Home / Pemuda / Essay / #IndonesiaTanpaJIL (Episode ke-3): Hal-hal Mendasar

#IndonesiaTanpaJIL (Episode ke-3): Hal-hal Mendasar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pelajar membubuhkan tanda tangan. (Dok Jascom)

dakwatuna.com – Terkait berdirinya JIL ini, sebenarnya ada kurang lebih 3 hal mendasar yang perlu dipertanyakan (sok atuh kalo teman-teman mau menambahkan juga), yakni:

1. Mengapa Islam harus diliberalkan?

“Islam Liberal adalah wajah Islam yang non-ortodoks, agar fleksibel dengan perubahan zaman, oleh karena itu nama lain dari Islam Liberal adalah Islam Protestan.”
-Luthfie Asy-Syaukani-

Bantahan:

Yuk, kita lihat definisi ortodoks versi KBBI biar fair. Or·to·doks a 1 berpegang teguh pada peraturan dan ajaran resmi, msl dl agama; 2 kolot; berpandangan kuno. Hingga kini, ada namanya Kristen Ortodoks yakni umat Kristen yang berpandangan sangat kuno. Bahkan oleh penuturan Bang Akmal (Penulis Islam Liberal 101), mereka sampai-sampai masih menggunakan lilin dan anti terhadap teknologi. Umat Yahudi pun demikian, kalau kita sering melihat umat Yahudi yang berpakaian hitam putih rapi, berkumis, maka mereka adalah Yahudi Ortodoks. Parahnya lagi, mereka saling mencaci antar-sesama umat Yahudi yang tidak seperti mereka.

Lalu, adakah umat Islam yang demikian? Yang hingga kini anti terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan? Kalaupun kita masih meneladani ajaran Rasulullah di masa lampau, bukankah kita masih terbuka dengan hal yang baru saintis?

Sedangkan Protestan itu, menurut Bang Akmal, adalah sebuah gerakan bukan sebuah agama. Berawal dari umat Kristen yang memprotes otorisasi gereja di abad pertengahan yang sangat memonopoli setiap keputusan ketika itu. Bahkan Galileo pernah diwajibkan oleh gereja meralat ucapannya bahwa Bumi mengelilingi matahari yang menurut gereja bahwa Bumi adalah pusat tata surya. Lah, kalau kita (umat Islam) mau protes sama siapa? Al Qur’an? Bahkan semakin ke sini, sains semakin membenarkan isi Al Qur’an.

2. Bagaimana Islam diliberalkan?

“…Sampean mending belajar lagi deh. Jangan Quran hadits Quran hadits mulu. Ga ada gunanya diskusi kalo larinya ke situ-situ terus.”

-Tweet Ulil ketika diskusi dengan Stanley Ahmad (Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Surabaya)-

Bantahan:

Jadi, Islam diliberalkan (baca: dibebaskan) dari Al Qur’an dan Sunnah? Dari sini saja kita sudah dapat menemukan kesalahannya. Anak SD saja tau, salah satu rukun iman adalah iman kepada Kitab-kitab Allah. Lah, kalau Islam sudah tidak berpijak dengan Al Qur’an dan Sunnah…patut dipertanyakan keimanan dan keislamannya.

3. Apa batasan dari Islam yang Liberal (baca: bebas)?

“Saya sering ditanya, kalau anak Anda gay, lesbian, Ahmadiyah, dst, apakah Anda biarkan? Jawaban saya, pasti. Ya, saya akan biarkan.”
-Saidiman Ahmad-

Bantahan:

Islam Liberal menunjukkan bahwa mereka sendiri tidak punya batasan jelas dalam ‘membebaskan’ Islam. Makanya sering kebebasan ini cenderung menjadi kebablasan.

Allahu a’lam…

To be continued.

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa STIDA Al Manar, Utan Kayu jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Bekerja sebagai guru Bimbel bid. Matematika di Bimbingan Belajar Clever. Merangkap juga sebagai Owner SETIA Distributor (facebook.com/setiabuku dan @SAdistributor) yang menjual buku-buku, terutama yang bertema keislaman.
  • DHANI WU

    dr omongannya dedengkot islam liberal ini kayaknya pilar2 islam sdh pd dilanggar, ngapain msh pake nama islam?

  • nie ajaran sesat,tokoh nasional pun ikt jd wayangnya

Lihat Juga

Pelajar muslim

Dunia Islam Perlu Mendukung AS