Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Be Yourself?

Be Yourself?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (qimta.devianart.com)

dakwatuna.com “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Dunia muda amat akrab dengan slogan, moto, semboyan, dan sejenisnya. Salah satu slogan yang marak di masyarakat ialah “be yourself”. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia: Jadilah dirimu sendiri! Sekilas tak ada yang salah dengan kalimat imperatif ini. Tapi, ketika ditelisik lebih lanjut, slogan tersebut bak mata uang logam dengan dua sisi yang berbeda. Bisa berdampak positif, namun bisa juga berakibat sangat negatif.

Be Yourself

Setiap orang memiliki karakter masing-masing. Dengan karakter itulah seseorang akan berperilaku dalam kehidupan sehari-harinya. Termasuk dalam karakter di sini ialah sikap manusiawi yang sudah menjadi kebiasaan dan kecenderungan menggeluti bidang tertentu.

Tentu tak bijak jika kita memaksa teman kita, misalnya, yang memiliki sifat amat pemalu untuk maju ke depan kelas secara tiba-tiba untuk memimpin rapat kelas. Walhasil, si dia akhirnya menjadi bahan tertawaan lantaran diam mematung dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata di depan kelas. Tentu itu bukan salah dia. Belum biasanya dia berbicara di depan forum dan sifat pemalunya perlu kita hargai saat itu. Cukup katakan padanya: be yourself.

Kasus macam ini memang hendaknya disikapi dengan mengembalikan independensi seseorang untuk tetap berada di posisinya. Kita tidak boleh memaksanya untuk menjadi apa yang kita minta. Jika kita merasa ia berada di posisi yang kurang baik dan kita sanggup menyampaikannya, maka hal itu lebih baik. Namun, tetap saja pilihan untuk berubah bukan di tangan kita. Begitu pula dengan kecenderungan seseorang dalam menggeluti suatu bidang tertentu, biarkan dia menjadi dirinya sendiri.

Don’t Be Yourself

Banyaknya tontonan yang bertransformasi menjadi tuntunan dewasa ini menjadi poin penting titik balik semboyan be yourself tadi. Percaya atau tidak, jika kita amati beberapa anak muda saat ini banyak yang berlindung di balik tameng semboyan itu demi eksistensi dirinya yang semu. Dalam hal ini saya sepakat dengan sebuah kaidah “There is nothing new on this earth” (tidak ada satu pun hal baru di dunia ini) atau kaidah lain yang semakna dengannya. Pun begitu dengan perilaku sebagian kaum muda tadi. Kalau kita teliti lebih seksama, fenomena copy-paste perilaku seorang terkenal atau pengaruh lingkungan pergaulan yang tidak sehat biasanya tersembunyi di balik motif be yourself  mereka. Artinya, potensi mengikuti hawa nafsu dengan balutan semboyan tersebut sebaiknya dihindari. Dengan kata lain, terhadap kasus ini ada baiknya kita katakan pada mereka: don’t be yourselves.

Islam Menjawab

Lalu, di mana batasan jelas antara boleh berlakunya semboyan itu? Berbicara mengenai ilmu pasti, tentu hanya Dzat yang Maha Mengetahui yang patut menjadi rujukan. Dalam hal ini, amat tepat jika kita coba memandang perkara ini kacamata Islam.

Coba kita renungkan sabda Rasulullah SAW berikut:

“Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu” (dalam Shahih Muslim no. 1366 bab: Wajib Mengikuti Perkataan Nabi SAW)

Rasulullah menetapkan kaidah di atas ketika menanggapi pertanyaan seputar hukumnya melakukan penyilangan serbuk sari kurma yang baru marak kala itu. Singkatnya, dalam urusan duniawi yang tidak diatur secara terperinci dalam syariat, kita dibolehkan berinovasi sesuai kapasitas keilmuan dan kecenderungan masing-masing. Namun, dalam melakukan inovasi ini pokok syariat yang sudah mapan pun tetap tidak boleh dilanggar. Maka, moto be yourself boleh dan penting untuk diterapkan pada kasus yang memang belum dijumpai aturannya dalam Islam.

Sebaliknya, suatu hari Rasulullah pun bersabda:

“Barangsiapa yang memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah, berarti telah sempurna imannya.” (At-Tirmidzi. Hadits hasan. Dari Muadz bin Anas al-Juhani) 

Banyak lagi beberapa hadits yang semakna dengan hadits di atas. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an pun tak sedikit yang memerintahkan kita menetapi putusan Allah. Maka, sebaik-baik tindakan ialah kita mengikuti segala yang sudah Allah SWT dan Rasul-Nya tetapkan dengan gamblang. Termasuk dalam hal ini ialah cara berpakaian, pergaulan, berkomunikasi, dan lain-lain sudah sepantasnya kita lakukan ala Islam. Ketika seorang Muslimah diwajibkan menutup aurat dengan segala aturannya, maka hendaknya dia mematuhi. Ruang inovasi yang menabrak aturan syar’i sebaiknya dihindari seorang Muslimah dalam hal ini. Pun begitu dengan seorang Muslim laki-laki tidak boleh sembarangan membuat syariat versi dirinya dengan dalih be yourself.

Kita Tetap Merdeka

Keterikatan Muslim dengan aturan Islam (syariat) memang sudah menjadi konsekuensi logis. Bahkan, dari segi bahasa pun, keterikatan itu sudah nampak. Bukankah salah satu makna akar kata “Islam” ialah “berserah diri kepada Allah”?

Oleh karena itu, syubhat yang mengatakan bahwa seorang Muslim itu tidak merdeka ialah tidak tepat. Bagaimana bisa manusia yang hanya bergantung pada Dzat Yang Maha Berkuasa atas alam semesta dan seisinya dikatakan tidak merdeka? Amat wajar jika kita bergantung pada-Nya lantaran sejatinya memang kita tidak punya kekuatan apapun tanpa izin-Nya. Sebaliknya, kaum yang tidak merdeka ialah mereka yang mengaku penganut be yourself secara membabi buta. Bukankah ketika seseorang tidak dalam posisi kebaikan, maka secara otomatis ia tersandera dalam keburukan? Siapa lagi yang membisikkan keinginan mengikuti hawa nafsu yang tidak disinari dengan petunjuk Ilahi jika bukan setan dan kroni-kroninya? Alangkah tidak merdekanya seorang manusia jika selalu hidup di bawah tekanan nafsu syaithaniyyah yang tiada ujungnya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Wahai Umat Akhir Zaman, Timur Bukan Barat!