Home / Pemuda / Cerpen / Plan For The Best, Prepare For The Worst!

Plan For The Best, Prepare For The Worst!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Dhiyanajma Eljannah atau yang biasa dipanggil “Najma” adalah seorang akhwat (perempuan) cantik nan shalihah (Insya Allah) yang sedang menuntut ilmu di sebuah Universitas bernama Universitas Jenderal Soedirman dalam sebuah kota terpencil bernama Purwokerto.

Dhiyanajma-atau izinkan saya menyebutnya Najma- memilih program studi kimia untuk menyelesaikan strata satu nya. Entah mengapa akhwat yang satu ini memutuskan untuk mengambil program studi kimia, padahal ia baru mulai menyukai kimia sejak kelas 2 SMA (itu pun karena guru yang mengajarkannya sangat sayang padanya). Beranjak ke kelas 3, ia malah menjadi tidak suka pada kimia karena (lagi-lagi soal guru), guru yang mengajarnya itu seolah-olah membuat pelajaran kimia yang semula ia senangi menjadi seperti cambuk bagi dirinya. Menyakitkan.

Sampai pada akhirnya ia harus memutuskan sendiri karena sang ummi tercinta telah memberinya kesempatan untuk memilih sendiri bidang apa yang disukainya.

Akhirnya, terpilihlah Kimia. Semula, Najma tidak menyukai kimia murni, karena menurutnya kimia murni itu sangat membosankan. Setelah bertanya ke sana sini, akhirnya ia pun memutuskan untuk memilih Teknik Kimia sebagai Fakultas yang akan dipilih.

Najma mencoba mengikuti SIMAK UI (Seleksi Masuk UI). Saat itu ia memilih Teknik Kimia dan Bioproses. Dengan perasaan was-was dan deg-degan, ia mencoba melihat pengumumannya satu bulan kemudian setelah SIMAK UI. Dan hasilnya, you know what? DITOLAK. Surely, kalau diterima, Najma nggak akan ada di Purwokerto…

Satu kesempatan tertutup. Masih ada kesempatan lain. Ia pun mencoba mengikuti UM UGM. Saat itu ia memilih kedokteran (pilihan ummi-abi), dan Teknik Kimia. Dan, DITOLAK lagi.

Astaghfirullaaahh…

Saat itu sudah tidak ada lagi kata cerah dalam hidup Najma. Seketika semua menjadi kelabu. Ia bingung harus mencoba ke mana lagi.

Karena pada dasarnya Najma sangat ingin berkuliah di UI, akhirnya ia pun kembali mencoba mengikuti tes di UI. Saya lupa apa namanya.

Saat itu, Najma sudah menuurunkan “harga” pilihannya. Ia memilih Teknik Kimia dan FKM UI. DITOLAK LAGI.

Seakan putus harapan, ia pun berkata kepada sang ummi, “gimana ya mi? Masa mau di swasta? Najma nggak mau, mi… Najma mau nya di UI.” katanya sambil memperlihatkan mata berkaca-kacanya.

“Kamu tau kan nak, kalau hasil itu berbanding lurus dengan usaha?” tanya sang ummi sambil menunjukkan senyum terbaiknya.

Najma pun hanya menatap lemah mata sang ummi dengan sayup sambil berkata, “Iya, mi… Najma tau… Kayaknya memang Najma belum pantes ada di sana.”

“Bukan begitu maksud ummi, Najma… Yang ummi mau tekankan itu ya Najma harus lebih serius dan rajin belajarnya. Berdoa nya juga jangan lupa. Usaha 100%, doa 100% ya nak. Masih ada SNMPTN kan, nak?”

“Iya, ummi… Najma fahim… He’em, masih ada SNMPTN mi nanti.” jawabnya sambil mengangguk lesu.

“Ya sudah, buktikan ke ummi kalau Najma memang bisa berkuliah di universitas negeri. Mau ngalahin abang kan nak?” tanya sang ummi lagi.

“Iya mi… Najma pasti bisa ya mi?”Najma pun bertanya balik sambil membulatkan matanya tanda yakin.

“Iya, nak… Najma pasti bisa. Sudah sana shalat, jangan lupa belajar ya.” pesan sang ummi.

Akhirnya, Najma pun bergegas menuju kamarnya dan mulai serius belajar. Semakin hari, ia semakin serius meski terkadang masih terasa sakit karena ditolak di universitas yang diidamkannya. Tapi itu tidak membuat Najma gentar. Ia hanya berusaha melakukan yang terbaik, yang terbaik, dan yang terbaik.

Salah satu kata dari murabbiyah-nya saat itu adalah, “PLAN FOR THE BEST, PREPARE FOR THE WORST. DO EVERYTHING THAT YOU CAN DO.”

Yup! Kata-kata itu merupakan salah satu kata penyemangat selama Najma berusaha memberikan yang terbaik demi Allah, ummi, dan seseorang di sana.

1 bulan berselang. Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Tanpa pikir panjang, saat pendaftaran online, Najma memilih Bioproses UI dan Kimia UNSOED.

Ujian SNMPTN pun akhirnya datang juga. Menaiki bus yang penuh sesak dan terlambat masuk kelas ujian menjadi santapan Najma pada hari pertama ujian.

Subhanallah sekali cobaannya. Biasanya, Najma selalu diantar oleh ummi dan abang tercinta kalau sedang mengikuti ujian-ujian besar semacam itu. Namun saat itu, Najma sedang tidak ingin manja dan ia tidak ingin mengecewakan semuanya. Jadi Najma memutuskan untuk menaiki bus kopaja dengan posisi berdiri selama hampir 2 jam (suasana yang sangat jarang Najma hadapi, tidak pernah bahkan).

Sampai di tempat ujian, Najma merupakan satu-satu nya calon mahasiswa yang terlambat. Sudah terlambat, ia pun lupa berapa nomor ruangannya. Berlari ke papan pengumuman ruangan, bertanya kepada satpam, dan akhirnya masuk ke ruangan sekitar 20 menit kemudian (Subhanallah sekali yah^^). Sampai di tempat ujian, ia segera duduk dan sibuk mengipasi dirinya yang sedang kepanasan karena naik bus kopaja yang panasnya luar biasa. Sekitar 6 menit kemudian ia baru mulai mengerjakan soal.

Alhamdulillah, soal nya tidak sedang mengajaknya ribut. Alhamdulillah masih diberi kemudahan oleh Allah. Saat itu soal nya hanya Tes Potensi Akademik, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Jadi masih bisa mengarang kalau tidak begitu fahim. Hehe…

Saat ujian di hari kedua, ia menjadi yang paling pagi karena tidak mau terlambat lagi. Hari kedua adalah saat nya ujian Matematika dan IPA. Sebelum memulai ujian, ia justru menulis banyak doa-doa di halaman pertama lembar soal nya. Setelah itu, baru ia memulai mengerjakan soal-soalnya. Alhamdulillah (lagi), kali ini Allah memberinya kesempatan untuk banyak bereksperimen (membuat rumus-rumus baru). Akhirnya, ia pun hanya mengerjakan sebisanya. Setelah itu, waktu pun selesai dan akhirnya ia keluar ruangan dengan sedikit senyum cerah.

Sesampainya di rumah, ia berkata kepada ummi nya, “doain ya mi… Insya Allah kali ini benar-benar yang terbaik.”

“Iya, nak. Ummi selalu doain kamu kok.” kata sang ummi dengan tulus.

Beberapa saat kemudian, datanglah sang om ke rumah Najma untuk sekadar silaturahim sambil menanyakan bagaimana ujiannya…

“Gimana tadi ujiannya, Naj? Bisa?”

“Alhamdulillah, om… Tinggal tawakkal aja. Insya Allah yang terbaik lah om..” jawabku yakin.

“Kalau ntar nggak lolos juga, masuk Trisakti aja ya.” kata om nya datar sambil menyeruput secangkir teh yang Najma buat.

Najma pun langsung menatap dengan wajah melongo ke hadapan sang om. Tanpa pikir panjang, ia pun segera berpamitan untuk masuk ke dalam kamar.

Menangis. Ya, saat itu yang bisa dilakukan Najma hanyalah menangis. Entah harus bagaimana lagi menyikapinya. Najma bingung. Sangat bingung. Najma tidak mau berkuliah di universitas swasta. Itu sama saja dengan abang nya. Ia mau, nasib nya akan lebih baik daripada abang nya itu.

Kemudian, datanglah sang ummi untuk menenangkan…

“Kenapa lagi, nduk?”tanyanya lembut.

Najma hanya bisa menangis, tanpa menjawab pertanyaan ummi.

“Loh, kok ndak di jawab? Kenapa tho?” tanya ummi lagi.

Najma tau, ummi nya pasti mendengar apa yang telah dikatakan om nya itu. Ummi nya hanya ingin Najma sendiri yang menceritakannya kepada ummi.

“Kata om, Najma disuruh kuliah di Trisakti aja kalau ntar SNMPTN nya ngga lolos.” jawab Najma lemah sambil terus terisak.

