Home / Pemuda / Cerpen / Cintakah yang Membunuhku?

Cintakah yang Membunuhku?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com –  “Ku tunggu kau di perpustakaan istirahat kedua besok”

Pesan singkat yang aku kirimkan kepada seorang gadis yang akhir ini sering terpikirkan di dalam benakku. Ku ketik nomor tujuan pesan ini di HP ku Nokia 6100. Angka demi angka ku ketekan tombolnya hingga akhirnya muncul informasi terkirim yang terlihat di layar telepon genggamku. Ada kalanya aku menanti balasan darinya, tetapi asa itu tak banyak merubah suatu keadaan. Setiap kali terdengar nada messageku, sebuah nada polyphonic. Aku berharap itu balasan dari pesan singkatku tetapi ketika kubuka ternyata tidak satu pun sms yang masuk bernamakan orang yang kunanti.

Kulanjutkan kembali membuka lembaran demi lembaran buku berjudul “perasaban dunia dari Bagdad” yang sedang aku pelajari. Ku telusuri huruf demi hurufnya. Entah mengapa semua yang ku baca seakan tidak membekas sesuatu pun di dalam hati ini. Pikirannku terpecah bercabang dan tidak terfokus akan ribuan huruf yang ada di dalam buku ini. Benak ku di penuhi bayangan gadis yang membuat aku ingin selalu dekat dengan gadis itu. Jika besok ia benar-benar menemuiku, maka akan ku ungkapkan semua perasaanku kepadanya. Walau pun aku tidak mengharapkan apa pun darinya. Aku hanya ingin mengobati perasaan ini saja. Kelak jika perasaan ini sembuh seperti sedia kala. Aku pun akan menyikapinya seperti tidak terjadi apa-apa seperti air yang mengalir tanpa henti. Aku ingin menjadi normal kembali dan mungkin sesuatu yang aku baca ini dapat hadir kembali di dalam ruang yang luas ini.

Malam semakin hening memecah relung-relung keramaian. Bulan pun semakin beranjak meninggi berbekas di penglihatan jendela berlapis kaca yang terbuka. Sungguh aku tak kuat lagi menahan perasaan ini. Aku ingin semuanya terbuka dan tidak ada lagi penghalang di lubuk perasaan ini. Entah dengan apa aku harus mengungkapkannya. Ya Tuhan, berikanlah hatiku ini suatu kemudahan. Seandainya hati ini bisa berhubungan dengan hati hambaMu yang aku nantikan. Pastilah aku akan mengungkapkan langsung oleh hatiku tanpa perantara udara sekalipun. Seandainya pula aku dipertemukan melalui mimpi yang panjang. Pastilah aku akan meraihnya di dalam mimpi. Seandainya dalam kenyataan ia menghampiriku. Pastilah aku akan segera menyambutnya dengan penuh senyuman tulus yang mengalir melalui aliran darah yang deras menghantarkan getaran yang tidak dapat di lihat dan hanya mata hati yang mampu melihatnya.

Aku pun beranjak tidur, langkah lelah ini memimpin bintang-bintang yang bertaburan mengikutiku dengan berbaris di belakangku. Layaknya pasukan perang yang bersiap siaga berjalan menuju medan perang. Air wudhu yang membasahi wajah ini membuat aku berat untuk memejamkan mata ini. Sesekali tetesannya masih terasa di ujung dagu yang telah kaku tanpa gerakan sedikit pun. Aku ingin segera pergi menuju waktu esok yang entah terjadi seperti apa. Waktu yang waktu yang menjadi rentang hari ini dengan lusa itu. Aku tidak akan tidur malam ini. Akan ku tunggu rahmatNya yang menaungi hamba-hambaNya di langit pertama. Jangan biarkan hati ini tertidur meninggalkan malam dan menyambut pagi dengan begitu singkat. Jangan biarkan hati ini terlelap hingga panggilanNya tak kudengar.

Ku tatap langit dengan cemas. Akankah ia hadir setelah semua yang direncanakan benar-benar terjadi. Akankah wajahnya tetap secerah itu atau mungkin menghadirkan kesedihan di pagi maupun di sore hari yang akan datang. Optimis buta yang selama ini tumbuh seketika di terjang angin ketidakpastian. Akankah aku besok masih diberi kesempatan untuk membukakan mata, menghirup udara, merasakan segarnya air. Merasakan getarannya di tubuh tak berdaya ini. Benar-benar aku tidak mau tidur mala mini. Aku takut semuanya berakhir seketika. Walau pun aku tidak ditakdirkan mati mala mini. Aku akan menghadapinya dengan harapan besok aku akan bertemu dengannya.  Akan ku hadapi rasa sadar yang masih mengekang jiwa ini. Tak akan ku biarkan perasaan ini ku bawa pergi meninggalkan kefanaan dunia ini. Aku berharap perasaan yang akan ku ungkapkan berlari seperti awan-awan yang tertiup angin menuju tempat yang indah atas keinginannya. Aka tetap ku ungkapkan walau besok langit yang biru benar-benar ku tinggalkan menuju kesendirian. Akan tetap ku ungkapkan walau benar-benar bumi yang hijau aka menghimpit dan menenggelamkan jiwa ini.

