Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Generasi Terbaik Itu….

Generasi Terbaik Itu….

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Dalam sejarahnya dakwah Islam yang dibawa oleh Rasul pernah melahirkan sebuah generasi yang menyejarah, sebuah generasi terbaik yang pernah ada dalam sejarah kehidupan Islam. Mereka adalah generasi yang kemunculannya tidak akan terulang lagi untuk kedua kalinya. Walaupun terdapat beberapa tokoh atau pribadi tertentu di sepanjang masa namun kemunculannya tidak akan dalam jumlah yang besar dan terkumpul dalam satu tempat. Mereka adalah generasi yang muncul di awal berdirinya dakwah ini.

Mereka adalah generasi yang memang telah teruji kualitasnya, dengan berbagai cobaan yang dialami tetap tegar berdiri dijalan dakwah. Meskipun siksaan sering dihadapi tapi tak pernah goyah dalam memelihara keimanan di dalam dada. Pun pada saat musuh menggoda dengan kesenangan dunia, tak sedikit pun hati terlena karenanya. Mereka adalah generasi sahabat yang telah berjuang bersama-sama dengan Rasul dalam menghidupkan dakwah ini di awal kemunculannya. Oleh karena keistimewaan itulah sepertinya menjadi sangat penting untuk mengkaji bagaimana keistimewaan ini dapat mereka dapatkan. Dan kita dapat mengambil pelajaran darinya. Pelajaran yang dapat membuat kita menjadi lebih baik lagi dijalan dakwah ini, jalan dakwah jalan yang dipilih oleh para nabi.

Jika kita pikirkan lebih jauh lagi sebenarnya ada benang merah yang menghubungkan kita dan generasi sahabat yang benar-benar istimewa tersebut. Yaitu, Al Qur’an yang menjadi sumber petunjuk dari kehidupan dan juga sebagai manhaj kita dalam berdakwah masih ada dan masih terjaga kemurniannya. Dan juga hadits sebagai penjelasan terhadap Al Qur’an serta petunjuk-petunjuk dari perjalanan serta sirah hidup baginda Rasul masih begitu terang di depan mata. Kedua hal itu juga ada pada masa sahabat dan kedua hal itu jugalah yang menjadi pegangan oleh mereka. Lantas apakah yang membedakan antara Al Qur’an dan hadits pada saat ini dengan zaman para sahabat terdahulu?

Yang berbeda bukanlah Al Qur’an dan hadits, karena keduanya adalah warisan yang ditinggalkan oleh Rasul untuk seluruh umat yang dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan. Tetapi perbedaannya adalah pada pribadi kita sendiri, perbedaannya adalah cara kita dalam memperlakukan Al Qur’an serta hadits. Perbedaannya terletak pada cara kita dalam menggunakan Al Qur’an dan hadits. Perbedaannya terletak dalam hati kita, niat kita dalam mempelajari serta mentadabburi isi dari Al Qur’an. Mari kita simak perbedaannya yang dikemukakan oleh Sayyid Qutbh dalam bukunya Ma’alim fi atthariq.

1. Kemurnian sumber

Para sahabat yang hidup pada zaman Rasul hanya memiliki satu sumber petunjuk kehidupan yaitu Al Qur’an. Mereka tidak menggunakan yang lain sebagai petunjuk hidup mereka. Mereka bersih dari pemikiran-pemikiran lain yang ada pada saat itu, yang mengelilingi jazirah Arab. Rasul benar-benar menjaga agar para sahabat hanya belajar dan mengambil pelajaran dari Al Qur’an bukan dari yang lain. Sedangkan hadits dijadikan sebagai penjelasan dari isi Al Qur’an. Petunjuk utama yang dipakai tetaplah Al Qur’an. Pun dengan kitab-kitab yang terdahulu tidak digunakan oleh Rasul dalam memberikan pengajaran kepada para sahabatnya. Dalil yang terang atas keadaan ini ialah kemurkaan Rasulullah SAW ketika beliau melihat Sayyidina Umar bin Al- Khattab R.A. ada memegang sehelai kitab Taurat. Melihat keadaan ini beliau pun bersabda: “Demi Allah sekiranya Nabi Musa masih hidup bersama-sama kamu sekarang pun, tidak halal baginya melainkan mesti mengikut ajaranku.”(Hadits riwayat Al-hafidz Abu Ya’la dari Hammad dari Asy-sya’bi dari Jabir)

Rasul bertujuan untuk membentuk sebuah generasi yang bersih hatinya, bersih pemikirannya dari sembarang sumber yang dapat mengotori pemikiran serta merusak hati para sahabat sehingga akhirnya terbentuklah sebuah generasi yang gemilang dengan berbagai prestasi yang diukir oleh para sahabat dalam dakwah Islam yang mereka jalani.