“Loh, memangnya sudah tau bagaimana hasil SNMPTN nya?” tanya ummi lagi.

Najma hanya menggeleng.

“Belum kan, nduk? Ya sudah, buat apa menangisi sesuatu yang tak pasti? Sekarang lebih baik Najma wudhu, trus segera shalat ya, nak. Minta sama Allah. Allah pasti mau ngabulin permintaan Najma asal Najma sungguh-sungguh mintanya. Jangan lupa untuk sedekah ya. Karena uang yang kita infakkan, akan melipatgandakan rezeki kita. Jangan lupa Dhuha dan qiyamul lail ya, nduk. Ummi bantu doa.” kata ummi sungguh-sungguh.

Najma pun hanya memandang lekat-lekat wajah sang ummi.

“Na’am, mi… Najma fahim… Syukran ya ummi… Ummi emang paling TOP… Sekarang Najma udah ngga sedih lagi deh…” katanya sambil tersenyum lebar.

“Nah, gitu dong, Itu baru anaknya ummi. Ya udah, sekarang ummi mau masak dulu ya, nak.” kata ummi sambil beranjak keluar kamar.

Seketika, Najma pun mengejar sang ummi dan segera memeluknya sambil menangis.

“Ummii….. Najma sayang ummi…”

Ummi pun hanya tersenyum sambil sedikit menitikkan air mata haru.

***

Bulan penuh haru biru pun berlalu. Hari ini, saatnya Najma melihat pengumuman SNMPTN. Namun, apa yang Najma lakukan? Ia justru tak ingin melihatnya sendiri. Ia ingin, orang lain yang melihatnya. Akhirnya, ia meminta tolong kepada salah satu sahabatnya untuk melihat bagaimana hasilnya. Najma pun memberi tahu password dan kode ujiannya.

Beberapa saat kemudian, ada getar terasa di telepon genggamnya. Setelah dilirik, ternyata itu nomor sahabatnya itu.

“Duh, kenapa dia udah sms ya?” tanyanya kepada si telepon genggam.

Ummi pun datang dengan cemas.

“Gimana, nak? Gimana hasilnya?”tanya ummi terburu.

“Najma belum liat, mi… Najma lagi minta tolong Lili untuk lihat hasilnya.” jawabnya sambil memperhatikan telepon genggamnya.

“Trus bagaimana? Lili sudah membalas sms kamu, nak?”tanya ummi lagi.

“Sudah, mi. Tapi Najma ndak berani lihat.” katanya sambil melempar telepon genggamnya ke kasur.

“Najma…. Semua menunggu kamu sekarang, nak. Ayo sayang, dibuka sms nya. Apapun, insya Allah ummi ikhlas, nak…” jawab sang ummi sambil mengelus kepala Najma.

Dengan hati was-was, Najma pun mengambil telepon genggam nya sambil merangkak. Perlahan, ia buka kunci pada telepon genggamnya, kemudian ia klik ‘show’ untuk membuka smsnya.

“Najmaaaaaaa ….. KIMIA UNSOED … Barakallahu yaaa……. :’)”

Hanya seperti itu kata-kata sms nya.

“Ummi, kayak gini sms nya…” kata Najma sambil memperlihatkan sms nya.

“Alhamdulillah Ya Allah…. Alhamdulillah …”ucap sang ummi sambil bersujud syukur.

Najma masih bengong melihat ummi nya.

“Najma diterima di UNSOED ya, mi?” tanyanya setengah sadar pada sang ummi.

“Iya, sayang… Kamu diterima…”

Tanpa berkata-kata, ia pun langsung sujud syukur dan menangis haru tiada henti…

Ummi pun menuntunnya untuk berdiri kembali.

“Sini, nak… Ummi peluk.” kata sang ummi sambil memeluk anaknya itu.

“Ummiiii…. Syukran ummii… Semua ini karena ummi…”jawabnya sambil menangis.

“Sama-sama, sayang… Tapi ini semua juga karena kerja keras kamu, nak… Barakallahu… ” jawab sang ummi sambil menangis juga.

Alhamdulillah, akhirnya setelah melalui penantiannya yang cukup lama, Najma pun diterima di salah satu universitas negeri di kota terpencil ini. UNSOED, Universitas Jenderal Soedirman. Satu-satunya universitas di Indonesia yang memakai nama pahlawan kemerdekaan RI untuk dijadikan nama universitas.

Siapa yang tidak bangga?

Najma bangga memiliki UNSOED.

#Najma persembahkan semua ini untuk Allah, bangsa, dan almamater.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya