Home / Berita / Internasional / Asia / Ulama Thailand Tak Melarang Bekerja Hari Jum’at

Ulama Thailand Tak Melarang Bekerja Hari Jum’at

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pattani. Ulama Thailand Selatan Chula Ratchamontri Aziz menegaskan bahwa ajaran Islam tidak melarang Muslim bekerja pada hari Jumat. Siapa saja yang melarang Muslimin bekerja pada hari Jumat, dapat dianggap melanggar hak asasi manusia, katanya seperti ditulis koran Bangkok The Nation Kamis (4/10).

Dalam surat sepanjang tiga halaman yang dilayangkan kepada Southern Border Provinces Administration (SBPA), Aziz mengatakan bekerja pada hari keagamaan Islam Jumat tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Allah Maha Agung, kata Aziz, memerintahkan umat Islam untuk bekerja sehingga mereka bisa mendapatkan penghidupan sendiri dan tidak menjadi beban orang lain.

“Seperti yang kita dengar setiap hari, Islam tidak melarang bekerja sehari-hari bahkan pada hari Jumat, yang merupakan hari keagamaan penting. Apa Islam mengatakan seorang Muslim tidak boleh bekerja untuk mendapatkan penghasilan lebih dari pada sembahyang Jumat?,” tulis Aziz kepada Sekjen SBPA Jenderal Thawee Soddong.

Surat Aziz itu menanggapi permintaan Thawee yang khawatir dengan maraknya selebaran di provinsi-provinsi selatan yang menyatakan bekerja pada hari Jumat dilarang oleh ajaran Islam. Mereka yang bekerja pada hari Jumat diancam dengan kekerasan.

Banyak warga di provinsi-provinsi selatan (ada 14 provinsi di Thailand Selatan) memutuskan menutup bisnis mereka setiap Jumat, karena takut keselamatan mereka terancam.

Chula Ratchamontri juga mengatakan mengancam orang lain untuk tidak bekerja pada hari Jumat adalah pelanggaran total hak-hak dasar orang lain dan dianggap sebagai ajaran palsu Islam demi keuntungan sendiri.

SBPA akan menerbitkan selebaran dalam tiga bahasa: Inggris, Thailand dan Melayu, serta akan membagi-bagikan kepada masyarakat di lima provinsi selatan yang mayoritas penduduknya Muslim.

Kerusuhan di Thailand Selatan, terutama di provinsi Pattani, merebak sejak 2004. Eskalasi kekerasan semakin meningkat pada 2006, tatkala PM Thaksin Shinawatra mengerahkan pasukan skala penuh di Selatan.

Thaksin terguling oleh kudeta militer pada 2006, namun konflik sektarian terus memangsa korban mencapai 2.579 orang pada September 2007. Hingga pemerintahan PM Abhisit Vejjajiva pada 2008, jumlah korban tewas mencapai 3.000 orang. Belakangan kekerasan sektarian mulai menurun pada pemerintahan Yinluck Shinawatra. (mdr/inilah/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Serangan bom di Thailand Agustus lalu (islammemo.cc)

Menhan Thailand: Serangan Bom Agustus Tidak Ada Kaitan dengan Umat Islam Pattani