Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kepemimpinan Ala Dua Umar

Kepemimpinan Ala Dua Umar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Bicara kepemimpinan dalam Islam, maka sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang membagi kepemimpinan umat menjadi lima fase patut kita perhatikan.  Dalam riwayat Ahmad dan Al-Baihaqi, disebutkan kelima fase kepemimpinan tersebut ialah: fase nubuwah, khilafah ala minhajin nubuwah, mulkan adhan, mulkan jabariyah, dan fase kembali kepada khilafah ala minhajin nubuwah. Mengomentari hadits tersebut, Dr. Yusuf Qaradhawi menyatakan bahwa saat ini kita berada pada titik nadir fase mulkan jabariyah. Pada fase ini, umat Islam lebih banyak dipimpin oleh mereka yang diktator, tidak beriman, tidak adil, dan tidak menyejahterakan rakyat.

Tentu Rasulullah SAW takkan ingkar janji. Kepemimpinan yang kembali kepada khilafah ala minhajin nubuwah akan terwujud. Namun demikian, tetap harus ada upaya pembentukan pemimpin masa depan dambaan umat itu. Maka, sosok dua Umar, yaitu Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz, pantas kita jadikan sebagai contoh. Begitu kata Iman Budiman, ketua umum Pengurus Pusat Pemuda Persatuan Ummat Islam (Pemuda PUI) ketika mengisi materi “Studi Kepemimpinan dalam Islam” pada even Daurah Marhalah II (DM II) di Garut (31/8). Tanpa bermaksud merendahkan sahabat dan tokoh lain dalam sejarah Islam, apalagi kepemimpinan Rasulullah SAW. Semua sahabat utama dan Rasulullah sendiri juga merupakan pemimpin kelas wahid. Tetapi, dalam banyak hal terkait masalah kekinian, inovasi kepemimpinan, dll, sosok dua Umar ini patut diacungi jempol.

Umar bin Khattab dengan modal wataknya sebelum dan sesudah masuk Islam menjelma menjadi pemimpin handal. Penjaga kedaulatan kaum Muslimin itulah salah satu julukannya. Tegas, pemberani, zuhud, wara’, dan visioner, itulah beberapa watak yang lekat dengannya.  Jangan heran kalau beberapa prestasi berhasil ia torehkan, semisal ijtihad baru dalam beberapa masalah kontemporer yang sebelumnya tidak ada dan “ekspansi” Islam terbesar dalam sejarah.

Sementara itu, masih dalam satu garis keturunan dengan Umar RA tadi ialah Umar bin Abdul Aziz. Dilahirkan dari kepemimpinan Bani Umayyah yang kala itu terkena virus hedonis dan haus kekuasaan, ia tampil menjadi pembeda. Menggantikan sang sepupu, Sulaiman, banyak prestasi dan teladan kepemimpinan yang patut kita tiru.  Konon pada masa kepemimpinannya tak ada masyarakat yang patut menerima zakat.  Dia juga dikenal berwatak zuhud, amat peduli dengan rakyat, dan memiliki kapasitas ilmu dan iman yang mantap seperti kakek moyangnya, Umar RA Satu ijtihad penting yang amat terasa manfaatnya hingga kini pun pernah ditempuhnya, yakni kodifikasi hadits Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya pembukuan hadits inilah kita bisa lebih mudah mempelajari sumber hukum kedua dalam Islam ini.

Lalu, apa saja sebenarnya prinsip kepemimpinan dua Umar yang melegenda ini? Menurut Iman, setidaknya ada tiga karakter yang amat erat dengan sosok pemimpinan teladan ini. Ketiga karakter itu ialah: prinsip melayani, bukan dilayani; pemimpin yang pembelajar; dan kemampuan memimpin tingkat tinggi. Ketiganya berhasil dikristalkan dalam diri dua Umar sehingga posisi mereka pun berbuah kontribusi. Kepada dua Umar inilah mestinya setiap diri pemimpin berkaca. Jika John Maxwell di kemudian hari menelurkan teori kepemimpinan yang ternyata tak jauh dari prinsip yang sudah dua Umar praktikkan, maka kita selaku Muslim harusnya lebih berhak meyakini dan membuktikan keampuhannya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia