Home / Pemuda / Cerpen / Hijrahnya Humaira

Hijrahnya Humaira

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pheezank.blogspot.com)

dakwatuna.com – “Hai, ini Arsy yang dulu pernah satu SMP sama gue ya?”

Ucapan itu memecah keheningan Arafah, salah satu toko buku Islami di kota ku. Toko buku tua yang mungkin hampir tidak pernah dikunjungi mahasiswa atau pun mahasiswi. Letaknya padahal cukup strategis di dekat persimpangan dan dekat dengan gerbang kampus ku.

“Iya, siapa ya?”, ucapnya.

Jujur. Aku malu. Entah kenapa tiba-tiba lidah ini menjadi tidak terkontrol untuk memulai pertanyaan yang bagiku cukup aneh, dan terkesan sok kenal sok dekat (SKSD) sekali. Ya, dia adalah Muhammad Arsy Satria, sosok yang dahulu pernah ada dalam hidupku. Sejak dulu begitu banyak yang mengaguminya dalam diam, kagum atas prestasinya, keaktifannya di OSIS dan Rohis SMP-ku, dan keshalihannya. Dan aku lah salah satu nya, orang yang dalam diam memperhatikannya. Aku yakin dia tak mengenali ku sama sekali. Sangat yakin.

“Gue Humaira,” ucap ku santai.

Rasanya aku ingin terbang hari ini.

***

“Humaira, ke Arafah yuk!”

Handphone-ku bergetar, ada sebuah pesan yang masuk, dan itu pesan darinya, dari Arsy. Seiring perjalanan waktu, akhir-akhir ini kita cukup dekat. Sesekali kita menghabiskan waktu berlama-lama di Arafah. Arsy sangat suka berdiskusi tentang buku-buku baru atau pun seputar organisasi yang digelutinya. Kadang dia juga bercerita tentang KL (kuliah lapangan) yang dilakukannya di kota ini, terkadang juga dia ceramah seputar Islam. Aku hanya mendengar, tepatnya lebih banyak mendengar. Tidak ada topik yang berarti yang harus aku ceritakan padanya.

Dunia ku tidak sehebat dunia Arsy, aku hanya aktivis biasa di kampus ku, sedangkan Arsy sudah menggeluti organisasi ini dan itu, dengan jabatan ketua ini dan itu. Referensi buku-buku ku juga sudah pasti lah tak menarik baginya, cuma sekadar novel-novel cinta. Terbalik dengannya yang begitu berbinar-binar saat membicarakan seputar perkembangan IT, politik, sirah, Fiqih, semua dilahapnya.

“Ra, lu udah baca buku ini?” tanyanya.

“Udah, itu yang tentang wanita shalihah lebih baik daripada bidadari bermata jeli ya?” aku balik bertanya.

“Yap bener, sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalihah Ra. Bahkan Rasulullah SAW pun menjaminnya bahwa ia lebih baik daripada bidadari-bidadari di Surga nanti Ra.

Aku diam. Bisu. Tidak tahu ingin menimpali seperti apa penjelasan darinya.

“Ra, gue yakin lu bisa lebih baik dari sekarang suatu hari nanti.” Arsy tersenyum pada ku.

“Ya iya lah, gue kan dalam proses menjadi akhwat shalihah.” Apa yang aku ucapkan? Ah sudah lah, Arsy pasti juga sudah mengira aku akan melontarkan jawaban-jawaban bodoh atas penjelasannya.

“Apa? Akhwat shalihah? Ga salah denger Ra? Hahaha. Beneri dulu jilbab lu Ra!”

JLEB.

Aku menelan ludah. Tak ku sangka kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Sosok yang ku kagumi selama ini menganggap jilbab ku ga bener? Astaghfirullah. Malu. Memang penampilan aku sudah pasti “engga banget” bagi Arsy. Sepatu kets dengan jeans ketat, baju kaos panjang, dan jilbab paris tipis yang kupakai pun berantakan. Jauh sekali dari kata ‘akhwat shalihah’. Selama ini aku merasa nyampan padahal.

Aku hanya tersenyum. Begitu pun Ia.

***

Pagi ini berbeda. Aku sedikit kerepotan melipat 2 jilbab sekaligus. Mencari baju-baju longgar yang hampir sulit ditemui di tiap-tiap sisi lemari ku.

Ku langkahkan kaki keluar kamar kosanku. Pagi ini aku harus tutorial jam 9. Aku bergegas, tak sabar menunjukkan penampilan baru ku kepada semua penjuru makhluk dunia. Termasuk pada mu, Arsy.

Benar. Semua orang di kampus melihatku. Semua akhwat-akhwat kampus yang melihatku, tersenyum dan kemudian memberikan pelukan hangat untuk ku. Pelukan hangat yang dulu pernah aku dapatkan ketika pertama kali aku menggunakan jilbab ke SMA.

“Selamat ya Ukht, istiqamah ya!” Ucapan semua orang hampir sama. Semua bernada seperti itu.

Begitulah, semua terhipnotis dengan penampilan baru ku. Kini aku tidak seperti Humaira yang dulu. Humaira yang sekarang adalah seorang berjilbab gede dan panjang, bermanset kecil di pergelangan tangannya, memakai rok dan berkaos kaki. Ku lihat lagi perubahanku, cantik sekali. Aku hampir tersenyum sendiri saat membayangkan aku akan lebih baik dan lebih cantik daripada bidadari bermata jeli, seperti ucapan Rasulullah kepada Ummu Salamah. Insya Allah.

Dalam bayangan cermin itu, ada sosok Arsy di sana. Aku terhipnotis dengan kalimat-kalimat persuasive halusnya. Setiap kali aku melihat cermin dengan pakaian seperti ini, aku melihatnya. Selalu.

Meski Arsy sudah pergi jauh. Tanpa izin. Tanpa pamit terlebih dahulu padaku. Meski begitu, aku selalu melihat nya dalam cermin ku, dalam jilbab panjangku. Aku tak tau ke mana ia pergi, yang jelas dia meninggalkan ku. Lenyap dari peradabanku. Jatuh air mata ini setiap kali aku mencoba mengingat kebaikannya. Mengingat senyuman-senyumannya, yang tanpa ia ucapkan satu kali pun, aku yakin dia menyayangiku.

Arsy datang dengan tiba-tiba, mencerahkan hari-hari ku dengan tiba-tiba. Mengubah 100% hidup ku dengan tiba-tiba. Pergi pun dengan tiba-tiba. Takdir memang indah. Allah kirim kan dia, yang entah dari mana asalnya, datang kepadaku dan mengubah segalanya menjadi lebih baik. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepada mu, Arsy.

Allah Maha Besar, dari-Nya hidayah itu datang dengan penuh kasih sayang, melalui sesosok makhluk bernama Arsy. Semoga Allah melimpahkan kasih sayang untuk mu, Arsy. Semoga kita bertemu di tempat dan momen yang tepat. Lalu bercerita panjang lagi seperti di Arafah. Tertawa lagi dan sama-sama menangis lagi. Jika tidak, maka izinkan aku untuk berdoa pada-Nya agar kita dipertemukan di Jannah-Nya nanti. Aamiin Ya Rabb.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi muslim Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, koleris sanguinis.
  • “Ra, gue yakin lu bisa lebih baik dari sekarang suatu hari nanti.” Arsy tersenyum pada ku.
    “Ya iya lah, gue kan dalam proses menjadi akhwat shalihah.”
    Apa yang aku ucapkan? Ah sudah lah, Arsy pasti juga sudah mengira aku
    akan melontarkan jawaban-jawaban bodoh atas penjelasannya.
    “Apa? Akhwat shalihah? Ga salah denger Ra? Hahaha. Beneri dulu jilbab lu Ra!”
    JLEB.
    Aku
    menelan ludah. Tak ku sangka kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
    Sosok yang ku kagumi selama ini menganggap jilbab ku ga bener?
    Astaghfirullah. Malu. Memang penampilan aku sudah pasti “engga banget”
    bagi Arsy. Sepatu kets dengan jeans ketat, baju kaos panjang, dan
    jilbab paris tipis yang kupakai pun berantakan. Jauh sekali dari kata
    ‘akhwat shalihah’. Selama ini aku merasa nyampan padahal.
    Aku hanya tersenyum. Begitu pun Ia.

    Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/09/23172/hijrahnya-humaira/#ixzz27hvoJkaK

    —–

    orang mau berubah koq malah diketawain? hehe…

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir

Organization