Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Surat yang Membuatnya Gemetar

Surat yang Membuatnya Gemetar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSurat pemanggilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu telah membuat keluarga besar istrinya terperanjat dan risau. “Apa salah suami saya? Kena kasus apa?” tanya Sang Istri. Tentu saja juga membuat dirinya yang sedang memulai i’tikaf di hari pertama Ramadhan itu gamang. Bagaimana bisa kondisi ini ada ketika ia benar-benar ingin memulai i’tikafnya secara penuh mulai hari pertama sampai hari terakhir nanti. Tapi ia menyadari bahwa ini semua takdir Allah.

Yang membuatnya sedikit tenang adalah ia dipanggil oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu kapasitasnya hanya sebagai saksi atas sebuah kasus yang terjadi di sebuah perusahaan asuransi, tempatnya ia bekerja. Bukan sebagai tersangka ataupun terdakwa. Tapi itu saja sudah membuatnya menguras energi dan mengalihkan fokusnya.

Berulang kali ia membaca surat itu. Pelan-pelan. Lalu ia pahami betul setiap kata yang ada. Agar tidak ada kata yang tidak dimengertinya. Ia mengontak teman-temannya untuk berkonsultasi tentang kasusnya ini. Semua dipersiapkan dengan betul supaya tenang dalam persidangan dan ia mampu menjawab semua pertanyaan Majelis Hakim.

Selama proses itu ia mengamati cara berpikir dan tindakannya sendiri. Di sinilah ia mengerti bahwa telah ditampakkan di hadapan dirinya sebuah pelajaran maha penting. Pelajaran tentang laku yang seharusnya ia kedepankan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Seharusnya ia lebih gemetar saat menerima ‘surat-surat’ dari Allah itu tinimbang surat dari Pengadilan negeri Jakarta Selatan. Surat dari Sang Pencipta Manusia yang kedudukannya jelas sangatlah jauh daripada Majelis Hakim yang hanya makhluk fana. Apatah lagi saat membacanya. Ia seharusnya gemetar saat mendapat ancaman-ancaman jika Ia tidak memenuhi apa yang telah dijanjikannya saat ia masih berada di alam ruh.

Seharusnya ia berlinang air mata saat ia tak mampu memahami setiap makna dibalik kata yang tertulis di sana. Apatah lagi saat ia menyadari bahwa ia tak mampu untuk melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

Seharusnya ia lebih takut dihadapkan pada sebuah pengadilan kelak yang benar-benar tanpa intervensi uang dan kekuasaan. Pengadilan yang membuat setiap manusia terperanjat ngeri karena kedahsyatan suasananya. Apatah lagi Sang Hakimnya di sana.

Pun seharusnya ia lebih mempersiapkan diri sesempurna-sempurnanya untuk mencari bekal terbaik. Agar kelak ia tak terjerembab karena dilempar dengan buku amalnya dari belakang. Duhai diri…berbeda sekali diri menghadapi dua hal ini.

“Karena yang satu adalah material dan yang satunya lagi adalah masalah iman,” ujarnya. Ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari milyaran manusia yang hidup di muka bumi ini dan berada pada zaman serba materialistis. Tapi tak serta merta harus terpalit, terseret-seret, dan terjerumus pada semua yang menggodanya.

Tekad pun tercetus, materialisme bolehlah hidup tapi bukan di hatinya tapi cukup di tangannya. Di hatinya hanya untuk Al Qur’an yang kembali ia baca setiap harinya satu juz setelah Ramadhan meninggalkan dirinya. Ia tartilkan bacaannya, karena setiap huruf di dalamnya punya hak masing-masing untuk dibaca dengan benar. Ia bertekad kuat memahami makna yang dikandungnya, selain pula menambah pundi-pundi kekayaan hafalannya. Tertatih-tatih dengan memohon perlindungan-Nya agar ia selamat dalam mengumpulkan sebaik-baik bekal.

Saya termenung mendengar tuturannya pada saat acara mabit tadi malam. Ini adalah sebagian kecil dari upayanya meri’ayah (memelihara) amalan-amalan Ramadhan agar tetap tumbuh dan bersemi setelah Ramadhan dan Syawal usai. Sebuah telatah yang patut dijiplak mentah-mentah tanpa perlu membayar royalti. Biar Allah SWT yang membayarnya saja dengan balasan banyak kebaikan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

7 Tahun Kedua: Menyelamatkan Pernikahan Dari Kebosanan