Ya Tuhan, berikan aku kesempatan menyampaikan rasa rasa yang hadir yang kau ciptakan ini. Mungkin kekalahan yang terjadi kepadaku. Seorang lascar yang berusaha mengibarkan panji suci di atas nama cinta. Aku tidak akan menutupi mata ketika aku melihat laskar-laskar lain dengan gagah dan berani menghampirimu. Bahkan salah seorang di antara mereka pernah menaklukkanmu. Mereka dengan jutaan senjata benar-benar telah siap menyingkirkanku tanpa pandang lagi. Aku rela walau pun aku kalah tetapi kekalahanku benar-benar kekalahan di atas prinsip lascar sejati yang pantang menyerah sebelum berperang. Aku melihat tanda kekalahanku ketika lascar yang lain telah kau dekati dan aku semakin jauh tertiup angin yang dulu pernah menyampaikan kata-kataku. Tetapi aku belum benar-benar merasakan kekalahan yang pasti. Karena kau sendiri yang akan memutuskannya. Aku tidak akan bersedih jika aku terkalahkan. Karena ini hanya peperangan kecil yang aku hadapi. Hanya untuk mengisi waktu singkat dan gadis yang sedang kunantikan pun benar-benar tidak menyangka kalau aku ikut berperang untuk mendapatkannya. Akan terus kupertajam pena ini. Inilah senjata kecil yang akan membantuku menghadapi peperangan ini. Ini bagaikan suatu sayembara besar di dalam dunia yang hanya para laskar yang mampu merasakan dan melihatnya.

Aku tersedih ketika sang gadis terdiam seribu bahasa di depanku. Inilah teka-teki yang harus segera ku pecahkan dan aku akan memecahkan dengan pena ini yang ku pertajam setiap waktu. Jika aku berhasil maka aku benar-benar meraih mimpiku. Mungkin sang gadis impian tak tahu bahwa aku akan berperang di balik bayangan. Agar ia tahu kekuatanku bukan untuk menghancurkan sahabatku.

Detak jam seiring detak jantungku di malam yang begitu panjang. Waktu menunjukkan pukul 1.30 pagi. Aku kumpulkan nyawaku, ku himpun tenaga untuk menggerakkan organ-organku. Kemudian aku terbangun dari tubuh yang diam. Jantung dan nadiku berusaha menyeimbangkan sekuat tenaga. Mengolah lebih cepat cairan di dalam tubuh ini. Aku coba melangkah. Akan ku rasakan hamburan air. Gemericik air menjadi tanda yang aku ikuti suaranya yang semakin jelas terdengar. Langkah-langkah sepiku bersuara di kegelapan malam ketika bintang-bintang di langit terlihat terlelah memancarkan gemerlapnya yang berkedip.  Ku basuh tangan yang berlumur dosa ini dengan air. Kemudian terasakan bahwa kondisi iman ini sedang lemah. Bagian dindingnya terus menipis di terpa angin yang memimpin hawa nafsu. Yang semakin kuat menerobos satu demi satu lapisan keropos. Bagaikan bangunan tua yang tidak terawatt lagi. Setengah kehangatan menyelimuti tubuhku.

Ku hadapkan jiwa ini ke arah terbaik. Ku gerakan bibir ini mengucap kata lantunan harapan kepada Tuhan sang Penggenggam jiwa. Hati ini merintih, tak ada satu pun makhlukNya yang merasakannya selain aku sendiri. Setelah ku jalani, aku segera mengenakan kembali pakaian hangat ini yang selama ini sering aku gunakan di malam-malam yang telah di lewati. Sekarang aku arakan badan ini kearah kiblat. Ku hadapkan sajadah. Aku berdiri dalam untuk shalat malam. Ku pertegas niatku untuk selalu mencintai Maha yang menciptakan cinta. Ku bacakan ayat-ayat Al Qur’an dan kunikmati rasa berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Inna Shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahirabbil ‘alamin”. Ku teteskan air mata tak henti-henti mengalir.  Setelah salam terucap ku sapu air mataku. Setelah itu ku lakukan berdzikir dan lembaran-lembaran mushaf. Ku telusuri dengan jari-jari tangan yang masih lembab bekas sapuan air mata.

“Laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha”

Allah tidak akan menguji seorang hamba kecuali sesuai kemampuannya. Pagi telah setelah ku tengok ke arah timur ketika aku selesai shalat Subuh berjamaah di masjid seberang jalan rumahku. Telah tampak cahaya mentari yang ingin menerangi pagi yang sejuk. Terdengar di pagi hari berderunya lantunan lagu yang berjudul “cinta ini membunuhku”. Membuatku seakan langkah-langkahku tidak merasakan tegarnya bumi tempat aku berpijak. Karena lagu ini pertama kali dan menjadi akrab di telinga sebagai nada tunggu gadis yang sedang menjadi rebutan para laskar. Hingga aku pernah meringis ketika ku coba menghubunginya dan lagu itu tak berperasaan. Tak henti-hentinya terdengar sampai panggilan teleponku di reject. Jadi itulah lagu yang aku benci sekaligus aku sukai dan punya makna tersendiri untukku.

Hati kecil ini pernah berkata kepada diriku sendiri. “Wahai Sabri sudahlah jangan kau harapkan dia lagi. Itu tidak baik untukmu”. Tapi ego selalu mengindahkan hal itu. Aku pun berangkat sekolah. Aku tak punya keinginan untuk sarapan pagi. Alhamdulillah ketika KBM berlangsung, aku bisa berfokus kembali dalam mengikuti pelajaran.

Bell istirahat pun berbunyi. Aku segera mendirikan shalat Zhuhur dan setelah itu aku baru ingat kalau punya janji yang harus aku penuhi. Aku pun segera berlari menuju perpustakaan. Ketika aku masuk ke perpustakaan gadis yang ku rindu. Ternyata ia sedang duduk menyendiri di sudut perpustakaan. Ku ucapkan salam dan aku pun duduk di depannya. Wajah indahnya seperti sudut magnet. Menarikku dengan begitu kuat. Ketika ia hendak berkata sesuatu.

“Maaf”

“Cukup, tidak usah kau ucapkan Mel, aku yang seharusnya minta maaf kepada mu.”

“Apakah kau di sini untuk memenuhi permintaanku di sms yang ku kirim?”

“Ya, memangnya ada maksud apa engkau ingin bertemu di sini?”

Aku bingung untuk menjawab pertanyaannya. Lagipula jantungku juga masih berdegup kencang setelah tadi aku berlari menuju ruangan yang dipenuhi oleh kertas-kertas berjilid yang berjejer rapi di lemari-lemari terletak menghimpit dinding-dinding perpustakaan. Hati dan pikiranku seakan berkompromi harus menjawab apa waktu itu.

Suasana perpustakaan menjadi hening seakan-akan gelapnya malam telah hadir. Waktu itu hanya ada aku dan dia yang duduk di tengah ruangan. Angin berhembus dari putaran kipas angin di atas kepala kami. Memberikan kesegaran dan menutup pori-pori kulit membuat keringat menjadi dingin dan membeku seketika. Di belakang tubuhku seakan hadir ribuan mata yang memperhatikan dengan ketajamannya. Aku tak berani menoleh. Aku takut suatu hal buruk akan menimpaku. Dengan perasaan yang seperti di kejar waktu. Akhirnya waktu yang telah direncanakan tiba dan ini kesempatan yang harus aku gunakan. Dengan berat hati aku mengucapkannya.

“Mel”

Ku tatap mata teduhnya yang indah. Aku berpikir mungkin ini suasana terakhir yang aku rasakan seperti tidak ada harapan lagi yang mungkin berpihak kepadaku.

“Aku ingin mengatakan sesuatu”

“Sabri… apa yang mau kau katakan?”

“Aku menyukai kamu, maukah kamu jadi teman spesialku?”

Wajah Amalia memerah. Pandangannya menunduk dan ia tersenyum malu. Entah mengapa perasaan yang aku ungkapkan berubah menjadi suatu cahaya yang menyilaukan. Keluar dari tubuhku cahaya itu menyerupai diriku. Cahaya itu berlari dengan gembira. Menjauh dari ku sedikit-demi sedikit. Terlihat dari kejauhan cahaya itu terbang melayang ke langit biru di siang ini. Tak lama kemudian pandangan mataku menjadi kabur. Aku melihat sesuatu yang aneh. Kenapa dunia menjadi gelap. Pendengaranku menjadi sunyi. Ada apa ini? Kakiku tidak merasakan pijakan, nafasku mulai sesak. Detak jantungku melemah. Darah ini terasa dingin dan membeku. Tubuhku seakan tersayat pedang. Ku rasakan lebih dari satu pedang menancap di tubuhku dan menyayatnya hingga aku menghembuskan nafas karena aku tak kuat menahan perihnya rasa sakit itu. Kulihat pula makhluk aneh yang menawarkan aku air dari cangkir yang ia bawa. Tapi aku mengelak, entah siapa dia. Terdengar hembusan suara kalimat tauhid di telingaku. Ku ikuti sekuat tenaga, tapi bibirku menjadi kaku untuk di gerakan. Namun akhirnya hati ini bersamaan dengan merasakan rasa sakit mampu mengucapkan kalimat itu.

Setelah itu, entah apa yang terjadi? Rasa sakit menghilang tapi aku melihat tubuhku sendiri sedang berbaring tak berdaya di lantai perpustakaan dan Amalia duduk serta menangis yang baru kali ini ia menangis seperti itu. Tangisannya membuat aku enggan untuk merasakannya. Amalia menengadah melihat ke atas. Pipinya yang di basahi air mata seakan menatap dan merasakan. Aku yang melihatnya dari atas. Aku pun memberikan senyum terindah sebagai tanda perpisahan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 4,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Eru Zain
Mahasiswa di Purwokerto. Salah seorang anggota KAMMI Daerah Purwokerto. Anak pertama dari 3 bersaudara. Anggota juga di Forum Lingkar Pena Purwokerto.

Lihat Juga

Ilustrasi, Hari Pahlawan (inet)

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan