Home / Berita / Nasional / Menlu RI: Film “IOM” Tak Wakili Suatu Negara

Menlu RI: Film “IOM” Tak Wakili Suatu Negara

Menlu RI, Marty Natalegawa. (Antara/Andika Wahyu)

dakwatuna.comKedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di beberapa negara, termasuk di Tanah Air menjadi sasaran amuk massa akibat penayangan film “IOM” yang telah menista Nabi Muhammad SAW dan Islam. AS dalam kasus ini terkena getahnya akibat perbuatan seorang warganya yang anti Islam.

“Film ini bukan mencerminkan posisi negara atau pemerintah tertentu. Protes harus dilakukan dengan cara yang baik dan terukur. Kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita taat hukum dan peduli demokrasi,” tegas Menlu RI Marty Natalegawa di Pejambon, seperti diberitakan Rakyat Merdeka (Grup JPNN).

Menanggapi isi film tersebut, Natalegawa mengatakan bahwa kebebasan berekspresi haruslah ada batas. “Kebebasan berekspresi tidak tanpa batas, ada pertimbangan moral, keamanan, public order,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengatakan bahwa negaranya sama sekali tidak terlibat dalam pembuatan film murahan tersebut. Dalam salah satu kesempatan, Clinton menegaskan bahwa film tersebut sangat menjijikkan dan tampak sekali bertujuan merendahkan agama tertentu.

Akibat film tersebut, beberapa Kedutaan Besar AS di luar negeri hangus dibakar massa. Duta Besar AS untuk Libya Chris Steven tewas dalam demonstrasi di Benghazi pekan lalu. Puluhan orang terluka dalam bentrok antara demonstran dan aparat.

Rencananya, Indonesia akan bergabung dalam pembahasan di markas PBB New York, besok malam untuk membahas persoalan intoleransi antar agama yang ditimbulkan film ini.

Nakoula Basseley Nakoula (55), pembuat film asal California yang mengaku menjadi sutradara “IOM” telah menyerahkan diri ke pihak berwenang federal Amerika, Minggu (16/9). Dia diwawancarai petugas federal selama sekitar setengah jam di kantor sheriff di kampung halamannya di Cerritos, California. Setelah proses pemeriksaan, petugas mengantar Nakoula ke sebuah tempat yang dirahasiakan.

“Dia sudah pergi. Kami tidak tahu ke mana dia pergi,” kata Whitmore. “Dia bilang dia tidak akan kembali ke rumahnya,” lanjutnya.

Ya Nakoula tidak ditahan. Malahan, aparat tidak menyelidiki Nakoula terkait film yang konyol yang telah memakan 17 korban jiwa sejak demonstrasi anti AS berlangsung Selasa (11/9), di Timur Tengah. Hal itu karena Amerika Serikat memiliki Undang Undang yang kuat mengenai kebebasan berbicara dan berekspresi.
Pejabat federal sedang menyelidiki apakah Nakoula, yang telah dihukum karena kejahatan keuangan, telah melanggar ketentuan lima tahun masa percobaannya. Jika benar, hakim dapat mengirim dia kembali ke penjara.

Nakoula dituduh curang membuka rekening bank dan kartu kredit dengan menggunakan nomor jaminan sosial yang tidak cocok dengan nama pada aplikasi pada 2010 dan dijatuhi hukuman 21 bulan penjara, yang akan diikuti lima tahun masa percobaan. Pengacara Nakoula dan pihak berwenang tidak dapat berkomentar mengenai hasil interogasi. (uli/jppn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir