Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Renungan Sejarah

Renungan Sejarah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (hanggaady.blogspot.com)

dakwatuna.com “Islam dibangun di atas cahaya Tuhan, dibawa manusia pilihan. Melaju bersama hunusan pedang, tinta merah para syuhada dan tinta hitam para ulama. Hadir bukan dengan kata semata akan tetapi dengan sinar cahaya, hadir tanpa didengar akan tetapi bergetar, bukanlah megah akan tetapi indah” (Catatan sang surya)

Sejak awal kelahiran Islam, Islam menjadi sebuah energi besar yang tengah menunjukkan khazanah kehidupan baru yang lebih baik. Namun apa daya, kehadirannya banyak sekali yang mengingkari dan menghiraukannya. Sepanjang perjalanannya, Khasnya Islam kini terbukti dengan semakin berkembangnya masyarakat yang memilih Islam menjadi pandangan hidupnya. Inilah Islam, sebagai rahmatan lil ‘alamin, Hadir bukan dengan kata semata akan tetapi dengan sinar cahaya, hadir tanpa didengar akan tetapi bergetar, bukanlah megah akan tetapi indah.

            2012, merupakan tahun yang penuh dengan banyak gejolak. Baik gejolak alam, gejolak moral hingga gejolak politik baik local, nasioanal maupun global. Saya kira opini saya tidak terlalu berlebihan. Indonesia misalnya, sekitar beberapa wilayah terkena banyak musibah; banjir, longsor, kebakaran, dan yang sekarang ramai adalah krisis air bersih. Saat saya sedang menonton salah satu berita di televise, salah satu kampung di daerah Jambi kehabisan air bersih sampai air yang dikonsumsi pun air keruh yang mengandung kadar garam yang amat tinggi. Sangat miris sekali. Kini krisis air bersih pun terjadi di mana-mana.

            Gejolak moral pun demikian. Sebuah guyonan yang terus saya ingat dari seorang teman di kampus, Indonesia itu lucu!!!  Kini prinsipnya maju tak gentar membela yang bayar, bukan membela yang benar. Giliran orang korupsinya gede hanya dihukum dengan ringan dan nyaman. Giliran orang mengambil sandal, ia dihukum setengah mati dan susah. Kasus-kasus korupsi hilang satu demi satu bak buih di lautan saja. Mungkin jadi alasan utama sebuah iklan rokok membuat ikannya di media televise dengan memperlihatkan sebuah perlombaan jin dalam menghilangkan sesuatu. Ada yang menghilangkan piramida, menghilangkan bangunan sejarah yang lainnya, jin Indonesia sendiri menghilangkan korupsi “korupsi di Indonesia hilang”. Sekalipun benar terjadi kasus-kasus dan kejahatan public hilang dengan mudahnya, Saya kira ini sebuah pengkhianatan besar akan nilai-nilai moral itu sendiri, sungguh hal itu bukan hanya berkhianat dari public akan tetapi berkhianat pula kepada yang menciptakan manusia. Semoga Allah memberikan mereka khazanah pertaubatan karena kelak semua manusia adalah terdakwa di depan Rabb. Kita berharap mudah-mudahan guyonan itu tidak benar-benar terjadi di Indonesia.

Kini gejolak politik, pemilu menjadi hajat tahun-tahun ini. Baik pemilihan walikota, gubernur dan sebentar lagi pemilihan presiden akan menjadi hajat besar di Indonesia. Jika selama ini kita disuguhkan dengan berbagai gejolak, kini sudah saatnya kita menggali kembali khazanah terdahulu yang membawa pada catatan catatan emas sejarah. “Jas Merah” jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena dari sejarah itu kita menggali khazanah-khazanah kemenangan. Agar gejolak yang timbul memberikan dampak kebaikan dan hikmah bagi masyarakat yang terpercik gejolaknya.

            Sejarah merupakan hal nyata yang saling berikatan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Baik kejadian yang sudah berlalu maupun kejadian sekarang dan akan datang, karena sejarah tidak lahir begitu saja. Melainkan ada permulaan darinya. Misalkan negeri kita Indonesia, sejarah yang begitu dahsyatnya dimulai dari saat-saat perjuangan melawan para penjajah demi mencapai kemerdekaan, mulai membangun badan kenegaraan, perjuangan dakwah Islam, dan perjuangan-perjuangan lainnya untuk membangun kesejahteraan rakyat. Dari itu tidak sedikit kejadian-kejadian sejarah masa perjuangan kemerdekaan diabadikan dengan membangun tugu, nama jalan dan sejenis lainnya untuk mengenang dan mengetahui kejadian sejarah yang pernah terjadi.

