Home / Pemuda / Essay / #IndonesiaTanpaJIL (Episode ke-2): JIL; Sejarah dan Asas Pergerakan

#IndonesiaTanpaJIL (Episode ke-2): JIL; Sejarah dan Asas Pergerakan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Peserta rapat membahas pengamanan VIP tamu Konferensi Negara Islam di Palembang. (SRIPOKU.COM/HUSIN)

dakwatuna.com – 4 Januari 2011, di kantor Goenawan Mohammad. Ulil Abshar Abdalla (mahasiswa drop-out dari LIPIA), Luthfi Asy-syaukanie (Dosen Univ. Paramadina), Ihsan Ali Fauzi dan Hamid Basyaib (mantan jurnalis Republika), Ahmad Sahal (Aktivis muda NU), dan Nong Darol Mahmada (jebolan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta) tampak serius berbincang selama berjam-jam.

Pertemuan itu mengerucut pada upaya membendung laju kelompok Islam radikal (versi mereka), seperti FPI pimpinan Habib Rizieq Syihab, Majelis Mujahidin Indonesia pimpinan Abu Bakar Ba’asyir, dan Laskar Jihad yang dikomandoi oleh Ust. Ja’far Umar Thalib.

Goenawan, Pendiri Institut Studi Arus dan Informasi (ISAI) menghubungi koleganya, Dahlan Iskan. Pimpinan Jawa Pos Grup itu diminta untuk menyediakan ruang halaman mempublikasikan pemikiran-pemikiran liberal. Deal, Dahlan setuju.

8 Maret 2001, di Jalan Utan Kayu Raya No. 68H, Jaringan Islam Liberal (JIL) didirikan. Beragam diskusi diselenggarakan, termasuk menggunakan corong media radio 68H. The Asia Foundation – LSM dari Amerika – dan The Freedom Institute yang dipimpin oleh Rizal Mallarangeng serta didanai oleh Bakrie Grup menjadi pendonor dana.

Sejak saat itu buku-buku, buletin, seminar, dan diskusi mengenai Islam Liberal marak diadakan. Kelompok kiri dan mereka yang menganut disorientasi seksual (homo, lesbi, biseksual) kemudian ikut menumpang dalam gerbong liberal.

Ujungnya, pada tahun 2005, massa umat Islam dari FPI dan FUI berencana mendatangi markas JIL tersebut. Ratusan aparat bersiaga, para aktivis sekular berkumpul, media massa asing tak ketinggalan, siap mengabadikan. Andaikata terjadi penyerangan saat itu, itulah yang mereka kehendaki. Mereka akan menjadikan momen penyerangan itu sebagai sarana kampanye anti kekerasan pada dunia Internasional, sambil tak lupa, tentu saja berharap kucuran dana mengalir.

Lalu apa yang salah dari JIL ini?
See you next episode Akhi…

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa STIDA Al Manar, Utan Kayu jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Bekerja sebagai guru Bimbel bid. Matematika di Bimbingan Belajar Clever. Merangkap juga sebagai Owner SETIA Distributor (facebook.com/setiabuku dan @SAdistributor) yang menjual buku-buku, terutama yang bertema keislaman.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya