Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memberikan Kepercayaan pada Kepercayaan

Memberikan Kepercayaan pada Kepercayaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Erina Prima)

dakwatuna.comDan itulah yang biasa dilakukan oleh orang-orang mulia zaman dahulu. Dan semestinya kita juga.Nabi kita, nabi Muhammad SAW pun juga melakukannya. Ketika sinar harapan terlihat begitu sulit untuk ditangkap. Ketika kenyataan di depan begitu musykil dibayangkan.

Maka lihatlah Nabi kita yang mulia, mengiringi usaha luar biasa untuk diteruskan dengan membenamkan hati pada pertolongan Illahi. Semua dikembalikan pada Rabb pemilik semesta Alam. Dzat mandiri, Dzat yang tidak bergantung pada apapun jua. Dzat yang berkuasa untuk semuanya.

“…Ya Allah, jika Engkau berkehendak (orang kafir menang), Engkau tidak akan disembah. Ya Allah, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah…”.

Begitulah doa menyayat yang dilantunkan Nabi agung kita pada perang Badar. Perang yang secara nalar tidak mungkin untuk dimenangkan. Perang yang mempertemukan 313 sampai 317 muslimin dengan 1300 orang kafir. Dan seperti kita tahu, Nabi kita Muhammad SAW adalah hamba mulia yang dipersiapkan Allah untuk semua ini.

Dan lihatlah, ALLAH lah Dzat yang tidak pernah menyalahi janji. Muslimin dimenangkan dalam perang BADAR itu. Karena Muslimin memberikan kepercayaan kepada kepercayaan mereka. Mereka menyandarkan diri mereka pada Sang maha Segala.

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3)

Kita sering tidak tahu tentang apa yang terjadi esok kali, entah berapa menit, entah berapa hari, entah berapa tahun ke depan. Apa yang akan terjadi pada kita, masa depan seperti apa yang akan menyapa cerita hidup kita.

Tapi sidang pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala. Allah masih bersama kita senantiasa. Allah masih menunggu kita menyungkurkan sujud bertaubat dan meminta semuanya. Hingga beribu, hingga berjuta keluh dan pinta. Allah sanggup untuk meniscayakannya.

Kita hanya musti berusaha, berdoa dan berprasangka yang terbaik akan kuasaNya. Dan itulah saatnya kita memberikan kepercayaan pada kepercayaan kita semua. Kemudian menyisakan Allah untuk mewujudkan keajaibannya.

Nabi Musa RA tidak tahu apa yang akan terjadi ketika dia diperintah Allah untuk memukulkan tongkatnya pada laut merah, ketika beliau dikejar Firaun dan bala tentaranya.

Nabi Ibrahim RA tidak tahu dengan perintah Allah lewat mimpinya untuk menyembelih anaknya.

Nabi Ibrahim pulalah yang tanpa ragu masuk ke dalam api menganga.

Itulah beberapa kisah luar biasa yang ada, namun ada satu kesamaan yang ada. Kisah tersebut memberikan banyak pelajaran tentang kepercayaan. Ya, memberikan kepercayaan pada kepercayaan kepada Allah ta’ala.

Dan kita lihat, dengan bantuan Allah, laut merah terbelah.

Dan kita lihat, dengan perintah Allah pulalah, Ismail putra Ibrahim tidak jadi disembelih. Untuk kemudian diganti dengan sembelihan yang besar.

Dan kita lihat, api yang hendak membakar nabi Ibrahim dengan izin Allah menjadi dingin. Untuk Ibrahim. Untuk keyakinan Nabi Ibrahim.

Dan sidang pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala. Mari memberikan kepercayaan pada kepercayaan kita. Kalau doa sudah dilantunkan, kalau usaha sudah dikerahkan, kalau prasangka baik sudah dibenamkan. Maka percaya saja, keajaiban itu akan segera meniscaya. Entah nanti, entah esok hari.

Percaya saja!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lahir di Klaten, jawa tengah 1986. Lulusan ilmu komputer di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Menikah dengan Asma' Neti pada tahun 2011 silam. Putra dari bapak Wardoyo dan ibu Sunarmi ini lumayan suka menulis, dan lumayan suka membaca.Adik dari mbak Dian Kuswardani ini punya moto hidup yang sederhana. Ya, sederhana dan secukupnya. Hidup yang cukup memberi manfaat pada agama, hidup yang cukup memberi kebaikan pada keluarga, hidup yang cukup memberi manfaat bagi bangsa dan negara, hidup yang cukup sebagai bekal untuk mencapai Surga, insya Allah. Semoga kita bertetangga di Syurga dan bertemu dengan idola kita semua :)
  • jingga

    Janji Alloh SWT itu pasti….percaya saja…insyaAllah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya.. :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (islamreview.ru)

Hudzaifah Sang Paradoks Akhir Zaman