Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar dari “Sang Penyeru”

Belajar dari “Sang Penyeru”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kembali saya bisa menikmati alunan suara adzan itu. Memang tak benar-benar merdu bak muadzin masjid kenamaan “berskala” nasional. Namun, saya akan lebih bersyukur bisa kembali mendengarkan adzan itu. Nilai historis di balik diangkatnya dia menjadi muadzin menambah nilai plus itu. Dia pula yang menjadi salah satu motivasi saya untuk pulang ke kampung halaman di tiap kesempatan liburan. Ya, saya ingin kembali menjadi saksi perkembangan elevasi iman yang nampaknya sedang dia nikmati itu.

Sebut saja namanya Izin (nama disamarkan). Berawal dari lulusnya dia dari sebuah SMP swasta, dunia studi di sebuah SMK Pelayaran jurusan Nautika Perikanan Laut pun digelutinya. Bisa bekerja di kapal tanker adalah mimpinya kala itu. Hari-hari perjuangan fisik dan psikis dijalani dengan tampak mulus-mulus saja. Sayang, ketika sudah memasuki tahun ketiga studinya, ketika sudah hampir lulus, terdengar kabar bahwa dia keluar dari sekolahnya. Tak lama kemudian, dia memutuskan untuk menikah dengan seorang siswi dari sebuah SMA. Artinya, keduanya melangsungkan pernikahan dengan merelakan studi mereka masing-masing. Kecaman, penyesalan, kebingungan, bahkan kemarahan dari kedua belah pihak keluarga besar tak mereka gubris. Pasangan suami-istri minim bekal ini pun tetap mengayuh biduk rumah tangga mereka.

Karena belum punya penghasilan tetap, Izin “menumpang” di rumah orang tuanya. Perpaduan bekal agama dan kemampuan ekonomi minimalis, rumah tangganya berjalan limbung. Percekcokan hampir tiap hari terjadi. Profesi Izin sebagai pengamen keliling memang tak selalu cukup memenuhi kebutuhan dasar mereka. Keduanya masih amat bergantung dengan bantuan kedua orang tuanya. Diakuinya pula, keadaan sulit itu masih belum menggugah nurani Izin dan istri untuk mendekat kepada Allah SWT. Shalat lima waktu masih sering mereka tinggalkan. Aktivitas pengajian di mushalla sekitar pun belum menarik perhatian mereka. Situasi amat pas-pasan ini berlangsung hingga perlahan hidayah Allah mulai menyapa.

Bermula dari selesai dibangunnya sebuah masjid baru di desa saya, ia seakan kembali menemukan hakikat makna hidup. Entah bagaimana itu bermula, saya lupa, tiba-tiba Izin terlihat amat rajin shalat lima waktu di sana. Dia hanya absen ketika sedang mencari nafkah, mengamen ke desa-desa di luaran sana. Hampir tiap ada pengajian digelar, dia tampak bersama jamaah lain mendengarkan ceramah dengan khidmat. Melihat kesungguhan Izin  itu, pengurus masjid berinisiatif menawarinya menjadi muadzin sekaligus marbot (petugas menata dan membersihkan masjid). Dia akan diberi gaji untuk pekerjaannya itu.

Singkat cerita, jadilah ia seperti sekarang ini. Pekerjaan sehari-harinya dimulai dengan menyiapkan masjid sebelum waktu Subuh tiba. Adzan pun ia kumandangkan lima kali sehari untuk memanggil para masyarakat sekitar hadir ke masjid. Usai didirikannya shalat, kembali ditatanya sound system dan peralatan lain. Adapun membaca Al-Qur’an kini menjadi salah satu kegiatan rutinnya, terutama waktu di antara adzan dan iqamah. Beberapa kali saya juga menjumpai dia membaca beberapa majalah Islam yang memang menjadi koleksi masjid. Istri dan dua putrinya pun semakin sering saya jumpai di masjid. Tak hanya itu, kemarin malam selepas shalat Tarawih, ia tertangkap sedang menyimak bacaan Al-Qur’an putri pertama. Bahkan bacaan turutan metode Qiro’ati (sejenis buku Iqro’ untuk latihan membaca Al-Qur’an) putri keduanya tak luput dari perhatiannya. Tidak hanya dalam hal pendidikan agamanya, hampir tiap hari Ria (nama disamarkan), anak pertamanya, selalu dibimbingnya belajar atau sekadar mengerjakan PR. Walhasil, sejak kelas 1 hingga kini kelas 5 SD gelar “ranking satu” hampir selalu berada di genggamannya. Seingat saya, hanya satu kali dia menempati posisi kedua di kelasnya. Komplit sudah prestasi akademik Ria sejak kecil dengan semakin dekatnya dia dengan Al-Qur’an.

Sebenarnya amat menarik jika kita mengetahui secara keseluruhan sejarah hidup Izin. Saya sebagai saksi dan orang dekatnya tidak bisa mengisahkan semua hitam-putih kisahnya. Namun dari sekilas kisah faktual ini, setidaknya kita bisa belajar konsep “hidayah” dan “taubat”. Menurut saya itulah dua kata yang bisa mewakili lika-liku kehidupan seorang Izin.

Darinya, kita bisa belajar bahwa hidayah itu dijemput, bukan dinanti. Tak tahu bagaimana jadinya jika Izin tak digerakkan hatinya oleh Allah untuk mendekat ke masjid itu. Jangankan hadir di pengajian, sekadar mampir ke toilet masjid pun belum tentu dia mau kalau dia hanya menanti hidayah masuk ke hati. Menyadari betapa lemah dan tak berdayanya dia dibandingkan Allah, ia memilih mulai mengetuk rumah Allah. Dan sebagaimana janjinya dalam sebuah hadits Qudsi, Allah akan lebih ‘antusias’ kepada hamba-Nya yang datang menghampiri.

Kedua, saya menjadi semakin yakin bahwa taubat itu tidak hanya mental verb (kata kerja mental), tetapi juga termasuk dalam action verb (kata kerja aksi). Artinya, taubat itu tak cukup di hati saja. Lisan serta rangkaian aksi nyata justru menjadi kunci utamanya. Dia tak hanya berhenti pada tataran “menyesal”, dilanjutkannya dengan do something (melakukan sesuatu) bahkan mungkin do many things (melakukan banyak hal/ pekerjaan). Tak ayal, kembalinya dia kepada jalan Allah (taubat) telah dan sedang dijalaninya dengan baik hingga kini. Jika dulu ketika SMA dia menjadi salah satu penyeru kenamaan di lingkungan kawan-kawannya untuk hanya bermain-main di dunia ini, kini ia bertransformasi menjadi “penyeru” Allah. Berkah pun terus menghampirinya, secara bertahap dia bisa hidup mandiri dengan gajinya. Bahkan sekarang ia resmi menempati sebuah rumah kecil di sebelah masjid tempat ia “bertugas”. Ya, dia telah menjadi “tetangga Allah” kini. Subhanallah, sungguh karunia Allah amat dekat kepada hamba yang mau mendekat kepada-Nya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

(Foto: Abdul Hakim)

Buktikan Kualitas, Sekolah Islam Terpadu Dominasi Pemenang Lomba Nasional Budaya Mutu SD

Organization