Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aktivis, Buanglah Pemikiranmu yang Dangkal!

Aktivis, Buanglah Pemikiranmu yang Dangkal!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Hakikatnya, setiap orang memiliki waktu yang sama untuk meraih kesempatan, beramal mulia, dan memberi manfaat sebanyak mungkin. Beragamnya hiruk pikuk dunia menawarkan beragam ladang ujian, problematika hidup, serta pahit getir menjadi bumbu penyedap ramainya suguhan duniawi. Kenyataan yang menyimpan beraneka ragam sarat akan makna kehidupan, menghadirkan manusia dalam realita perannya. Peran yang cukup menarik dalam siklus pembaharuan dan kemunduran. Peran manusia yang terpecah menjadi dua keping golongan, yakni mereka yang kaya dengan maksimalitas waktu dalam menanam benih kebaikan dan mereka yang terlena akan manisnya tawaran waktu untuk berleha-leha. Mereka yang produktif selalu menyebar kebajikan dengan memaknai setiap jengkal kehidupan. Menghidupkan kembali gairah yang sempat hilang dengan membumbui dan memompa kembali ruhiyah sehingga lahirlah suasana yang teduh untuk berpikir jernih. Dan tak lupa jua teringat dengan mereka yang hanya menerima kebaikan, bahkan mungkin cenderung memberi mudharat dengan kehadirannya. Na’udzubillah. Semoga saya dan pembaca terhindar dari golongan kedua. (Aamiin).

Mengubah cara pandang hidup memang tidak gampang. Apalagi pemikiran hidup tersebut telah mendarah daging layaknya budaya yang telah kokoh berdiri di atas rutinitas sang pemilik. Paradigma pemikiran yang menguasai ruang kerja otak harus diubah. Tidak ada tawar menawar dalam hal ini. Satu-satunya pilihan adalah merekonstruksi perubahan. Dan biarlah jatuh bangun adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita.

Perubahan yang baik memang tidak instan. Namun bukan berarti sulit untuk dilakukan. Banyak hal yang membuat seorang individu menolak untuk mengidealismekan pola pikir. Namun banyak juga yang menggiring seseorang untuk senantiasa berada dalam cara pandang yang positif dan jauh berpikir ke depan. Bahkan kerangka pikir yang matang jauh melebihi usia yang dimiliki. Dan yang menentukan semua ini adalah pribadi masing-masing, sejauh mana diri mampu memimpin kecerdasan emosional untuk selalu disinyalir dan dinetralisir dengan imun yang baik. Karena sejatinya manusia adalah roda kemudi untuk dirinya sendiri.

Umumnya manusia cepat puas dengan kadar yang dilakukannya jika sejalan dengan kepuasan batin. Anggapan waktu telah dimaksimalkan adalah salah satu faktornya. Menganggap diri telah melakukan hal yang lebih untuk orang lain adalah jembatan yang menghantarkannya ke jenjang pemikiran yang dangkal. Sungguh disayangkan jika para aktivis terlibat dalam kepongahan yang tidak memberi manfaat. Cepat mengagumi diri jika telah terlibat dalam penyelesaian suatu perkara.

Sejatinya, aktivis adalah roda penggerak. Pemuda dengan ketajaman intelektual dan semangat yang berapi-api. Dengannya, dunia pun bahkan tunduk atas pemikiran mereka yang jernih. Sejarah pun tak lupa mencatat peran aktivis yang menumbangkan rezim orde baru. Kesatuan rekaman sejarah membuktikan bahwa peran pemuda sebagai aktivis penggerak memiliki peran yang sangat strategis.

Namun peran tersebut semakin hari semakin mengendur. Semakin bertemu ke ambang batas. Semangat perubahan pun kian memudar. Pemikiran yang jernih pun kian keruh, akibat dari provokasi pemikiran yang telah bercampur aduk dengan pemikiran sekuler. Tak heran lagi jika yang bergerak cepat dalam bagian dakwah adalah sekumpulan minoritas, hanya segelintir orang. Sejatinya, hakikat kualitas yang tinggi memang lebih bagus daripada kuantitas banyak tetapi minim kualitas. Namun, dengan mewahnya tawaran duniawi yang sekarang, kuantitas pun memiliki peran yang signifikan.

Maka bangunlah para aktivis! Ingatlah akan amanah besar kita. Jangan menshalihkan diri sendiri dengan mengemban sendiri amanah dakwah. Ajaklah mereka. Mereka yang mungkin belum mendapat sentuhan akan makna jalan panjang ini. Tingkatkan kuantitas kader. Dengan kualitasmu, make-up lah mereka. Salurkan energi semangatmu dalam membangun batu bata bangunan ini kepada mereka. Perketat strategi. Dan imunitaslah mereka yang belum kuat ruhiyahnya. Maka, jalan ini akan tetap eksis. Karena kuantitas pun menentukan keberhasilan perjalanan kita. Tetap ingat agar selalu ahlul sunnah wal jama’ah. Dengan satu kata kunci, jangan pernah berpikiran dangkal bahwa engkau telah menyelesaikan urusanmu.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Student of Universitas Bakrie, Accounting Study Program. Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Basmala Universitas Bakrie. Member of Muamalah Community. Seorang hamba yang tidak sempurna namun selalu berusaha menjadi sempurna di mata Tuhan.

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial

Organization