Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menangis Muhasabah atau Sedih/Marah?

Menangis Muhasabah atau Sedih/Marah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMenangis adalah suatu cara perasaan mengungkapkan segala isinya. Setiap orang yang memiliki perasaan pasti bisa menangis, baik laki-laki maupun perempuan. Seringkali kata kerja menangis dianggap sebagai pekerjaan orang-orang yang dianggap cengeng. Kata kerja ini seringkali dilakukan oleh perempuan karena perempuan lebih sering menggunakan perasaan daripada logika. Padahal tidak demikian, kata kerja menangis tidak hanya aktif mengandalkan perasaan, seringkali logika pun turut berperan dalam proses menangis.

Pada umumnya, menangis disebabkan oleh berbagai faktor perasaan, tetapi secara logika ada sebab maka ada akibat yang mengikutinya. Menangis ada yang diawali karena muhasabah dan menangis karena sedih/marah. Keduanya hampir sama tetapi penyebabnya sangatlah berbeda. Penyebab menangis yang pertama yaitu muhasabah adalah karena mengingat dan menyadari kesalahan yang dilakukan diri sendiri. Sedangkan menangis sedih atau marah disebabkan mengingat dan merasakan kesalahan yang dilakukan oleh pihak lain.

Menangis karena mengingat dan menyadari kesalahan diri sendiri sangat dianjurkan. Bahkan Al Qur’an mengajarkan kita perihal menangis. Seperti dalam Q.S Al Maidah:83 “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad saw)”.

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.S Al Isra: 109).

Rasulullah saw pun adalah seorang yang sering menangis. Rasulullah SAW memberitakan keutamaan menangis karena takut kepada Allah. Beliau menceritakan perihal tujuh macam orang yang berada dalam naungan Allah pada hari tiada naungan, kecuali hanya naungan-Nya, antara lain Rasulullah saw menyebutkan: “Dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya, lalu bercucuranlah air matanya” (H.R Bukhari & Muslim)

Umar bin Khattab RA pernah memberikan nasihatnya “Hisablah dirimu sebelum dihisab…”. Inilah logika yang paling beralasan untuk menangis dalam muhasabah. Tentunya dalam tangisan tersebut begitu banyak perasaan yang bercampur aduk, adanya penyesalan terhadap dosa, adanya ketakutan terhadap Allah yang menguasai hari pembalasan, adanya harapan yang mengantarkan pada perbaikan, juga adanya rasa syukur karena diberi nikmat menangis. Semua hal bercampur pada perasaan yang tidak dapat digambarkan secara logika tetapi bisa mengantarkan logika untuk mengawali perubahan.

Sebagai manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan, dianjurkan lebih banyak menangis untuk bermunajat memohon ampun kepada Allah swt. Daripada memperbanyak tertawa yang malah justru mengeraskan hati karena melupakan akhirat. Menangis karena mengingat dosa yang telah dilakukan akan menambah rasa takut kita kepada Allah swt.

Lain halnya dengan menangis karena sakit fisik, hati atau mental. Ketika menangis karena fisik yang sakit, tertimpa musibah atau ujian adalah proses biologis yang alami pada setiap makhluk. Jadi setiap orang bisa mengalaminya. Yang berbahaya adalah menangis karena merasa tersakiti/disakiti sehingga menimbulkan perasaan marah, kecewa, atau dendam. Menangis karena merasa tersakitilah yang harus dihindari. Menangis karena tersakiti berarti menangis hanya karena mengingat kesalahan orang lain. Mengingat kesalahan orang lain adalah pekerjaan yang paling mubazir karena kesalahan diri pun kemungkinan jauh lebih banyak dan lebih besar.

Perasaan yang tersakiti seringkali menuntut lebih didahulukan daripada logika yang pada akhirnya memunculkan perasaan negative. Perasaan negative ini yang kemudian menggerakkan hawa nafsu untuk mendoakan tidak baik pada orang yang menyakiti, menghadirkan keputusasaan, dan yang lebih ekstrim adalah menyalahkan takdir. Na’udzubillah.

Cara yang paling melegakan ketika menangis karena tersakiti adalah memaafkan, menganggap kesalahan yang orang lain perbuat adalah cerminan dari kesalahan diri, mengalihkan penyebab berasal dari kesalahan pribadi dan mendoakan kebaikan untuk orang yang menyakiti.

Biar bagaimanapun menangis adalah pekerjaan yang menyenangkan bila dilakoni dengan baik. Alunan tangisan terindah adalah alunan tangisan yang merintih memohon ampunan Allah subhanahuwata’ala dalam muhasabah di sepertiga malam. Bermunajat di keheningan malam diiringi tutur doa yang lembut dan halus.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atik NH
Lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tinggal di Sumedang. Berharap tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain (pembaca maupun dirinya). Mari bersama kita mencari ilmu pengetahuan.

Lihat Juga

Suami Suka Marah Karena Kecanduan Game, Apa yang Harus Saya Lakukan?