2. Cara menerima Pengajaran

Hal kedua yang mungkin dapat kita pelajari dari para sahabat adalah cara penerimaan Al Qur’an yang mereka lakukan. Para sahabat ketika mendapatkan tambahan ayat yang diberikan oleh Rasul, mereka layaknya prajurit yang mendapatkan surat perintah, dengan serta merta mereka akan mengerjakan apa yang ada di dalam surat perintah tersebut. Begitu juga para sahabat, dada mereka bergemuruh, semangat mereka membara ketika mendapatkan tambahan ayat yang diberikan oleh Allah melalui Rasul tanpa membuang banyak waktu mereka akan segera berusaha menjalankannya. Dan mereka tidak akan meminta tambahan hafalan ayat sebelum ayat sebelumnya dapat mereka implementasikan dalam kehidupan mereka.

Menghafal Al Qur’an untuk diamalkan, mengkaji Al Qur’an untuk diimplementasikan dalam kehidupan itulah yang menjadikan generasi sahabat sebuah generasi yang luar biasa penuh dengan prestasi. Mereka tidak menjadikan Al Qur’an sebagai obat pelipur lara, yang dibuka dan dipelajari ketika kesedihan datang. Mereka tidak menjadikan Al Qur’an sebagai bahan bacaan yang dibaca di kala waktu senggang. Mereka tidak membaca al Qur’an karena untuk mendapatkan prestasi atau prestise ketika bisa menghafal al Qur’an.

3. Melepaskan diri dari kejahiliyahan

Seseorang yang telah berislam, sudah sepatutnya melepaskan dirinya dari segala aktivitas jahiliyah di masa lampaunya sebelum ia berislam. Seorang muslim haruslah berislam secara kaaffah, jangan setengah-setengah tetapi harus berislam secara menyeluruh. Ketika seseorang telah berislam maka akan ada jurang pemisah antara kehidupannya di masa kini dengan masa lampau ketika ia belum berislam. Sebagai seorang yang telah berislam maka ia harus mengambil Islam secara menyeluruh karena Islam merupakan sebuah agama yang syamil yang mengatur setiap sendi kehidupan manusia, maka sudah seharusnya kita mengikuti segala aturan Islam dalam segala bidang.

Pelepasan diri dari segala bentuk kejahiliyahan di masa lampau merupakan salah satu bentuk dari penjagaan terhadap keislamannya sendiri. Karena ketika kita masih menyimpan “sisa-sisa” kejahiliyahan di masa lampau maka kita akan menjadi sangat mudah untuk terjerumus lagi ke dalam kejahiliyahan. Kita dapat membandingkan kehidupan para sahabat sebelum dan sesudah mereka berislam. Bagaimana mereka benar-benar meninggalkan segala bentuk kehidupan mereka di masa lalunya sebelum mereka berislam.

Pelepasan diri terhadap kejahiliyahan tidak hanya sebatas bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka. Lebih dari itu, mereka juga siap melepaskan diri dari lingkungan dan keluarga mereka yang masih dalam kejahiliyahan jika memang kebersamaan mereka dengan lingkungan dan keluarga yang masih jahiliyah itu mengancam keislaman mereka. Mush’ab bin Umair adalah contoh nyata dari pelesan diri dari kejahiliyahan secara keseluruhan. Mush’ab bin Umair memilih untuk meninggalkan keluarga dan segala kehidupan mewahnya demi untuk menjaga keislamannya. Dari seorang yang dikenal dengan parlente menjadi seorang yang ketika beliau wafat, kain kafan yang digunakan tidak mampu untuk menutupi seluruh tubuhnya. Hal ini mampu dilakukan oleh Mush’ab karena ia menyadari bahwa Allah swt telah membeli diri dan harta nya dengan surga dan seisinya ketika ia masuk ke dalam Islam. Hal itulah yang membuat ia mampu melepas segala kehidupannya di masa lampau untuk mengejar hal yang lebih indah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Yoeandha
Mahasiswa jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus NADWAH UNSRI sebagai kepala departemen PPSDM. Mantan ketua Umum Lembaga Dakwah Fakultas Teknik KALAM FT.

Lihat Juga

Menag Turki: Dunia Islam Bertanggungjawab atas Tragedi Muslim Rohingya