. Setelah mendengarkan setiap inchi dari argumentasiku Mahli hanya terdiam mendengarnya. Dan mencoba mengalihkan pandangannya dariku dan melemparkannya jauh-jauh tatapannya ke atas langit. Teduh sekali tatapannya. Sehingga aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang di pikirannya oleh Mahli pada saat ini. Setelah Mahli terdiam menikmati tatapannya, tiba-tiba dia menepuk pundak dan menatapku dengan berharap dapat meyakinkanku.

“Oke, kalo kaya gitu. Lomba kita ditingkatkan saja Gus” sambil senyum dia menatapku.

Dengan penuh keheranan aku pun menjawab “maksudnya Li?”.

“Ya lomba kita tingkatkan menjadi lomba seumur hidup, lomba seperti di Ramadhan kemarin tapi kita kerjakan di sebelas bulan lainnya juga. Tidak ada batasnya sampai kapan, yang tahu kapan selesainya lomba ini hanya Allah dan mautNya. Dan biarlah Ia yang memberikan hadiahnya, tapi yang pasti Ia pasti akan menghadiahkan kita surga dan bidadariNya. Jika kita bersungguh-sungguh dalam lomba ini” mencoba meyakinkanku.

“Untuk kali ini kita harus bersama-sama menjadi pemenangnya. Jadi perlombaan ini tanpa batas Gus, kamu siap?” imbuhnya.

Aku kaget dengan apa yang diucapkan oleh Mahli, sungguh tak percaya sahabatku ini akan mengucapkan perjanjian lomba barunya padaku. Perjanjian lomba baru yang memimpikan kita secara bersama-sama keluar sebagai pemenangnya. Dengan hadiah yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh setiap insan yang ada di dunia ini. Maka dengan penuh keyakinan aku pun menjawab.

“Insya Allah siap Li, aku terima perlombaan ini sekali lagi”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Demonstrasi Menentang Kemenangan Trump, Satu Warga Amerika Meninggal Dunia