            Jika kita teropong kembali perjuangan rakyat Indonesia, Islam yang dibawa oleh para ulama, tengah menjadi kontribusi yang besar dalam tercapainya kemerdekaan saat itu. Peran mereka memperkenalkan akan hakikat kemerdekaan, hakikat nilai-nilai perjuangan, hakikat martabat dan hak kebebasan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT dan lain-lain menjadi energy yang menyemburat dan membuat para penjajah enyah dari tanah pertiwi.

            Perenungan (I’tibar) akan sejarah menjadi begitu penting. Karenanya masyarakat akan semakin memiliki kesadaran akan sejarah bagaimana nilai-nilai juang masa lampau yang membawa pada kemerdekaan bersama. Semakin dalam perenungan akan sejarah, peristiwa, langkah dan kebijakan yang pernah ditempuh, maka akan memberikan nilai kesadaran yang besar untuk melakukan langkah-langkah strategis dan pandangan ideal untuk kebijakan masa depan. Saya tidak mengatakan kita terlarut dalam perenungan sejarah saja, akan tetapi kita mampu pelajari dibalik peristiwa-peristiwa sejarah itu sendiri. Karena kondisi saat ini merupakan mata rantai dari kondisi sebelumnya, dan kondisi akan datang merupakan efek dari seberapa besar kita mengambil pelajaran dari kondisi sebelumnya.

Peristiwa-peristiwa masa lampau dianggap memiliki nilai lebih dalam sejarah karena mempunyai pengaruh-pengaruh yang jauh. Sejarah peperangan Islam misalnya, perang badr, Uhud, khandaq, dan peperangan lainnya memberikan dampak besar pada perluasan khazanah Rabbaniyah. Sehingga Islam meluas dari timur ke barat dengan membawa pembangunan peradaban yang memukau. Dalam bukunya Dr. Mustafa As-siba’i tentang peradaban Islam, Perang kanni misalnya yang dipanglimai chartagi yang berhasil menghancurkan pasukan romawi saat itu, kini peristiwa itu memberikan pengaruh besar dalam rantai pendidikan. Kisah itu menjadi salah satu mata pelajaran di militer eropa. Khalid bin Walid, seorang panglima yang dimiliki Islam yang pernah menaklukkan Irak, syiria dan memenangkan beberapa pertempuran lainnya, beliau menjadi objek kajian bagi para militer barat. Sedangkan untuk umat muslim sendiri tidak sedikit yang menjadikan itu hanya sebagai kisah seketika.

Jangan biarkan berlalunya kisah atau peristiwa masa lalu berlalunya juga kondisi kita dalam kenyamanan dunia modern dan tidak memberikan perubahan pandangan bahwa peristiwa-peristiwa itu merupakan catatan-catatan emas bagi peradaban Islam yang menentukan sejarah selanjutnya. Di sisi lain, para ilmuwan muslim pun mendominasi perubahan sejarah dunia. Misalnya eropa, saat abad ke tujuh masehi mendapatkan banyak pengaruh besar dari para filsuf muslim, saat itu perguruan-perguruan tinggi pun menjadikan kitab-kitab para filsuf yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa latin menjadi rujukan utama.

Sudah sangat jelas bahwa ternyata catatan peradaban Islam telah memberikan dampak besar dalam pembangunan sebuah peradaban dunia. Bidang pengetahuan, teknologi, kedokteran, sastra, perundang-undangan dan lainnya.

            Dari itu, sebagai arsitek negeri muslim kita harus kembali merenungkan catatan dan bukti nyata sebuah peradaban yang cemerlang. Kondisi saat ini merupakan mata rantai dari kejadian-kejadian sebelumnya. Dan kita merupakan anak sejarah dari mata rantai itu yang akan menjadi saksi atas manusia, bekerja dengan penuh keikhlasan dan membantu menuntun menuju kebaikan dan kehormatan, mudah-mudahan kita semua mampu dan terus berjuang sehingga khazanah dan pembangunan dunia mencapai puncak cahaya kembali dari timur ke barat. Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam