Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Tetap Sehat, Meski Telah Senja

Tetap Sehat, Meski Telah Senja

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comBismillahirrahmaanirrahim

Selalu saja ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dalam setiap momentum dan aktivitas yang kita alami, apabila kita mau belajar dan bersungguh – sungguh menggalinya. Meniatkan diri untuk silaturahim, dengan harapan besar sesuai yang dijanjikan dalam hadits Rasul saw, bahwa silaturahim akan memperpanjang umur dan menambah rezeki, maka saya bersemangat ketika ibu-ibu jamaah pengajian mengajak saya untuk berkunjung ke rumah salah seorang jamaah yang saat itu berhalangan hadir.

Banyak hal yang menjadi pelajaran, sepanjang perjalanan dan saat bertemu dengan shahibul bait. Maha suci Allah, beragam tanaman dengan berbagai bunga, menjadikan perjalanan yang jauh tidak terasa melelahkan. Demikian juga dengan berbagai pemandangan menarik yang terlihat di rumah yang kami kunjungi. Subhanallah, beragam hiasan dinding kreasi tangan yang sangat menarik, tadinya saya pikir adalah karya anak-anak atau cucu shahibul bait. Ternyata semua adalah hasil karya dari shahibul bait, seorang ibu atau nenek yang sudah berusia 82 tahun. Acungan jempol dan apresiasi spontanitas saya berikan, dengan cara mengungkapkan kekaguman dan memfoto semua karya beliau.

Di usia yang boleh di bilang tidak muda lagi, yakni 82 tahun, seorang nenek ini tetap produktif dengan karya-karya keterampilan tangannya. Meski beliau menganggap dan merasa sudah tua, saya katakan pada beliau: “ibu masih muda, yang jelas tetap punya semangat muda, seperti dulu Utsman bin Affan menjadi khalifah pada saat usia beliau sudah 80 tahun, maka tetaplah merasa muda”. Demikian pujian saya pada beliau.

Apa saja kiatnya agar tetap sehat, semangat dan berkarya meski di usia senja? Berikut kiat yang boleh dicontoh oleh mereka yang masih muda (atau merasa muda).

1. Rajin silaturahim dan berjumpa dengan banyak orang.

Bertemu banyak orang, dengan berbincang yang bermanfaat, menggali ilmu dan bercanda ala kadarnya akan membuat perasaan riang, tidak suntuk, dan melatih otak untuk terus bekerja, paling tidak bekerja mengingat sesuatu hal, mengkoordinasi gerak lisan, dan yang jelas, insya Allah akan mendapatkan banyak ilmu, pengalaman dan informasi serta inspirasi dan solusi. Suasana hati yang riang akan mempengaruhi sistem hormon yang berpengaruh terhadap kesegaran dan kesehatan fisik. Coba saja kita perhatikan. Mana yang kelihatan lebih tua, orang yang sedang sedih, atau orang yang sedang bahagia. Atau coba bandingkan, mana yang kelihatan lebih tua, orang yang sedang marah atau yang sedang tersenyum?

Yang perlu kita antisipasi adalah, jangan sampai pembicaraan dalam silaturahim tersebut mengandung kalimat yang laghwi (sia-sia), atau mengandung ghibah (gosip), atau mengandung kebohongan dan kedustaan, atau pun menyakiti sesama saudara. Jika hal ini yang terjadi, maka silaturahim akan menjadi rusak dan hilang pahalanya, karena tertutup oleh dosa yang kita perbuat dengan melakukan hal-hal tersebut.  Maka penting untuk diingat, sebelum silaturahim kita harus sudah mempunyai “stok” bahan pembicaraan bermanfaat yang akan kita gulirkan, baik berupa ilmu, pengalaman atau informasi yang bermanfaat. Selain itu juga harus dibiasakan saling mengingatkan jika pembicaraan sudah mulai melenceng, agar tidak terlalu jauh melenceng. Terakhir, tutuplah silaturahim atau pertemuan dengan doa kafaratul majelis dan saling berjabatan tangan.

2. Kerjakan hal-hal praktis secara teratur

Membiasakan diri untuk mencatat kegiatan kita sehari- hari, atau mencatat pengeluaran dan pemasukan anggaran rumah tangga, mencatat ide atau gagasan yang muncul. Ini semua akan mengkondisikan otak kita untuk bekerja, mengingat suatu hal, dan hal ini akan mengurangi kepikunan.  Ibarat pisau, jika lama dibiarkan tidak digunakan, dia akan menjadi berkarat dan tumpul, dan boleh jadi lama kelamaan tidak bisa dipergunakan kembali. Otak kita kurang lebih demikian, akan mudah tumpul dan linglung, jika tidak biasa dilatih. Hal- hal praktis lain yang akan bermanfaat untuk kesegaran fisik dan otak, adalah menggunakan saat-saat istirahat atau waktu senggang untuk menyalurkan hobi. Misal bagi kaum perempuan bisa dengan merajut, menyulam, merangkai bunga, memasak, berkebun atau pun membuat keterampilan yang lain. Siapa tahu juga dari sekadar hobi, bisa bernilai ekonomi. Bagi kaum laki-laki misalnya dengan melukis, memodifikasi kendaraan, berkebun, merancang program komputer dan sebagainya.

3. Mengkonsumsi makanan sehat dan gizi seimbang.

Saya pernah bertemu juga dengan seorang nenek lain yang usianya tidak terpaut jauh dengan nenek yang tadi saya ceritakan di atas, yakni usia 78 tahun. Tapi sungguh secara jujur saya mengagumi kekencangan dan kehalusan kulitnya. Saya tanyakan apa rahasianya. Beliau menjawab, gampang saja, rajin minum air putih, dan makan hanya makanan yang direbus (tidak digoreng, dibakar, dll). Butuh kedisiplinan memang, dan jujur untuk satu sangat berat, paling tidak bagi saya.

4. Rahasia keempat adalah gunakan selalu akal/otak dan lisan kita untuk membaca Al-Quran.

Ajaib, inilah salah satu mukjizat Al-Quran yang saya rasakan. Ada teman saya yang matanya minus sampai 18, bahkan kaca matanya mirip seperti botol. Tapi setiap kali membaca al Qur’an dia tidak pernah menggunakan kaca matanya, tapi dengan mata telanjang, dan ajaibnya, tidak pernah merasakan pegal matanya, dan kepala pun tidak pusing. Beda sekali dengan ketika membaca huruf latin, baru 5 menit saja, tanpa kaca mata, dijamin mata sangat pegal dan kepala pusing. Awalnya saya tidak percaya. Saya pun mencobanya. Benar saja, meski minus mata saya boleh dibilang tidak kecil, setiap kali membaca Al-Quran sengaja tanpa kaca mata, tapi saya tidak pernah merasakan mata pegal dan kepala pusing. Tapi giliran membaca huruf latin, tanpa kaca mata, dijamin baru 5 menit saja pasti pegal dan pusing.  Dengan pengalaman ini, kita semakin yakin bahwa Al-Quran sebagai syifa, obat, bukan hanya penyakit hati, tapi juga penyakit fisik. Jiwa dan raga menjadi sehat dengan selalu dekat al Qur’an. Penasaran? Ayo mencoba. Semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Arief Santras Photography)

7 Tips Menjaga Rambut Tetap Sehat Meski Memakai Hijab

Organization