Home / Berita / Nasional / Momentum Hari Kesaktian Pancasila

Momentum Hari Kesaktian Pancasila

Dakwatuna.com Ini kan hari kesaktian #PANCASILA. Apa yang kita bisa lihat dalam momentum ini? Kalau kita membaca upaya-upaya pencarian jati diri bangsa Indonesia, hingga merdeka. Nuansa #PANCASILA selalu ada. Katakanlah sila persatuan, ia telah ada dan menguat jauh sebelum sumpah pemuda 28 Oktober. Lalu, serangkaian nilai itu dirumuskan dalam 5 sila yang mencakup semua pengalaman kita sebagai bangsa.

Sisi penting #PANCASILA adalah karena tak satu pun nilainya yang bertentangan dengan aspirasi kelompok.
Dulu pernah ada semacam “insiden” dalam sejarah yang menjadi semacam sengketa kecil piagam jakarta. Saya sebut “insiden” karena sebetulnya pemotongan kalimat itu hanya salah paham. Mungkin juga kesalahan para pimpinan. Tapi, sikap mengalah sebagian pimpinan masa itu ada catatan kebesaran sejarah kita tersendiri. Maka, apakah yang menjadi makna pentingnya hari ini, setelah#PANCASILA dan 3 pilar lainnya kita terima?

 

Ada problem ketika #PANCASILA berada pada dua titik ekstrem: jargon penguasa dan simbol semata. #PANCASILA pernah dikebiri oleh kekuasaan hanya sebagai alat penyeragaman dan pembungkaman pendapat publik. Sakit jika kita mengenang masa-masa ketika kebebasan kita dirampas dari semua tempat atas nama #PANCASILA.

 

Lalu, secara ekstrem sekarang #PANCASILA hanya simbol. Bahkan hanya gambar seekor burung “Garuda Pancasila”. Lebih celaka dari itu adalah karena kita melihat para pemimpin baru tak lagi mengenal #PANCASILA secara substantif. Apatah lagi jika kita mau betul-betul menjadikannya sebagai sebuah kajian penting dan menjadi ruh kehidupan kita semua.

 

Ide-ide dalam sila-sila #PANCASILA harusnya jadi kajian yang bahkan kita yakini akan menginspirasi dunia. Sila ketuhanan, bagaimana kita ciptakan perdamaian dunia jika kesepakatan tentang ajaran Tuhan tidak kita capai bahkan di sini? Sila kemanusiaan dapat antarkan kita menjadi soko guru dunia di tengah tragedi dan bencana yang menggila.
Sila persatuan, akan memiliki makna jika tidak saja secara nasional kita semakin tahu kenapa kita perlu bersatu. Sila tentang musyawarah dapat dimaknai lebih luas pada konsensus dan conflict resolution secara damai.

 

Dan akhirnya keadilan sosial. Sebagai buah dari seluruh cabang keadilan yang lain: hukum, ekonomi, dan lain-lain. Butir-butir penting ini terbukti valid dan tidak lekang oleh sejarah. Maka kita tak punya pilihan kecuali mendalami #PANCASILA.

 

Ada kritik bahwa dokumen-dokumen kenegaraan sekarang ini sudah tidak mengutip #PANCASILA, apa betul? Memang ide-ide besar sering dilupakan. Dan kita memang sering mengidap semacam lupa. Seperti kata penyiar TV tadi pagi, “Selamat Pagi #PANCASILA, apakah kau masih sakti?”. (Sekian) (dinukil dari Twitter @Fahrihamzah)

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Fahri Hamzah
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB), Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Lihat Juga

Memperingati Hardiknas, Nuansa Baru Konsep Pendidikan Dalam Kerangka Pancasila