
Kawan, kita ini adalah hamba Allah yang tercipta dengan sebaik-baik bentuk. Sebaik-baik takdir yang Allah tetapkan dalam kitab Lauh Mahfuzh. Bilamana kini kita dalam kondisi tak mengenakkan – menurut kita – dan kita telah jatuh bangun dalam usaha memperbaikinya kemudian belum ada tanda-tanda Allah untuk memberikan setitik bantuanNya. Apakah kemudian kita akan menggugat Allah?

Sebuah nasihat mayapada, Tertoreh dalam kitab tak bertinta, Terjalin melalui hembusan angin, Beranjak dari peraduan nan dingin. Karena sebuah makna tak menjadi bias, Manakala surya bersinar di atas singgasananya, Dan pujian terus mengalun kepadaNya, Bilamana beberapa hati menepi, Luapkan hakikat penciptaan.

Di usia yang telah melewati angka 20 atau bahkan lebih dari itu, tak sedikit yang mengalami goncangan-goncangan hati bagi para jomblo (baca: single). Usia yang terbilang rawan menurut saya, dimana pada masa itu gejala ingin di cintai dan di sayangi sangatlah besar. Belum lagi melihat keadaan sekitar yang sangat membuat hati miris karena masih sendiri. Ya, fenomena pacaran.

Bahkan dengan sebuah topeng, Akan muncul sebuah kebanggaan, Berlenggak lenggok menapaki panggung kehidupan, Hilir mudik pujian melewati langkahnya, Riuh suara tepuk tangan hidupkan nuansanya. Semua tersenyum, semua terkesima, Meski fatamorgana tak berjarak, Itulah melodi, irama detak persinggahan.

Apalagi yang tersisa kini, Dari erangan panjang, Menembus rasa sakit maha dahsyat, Merintih tak terperi, Bertahan menghadang serangan maut, Apalagi yang tersisa kini, Dari buaian hingga dekapan yang melenakkan, Air susu membaur, Menyatu dalam raga.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Di saat istrinya harus dirawat di rumah sakit, Pak Yanto (bukan nama sebenarnya) justru mendapat Surat Peringatan dari atasannya. Cerita bermula ketika istri Pak Yanto kembali merasakan sakit pada perutnya, beberapa hari setelah dokter menyatakan kandungannya sudah bersih dan tak perlu dilakukan tindakan medis apapun, termasuk kuret.

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raaf 96).

Kita hidup bersama kelemahan atau kekurangan dan kelebihan. Semua itu Allah titipkan bukan tanpa hikmah di dalamnya. Allah menitipkan kelemahan kepada kita bukan untuk kita cela atau untuk kita keluhkan. Allah menciptakan manusia tidak ada yang sia-sia. Bagaimana pun wujudnya, manusia adalah makhluk paling sempurna yang Allah ciptakan. Dari sebuah kelemahan, seseorang mampu mengubah dunianya. Di balik kelemahan sesungguhnya tersimpan pula kelebihan yang sempurna.

Pagi yang cerah, namun wanita berjilbab hijau muda itu tampak semakin gelisah. Sudah 3 hari berselang dan ia sama sekali tidak bisa sedikit pun memejamkan matanya meskipun kelelahan telah meliputi tubuhnya yang telah ringkih dan melemah. Beberapa saat lagi, ya, beberapa saat lagi seseorang yang ia tunggu-tunggu akan hadir, belahan jiwanya, darah dagingnya.