Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mahalnya “Harga” Kehidupan

Mahalnya “Harga” Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (beckermanphoto.com)

dakwatuna.comSuatu sore sehabis pulang dari bengkel motor, aku mendapati sebuah pemandangan yang mengharukan dijalan. Saat melintas di depan warnet UNTAN (Universitas Tanjungpura), aku terkejut melihat Ular lidi berukuran kecil dengan gerak kebingungan hendak menyeberangi jalan.

Biasanya aku tidak terlalu peduli dengan ular, kejadian hampir menabrak ular sering aku alami. Bahkan dulu saat pulkam lebaran Idul Adha aku hampir menabrak ular berukuran sangat besar dan gara-gara ular itu aku hampir masuk parit. Tapi kali ini Ularnya terasa istimewa buatku, setelah agak jauh dari ular itu aku memutuskan untuk berhenti dan melihat dari kejauhan apa yang akan dilakukan oleh ular itu.

Seperti dugaanku sebelumnya, Ular ini ingin menyeberangi jalan, namun dia sepertinya menunggu waktu yang tepat untuk bergerak. Nampak sangat jelas ular ini diliputi keraguan untuk menyeberang. Subhanallah walaupun tidak memiliki akal makhluk ini agaknya memiliki insting untuk menyeberang pada saat yang tepat. Jika salah perkiraan sedikit saja, hidupnya akan berakhir dijalan itu.

Dalam pikiranku terbayang apa yang akan terjadi pada ular ini, seperti nya dia akan mengakhiri ajalnya sore ini di tangan para pengendara motor dan mobil yang lumayan padat sore itu. Sempat aku terpikir betapa harga kehidupan itu benar-benar mahal untuk makhluk sekecil ini. Betapa kerasnya dia menjalani kehidupan. Betapa kuatnya perjuangannya untuk bertahan hidup. Bergerak dengan mengandalkan perutnya demi melanjutkan kehidupan untuk mencari makan dan lokasi yang enak untuk berteduh.

Subhanallah, begitu banyak keajaiban dalam hidup ini yang terkadang jarang kita selami mutiara inspirasinya. Lama aku terpekur dalam pikiranku sendiri dan kulihat dari kejauhan Ular itu mulai bergerak menyeberangi jalan. Mungkin dia merasa saat itulah moment yang tepat untuk bergerak. Saat yang ditunggu untuk melanjutkan perjuangan hidupnya di seberang jalan. Namun naas buatnya sebuah mobil berwarna merah laksana malaikat maut tiba-tiba melintasi jalan. Melindas bagian tubuhnya sehingga dia tertahan di tengah jalan itu. Hanya kepalanya yang bisa sedikit digerakkan sementara bagian tubuhnya yang lain sepertinya sudah tak punya kemampuan untuk digerakkan. Tak lama kemudian, dari arah berlawanan seorang pengendara motor melintas dan melindasi bagian tubuhnya yang lain. Kali ini ular itu tak mampu lagi untuk bergerak dan sepertinya hidupnya sudah berakhir dilindas motor itu.

Harga kehidupan sangat mahal bagi makhluk apapun di dunia ini termasuk ular Lidi itu. Bagi kita manusia, kehidupan di dunia adalah masa di mana kita menikmati perjalanan sebagai seorang musafir untuk menuju dermaga kehidupan yang abadi (akhirat). Kita tak tahu kapan perjalanan kita di dunia akan berakhir. Kita tak pernah tahu apakah matahari di hari esok masih dapat kita nikmati sinarnya. Kita tak tahu apakah udara segar esok hari masih bisa kita nikmati. Kita juga tidak tahu apakah mata kita masih bisa melihat keindahan dunia. Dan masih banyak misteri-misteri mengenai ketidakpastian tentang hari esok. Satu yang pasti kita pasti mengakhiri petualangan hidup kita di dunia ini. Harga untuk membayar hadiah kehidupan yang Allah karuniakan hanya dapat kita bayar dengan investasi amal yang kita siapkan sebanyak-banyaknya selama hidup.

Ular lidi telah mengajarkan kepada kita tentang mahalnya harga kehidupan. Mari manfaatkan sisa umur dalam ketaatan agar ada amunisi yang kita bawa saat kehidupan ini harus dipertanggungjawabkan. Mari berdayakan hidup untuk mengkaryakan semua potensi menuju kebahagiaan di negeri abadi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.

Lihat Juga

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial