Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta yang Terlupakan

Cinta yang Terlupakan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comJika kita berbicara cinta, maka yang terlintas adalah sesuatu yang menyejukkan, menyenangkan, menentramkan dan membuat damai. Bagi kebanyakan orang, mereka yang masih berpacaran dan memadu kasih dengan lawan jenis, akan merasakan indahnya cinta ketika bersama pasangannya. Tenteram rasanya jika ada yang selalu menemani seraya menikmati keindahan dunia berdua. Indah rasanya meski sebenarnya hubungan ini belumlah halal. Tapi seperti itulah cinta yang dirasakan para muda-mudi saat ini.

Bagi sebagian orang lainnya, yang lebih tepat disebut sebagai aktivis Islam sangatlah tidak mengenal yang namanya pacaran. Mereka cenderung menikmati masa lajangnya dengan amal dakwah. Menantikan masa indah merajut cinta ialah dengan menanti masa-masa indah pernikahan. Terkadang, membaca berbagai buku dan literatur tentang pernikahan seraya mempersiapkan diri ke sana. Menuju sebuah tempat di mana keindahan merajut cinta dan menjalin kasih dengan lawan jenis dapat terwujud dalam nuansa halal atas ridha-Nya.

Cinta memang menjanjikan suatu keindahan, baik bagi yang sedang menanti pernikahan atau bagi yang sudah merasakan manisnya berumah tangga semua terasa indah. Ketika menghadapi masalah yang pelik, dihadapi bersama-sama. Ketika menanggung sebuah beban yang berat, ditanggung bersama. Saling menyemangati di saat susah, saling berbagi di saat senang. Bagi sepasang suami-istri, mendidik anak bersama, membangun kehidupan harmonis di bawah ridha-Nya, sang suami yang begitu pulang merasakan kehangatan sambutan istri dan senyum anak-anaknya, istri yang dengan hangatnya menyambut sang suami serta membimbing anak-anaknya, tentu hal yang sangat menyenangkan. Indah cinta benar-benar terasa di sini, cinta yang berlandaskan karena Allah SWT. Namun, mesti ada sebuah perenungan di sini, mari kita sama-sama simak firman Allah SWT berikut ini:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali-imron: 14)

Ada satu hal yang perlu kita renungi dari ayat ini. Apakah kita benar-benar mencintai sesuatu itu karena Allah? Apakah semua keindahan yang kita rasakan itu benar-benar nyata atau bersifat sementara? Pernahkah terbayang di pikiran kita ketika semua keindahan dan kesenangan yang kita rasakan itu hilang dalam seketika?

Coba kita renungkan dan tanya ke dalam hati ini. Jika semua yang membuat kita bahagia saat ini, teman, keluarga, ayah, ibu, istri dan semuanya itu tiba-tiba dipanggil oleh Allah SWT. Akankah kita menangis histeris, merasa kehilangan segalanya, merasa dunia tidak bersahabat atau bahkan merasa bahwa Allah tidak adil? Jika ini yang akan kita rasakan maka sekaranglah saatnya kita merekonstruksi niat kita ini.

Ketika kita bersama sebuah kebahagiaan, merasakan indahnya cinta, terkadang ada sebuah hal yang sering terlupakan. Terkadang sering kita menantikan seseorang yang akan mendampingi kita dengan sebuah kebahagiaan dan harapan akan bisa merasakan indahnya cinta, namun lagi-lagi ada sebuah hal yang terlupakan. Jika kita akan merasa begitu sangat sedih dan sangat kehilangan saat orang tersayang kita harus menghadap-Nya, bahkan kita merasa tidak dapat menemukan kebahagiaan lagi karena hal itu maka di sinilah kita telah melupakan suatu hal yang sangat berharga yang menyebabkan segala keindahan dan kesenangan itu hadir.

Cinta kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya cinta. Di kala senang, kita sering melupakan hal ini padahal Allah-lah yang membuat kita merasakan kesenangan itu. Kebahagiaan yang tadi kita sebutkan itu hanya sementara, terbukti ketika kita kehilangan, kita tidak lagi merasakan kebahagiaan itu. Tapi, berbeda kondisinya dengan cinta kepada Allah SWT karena Allah itu kekal sehingga kita tidak akan pernah kehilangan. Cinta yang dapat membuat sebuah tangisan terasa begitu indah.

Di sinilah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika kita merajut indahnya jalinan kasih rumahtangga, cinta kepada Allah-lah yang sebenarnya membuat kita merasakan kebahagiaan itu. Kesenangan bersama lawan jenis yang belum halal hanyalah kesenangan semu semata. Kebahagiaan bersama dalam rumah tangga juga tidak boleh melebihi besarnya cinta kepada Sang Pemberi Cinta. Sehingga, ketika sekarang kita sedang mengagumi seseorang, mendambakan seseorang untuk menjadi pendamping hidup kelak, merasakan getar-getir dengan lawan jenis sehingga timbul keinginan memilikinya, dan lainnya. Itu bukanlah hal yang tidak wajar, namun bukankah akan lebih baik jika kita fokuskan hal itu kepada sumber kita meraih cinta itu, yaitu Allah SWT. Rasa kagum terkadang timbul, rasa cinta yang terkadang sulit dihindari, rasa tenteram yang terkadang terasa di hati cobalah untuk menepisnya dengan memfokuskannya kepada Allah SWT karena dengan merasakan indah cinta kepada Allah SWT itu kita bisa merasakan semua kebahagiaan dan ketenteraman itu.

Jadi, ketika kita ingin mendapatkan cinta lawan jenis, alihkanlah dengan keinginan untuk mendapatkan cinta Allah SWT karena itu adalah syarat mutlak bagi kita untuk bisa merasakan keindahan cinta.

Aku ingin mencintaimu
setulusnya,
sebenar-benar aku cinta
dalam doa dalam ucapan dalam setiap langkahku
aku ingin mendekatimu selamanya
sehina apapun diriku
kuberharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Sekolah Tinggi ilmu Statistik juruan Statistik Ekonomi. Sedang menjabat sebagai ketua UKM ROHIS STIS.

Lihat Juga

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba