Home / Pemuda / Cerpen / Gadis Bisu Bermata Syahdu Mengusik Pikiranku

Gadis Bisu Bermata Syahdu Mengusik Pikiranku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Di pojok oplet yang menderu kencang, ku tatap sorotan dua belah mata seorang gadis bermata syahdu. Jilbabnya yang lebar dan besar berwarna kuning keemasan yang melambai-lambai tertiup angin jendela seakan-akan ingin menyapaku. Tetapi, sayangnya jarak terlalu jauh untukku memulai sapaan, karena aku duduk di bangku tempel (bangku serap). Aku hanya mampu diam dan memalingkan senyuman ke luar sana. Jilbab lebarku mulai menari-nari di terpa angin. Kampusku masih jauh. Perlu waktu beberapa menit agar sampai di Kampus Islami UIN SUSKA RIAU. Tiba-tiba aku di kejutkan dengan tepukan tangan pertanda mobil di hentikan.

“Apa sih, susahnya mengucapkan kata minggir?”, Batinku menggerutu saking terkejutnya. Ohh ternyata gadis berjilbab kuning emas itu. Aku baru tau dia bisu karena dia tidak ada bersuara. Masih di seputaran Garuda sakti, pikiranku melayang-layang mengingat si gadis misterius tadi. Aku penasaran. Bagaimana caranya dia nanti berinteraksi dengan orang-orang? Sedangkan berbicara saja tidak bisa? Sungguh aku penasaran. Ingin bertemu lagi dengannya. Tetapi? Bagaimana caranya? Kenal saja tidak.

Sepulang dari Kampus, Aku merasakan beban kelelahan setelah menyerap ilmu di kelas dan berkeliling menjajakan empek-empek dari satu fakultas ke fakultas lainnya. Alhamdulillah, jualan hari ini laris manis. Aku berniat ingin memberikan sepotong jilbab untuk saudara seimanku, akhwat seperjuangan yang selalu memotivasiku. Ketika di Toko, aku melihat dia lagi. Yaa. Gadis bisu berjilbab kuning keemasan yang tadi pagi berpapasan satu oplet denganku. Aku tak menyangka, Allah mengijabah harapanku tadi. Dalam sehari ini aku bertemu 2x dengannya. Ini pertemuan keduaku.

“Ngapain dia di sini? Batinku kembali terusik ingin bertanya langsung padanya.

Subhanallah! Aku terkejut, ketika dia memperlihatkan selembar kertas kepadaku.

“Ukhti mau cari jilbab? Apa yang bisa Ana bantu ukhti? ^Mia^

Aku baca dan kutatap tulisan di lembar kertas itu. “Ana mau beli jilbab. Model terbaru ya? Ada?” Aku menjawab langsung dengan lisanku, tanpa perlu menjawab dengan tulisan. Belum sampai 10 detik, Ukhti Mia menyodorkan jilbab yang sangat anggun ke hadapanku lengkap dengan kertas yang bertuliskan, Rp 65.000 ukhti, bisa di tawar kok? Ukhti maunya berapa?

Aku belum menjawab. Ku periksa uang di dompet coklatku. Hmmm, uangku Cuma Rp 45.000. Ternyata Dia melihat kegundahanku. Dia kembali menyodorkan kertas kepadaku.

Jangan khawatir ukhti, berapa uang yang ukhti punya? Bawa saja jilbab ini.

Aku hampir tak percaya. Orang bisu sungguh luar biasa naluri dan instingnya. Hanya dengan melihat raut wajah, dia sudah mampu menebak kegundahan hatiku. Langsung aku peluk dia. Syukron Ukhti. Dia mencoba untuk menjawab kata-kataku, tetapi suaranya tidak keluar dengan sempurna. Dia hanya mengangguk-angguk. Aku banyak belajar dari keteguhannya menapaki hidup. Semangatnya dalam menggiatkan sunnah Rasulullah, salah satunya dengan berdagang. Berbeda denganku yang terkadang masih cengeng, bahkan dalam berdagang-pun aku terkadang tidak rela memberikan “utang” kepada temanku. (Hmmm…. bakhil ya? heheh), prinsipku, daripada berutang (mereka susah bayarnya), lebih baik aku gratiskan saja empek-empeknya. Gitu.

****

Aku rindu ingin bertemu gadis itu lagi. Aku ingin membeli jilbab untuk saudaraku di kampung sebagai oleh-oleh, karena rencana aku ingin pulang ke Pariaman di Lebaran tahun ini. Tadi siang aku mengunjungi toko itu. Tetapi, aku sungguh tidak percaya. Air mata ini langsung berderai. Aku sangat-sangat tidak percaya, bahwa toko dia terbakar. Aku sungguh menyesal, mengapa ketika pertemuan itu aku tidak meminta nomor hapenya. Inilah kekuranganku. Lupa yang menerpa pikiranku. Ya Allah. Semoga engkau melindungi dia. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (26 votes, average: 9,54 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hafizhah Dzikra
Melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam negeri Sutan Syarif Kasim Riau. Pendidikan bahasa Inggris (2011) yang lahir di Pariaman tahun 1991, hobi membaca, design grafis, menulis, merakit komputer dan merancang website. Sebagai seorang mahasiswa yang mencoba untuk senantiasa bisa memperbaiki diri dengan terjun dalam dunia dakwah. Mencoba aktif di berbagai organisasi. Seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) komisariat Raliji-Suska (di bawah naungan UIN Suska Riau), FLP Pekanbaru (Forum Lingkar Pena), serta sedang giatnya ikut aktiv gerakan menghafal Alquran di Madinatul Quran. Dengan motto Lakukan sesuka hatimu yang penting halal dan di ridhoi Allah SWT.
  • Terharu membayangkannya,..jazakallah
    Seandainya ikhwan punya insting seperti “Gadis Bisu Bermata Syahdu” itu, keterbatasan kata namun tidak membatasi ekspresi kata-kata hatinya, sebuah bentuk ta’awun yang sungguh menyentuh kalbu, sungguh indah,..memang begitulah tarbiyah seharusnya,..

  • Yeni Novreza

    subhanallah… terharu :-(… mudah-mudahan Allah izinkn ukhti bertemu lagi dengannya… bnyak pelajaran yang bisa kita ambil dari ketegaran gadis itu, mengingatkan kita utk selalu bersyukur kepada ilahi Rabbi….

  • oki alkahfi

    nice story

Lihat Juga

Batu Itu Keluar Dari Mata Saat Membaca Al-Quran