Home / Berita / Opini / Panasnya Pilgub Ronde Kedua

Panasnya Pilgub Ronde Kedua

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSetelah proses eliminasi, keenam ‘menu’ yang tersedia saat pilgub ronde pertama, kini hanya tersisa dua menu cagub dan cawagub saja. Fauzi Bowo-Nachrowi versus Jokowi-Ahok. Dengan makin sedikitnya pilihan menu ini, membuat pilgub DKI ronde kedua ini tidak terlalu ramai dibanding dengan pilgub ronde pertama. Pada pilgub ronde pertama, Ibukota Jakarta diramaikan oleh berbagai atribut kampanye dari keenam calon, mulai dari spanduk, iklan TV, hingga stiker. Sedikit berbeda dengan jelang pilgub putaran kedua ini. Memang masih tetap ada atribut kampanye, namun kuantitasnya tidak sebanyak pilgub ronde pertama. Walau atribut kampanye pada pilgub ronde kedua tidak terlalu ramai, namun pilgub DKI ronde kedua ini justru semakin memanas. Tidak terlalu ramai, tapi memanas. Memanasnya pilgub ronde kedua ini ditengarai oleh makin banyak seruannya untuk golput, pencitraan yang kelewat batas hingga gaung isu SARA.

Pemantik Panasnya Pilgub Ronde Kedua

Kembali, seruan golput digaungkan. Pembenaran diri untuk tidak memilih makin bermunculan. Upaya untuk menyerukan agar tidak golput juga makin merebak. Di beberapa ruas jalan (seperti di daerah Matraman Jak-Pus) nampak terpampang spanduk berbahan kain yang bertuliskan “golput bukan pilihan”. Hingga beberapa artis yang peduli Jakarta pun turut serta mengkampanyekan anti golput ini, seperti Katon Bagaskara, Deddy Mizwar, Indra Bekti dan lainnya. Gerakan yang menamakan diri Revolusi Cerdas DKI, digagas oleh penyanyi Katon Bagaskara. Sebagai penggagas gerakan ini, ia mengatakan “Tidak memilih bukanlah pilihan. Itu artinya menyerahkan pilihan pada orang lain untuk memilih untuk Anda”. Semua memang kembali pada kewenangan masing-masing individu. Penulis hanya ingin mengingatkan, tiada salahnya menggunakan hak pilihmu sekarang mengingat bahwa bisa jadi Pilkada tahun 2012 ini adalah pilkada terakhir yang dipilih secara langsung. Karena dalam RUU Pemilihan Kepala Daerah tepatnya pada bab I pasal satu ayat 21 menyebutkan bahwa “Pemilih untuk pemilihan Gubernur adalah anggota DPRD Provinsi atau sebutan lainnya”. Hal ini berarti untuk pemilihan gubernur di lima tahun mendatang, akan dilakukan oleh DPRD yang tentunya akan menguntungkan pihak yang memiliki ‘kursi’ terbanyak.

Pemantik panasnya pilgub selanjutnya adalah pencitraan yang kelewat batas. Tidak hanya di kubu Foke-Nara, tapi juga di kubu Jokowi-Ahok. Foke terkesan melakukan kampanye terselubung untuk meningkatkan eksistensinya. Ia banyak memajang wajahnya di berbagai kesempatan yang ada, ia memanfaatkan kedudukannya sebagai gubernur Jakarta untuk lebih eksis. Salahkah? Menurut penulis memang tidak salah, biar bagaimanapun ini adalah bagian dari strategi atau siasatnya untuk dapat lebih dikenal masyarakat, hanya saja memang agak kelewat batas karena ia jadi terkesan nebeng dana kampanye yang notabene spanduk dan aneka perangkat lainnya itu (dalam rangka sosialisasi) didanai oleh uang negara.

Bagaimana dengan Jokowi? Menurut penulis, ia juga kebablasan melakukan pencitraan. Jokowi begitu dipandang sempurna sebagai calon gubernur Jakarta karena berbagai ‘prestasinya’ yang mewarnai media. Namun belakangan mulai santer terkuak berbagai ‘kepalsuan’ dari pencitraan itu. Banyak media online yang mulai memberitakan kepalsuan ini. Namun, kabar kepalsuan ini tidak pernah benar-benar diusut tuntas dan diboomingkan sesanter berita yang mengabarkan ‘prestasi’ ini. Maksud penulis begini, sewaktu berita baik ini muncul, berbagai media langsung santer memberitakannya bahkan hingga media televisi ikut meliput. Namun ketika kepalsuan dari berita baik ini mencuat, kenapa lantas tidak diberitakan sesanter berita yang lalu.

Entah mereka yang kebablasan atau tim sukses dari keduanya yang kebablasan. Memang tak ada salahnya melakukan pencitraan bahkan jika pencitraan itu hingga menyentuh tataran grassroot. Hal yang demikian malah semakin baik. Namun yang sangat perlu diperhatikan adalah jangan sampai pencitraan ini membohongi publik, hanya pencitraan belaka.

Pemantik selanjutnya dan yang ini lebih heboh lagi, yaitu mencuatnya isu SARA. Isu SARA ini sampai melibatkan penyanyi dangdut yang sekaligus muballigh dan ustadz kondang, sebut saja H. Roma Irama dan Ustadz Yusuf Mansur. Keduanya diduga melakukan isu SARA. Menurut penulis, ini adalah hal yang wajar (bukan isu SARA-nya yang wajar). Kesamaan dalam suatu ikatan baik itu, ikatan rasa, agama, nasib dan lain-lain, terkadang memang akan memunculkan respek yang lebih. Seperti halnya perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan bangsa ini. Sejarah mencatat bahwa semangat persatuan untuk berjuang bersama melawan imperialisme kala itu adalah karena adanya berbagai kesamaan entah itu kesamaan nasib entah kesamaan tujuan. Mungkin memang agak berbeda konteksnya, namun substansinya sama. Rasanya, mungkin kesamaan ‘rasa’ itulah yang mendasari kesan keberpihakan para pemuka agama yang diboyong menuju isu SARA. Menurut penulis, adalah sah jika umat Kristiani pun mengajak para pemeluknya untuk mendukung pemenangan Jokowi-Ahok. Adalah wajar juga jika etnis Chinese pun berafiliasi pada Jokowi-Ahok, sebagaimana wajarnya para pemuka agama Islam yang mendukung pemimpin yang sesuai dengan kesamaan yang ada. Mungkin ada yang bertanya, “lha? Jokowi kan juga memiliki kesamaan ‘rasa’ itu?”. Memang. Namun, kubu Foke-Nara lebih mendominasi karena keduanya memiliki kesamaan tadi.

Bukan tidak mungkin ditempat ibadah masing-masing agama menyerukan untuk memilih yang memiliki kesamaan dengan mereka. Bukankah itu hal yang wajar?

Terfragmennya pola pikir kitalah yang menyebabkan seolah ini adalah isu SARA. Terfragmen, tersekulerisasi, hingga menganggap tabu jika politik dikaitkan dengan agama. Bahkan ada yang sampai hati mengatakan “jangan bawa-bawa agama deh, politik ya politik aja”. Berhubung penulis beragama Islam, jadi akan sedikit menjabarkan konsep Islam. Islam adalah agama rahmatan lil’alamin yang komprehensif. Menukil kata-kata Imam Hasan Al-Banna, “Islam adalah sistem komprehensif yang mencakup semua aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat. Ia adalah akhlak dan kekuatan, atau rahmat dan keadilan. Ia juga peradaban dan undang-undang, atau ilmu dan peradilan. Ia adalah materi dan kekayaan alam, atau penghasilan dan kekayaan. Ia adalah jihad dan dakwah, atau pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.” Inilah Islam. Tak ada fragmentasi.

Apapun jenis pemantik yang menyebabkan pilgub ronde kedua ini memanas, kita tetap harus menjadi pemilih yang cerdas. Sebelum memilih atau menyerahkan pilihannya pada orang lain alias golput, pikirkanlah jauh ke depan, prospek jangka panjang akan nasib Jakarta. Pikirkan baik-baik imbas atau dampak dari pilihan kita untuk Indonesia, khususnya Jakarta.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Berusaha Menjadi Berarti dan Memberi Arti

Lihat Juga

Cuaca panas yang melanda Jakarta (ilustrasi).  (liputan6.com)

Panas itu Tentara Allah

Organization