Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / I’tibar Uhud

I’tibar Uhud

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi – Bukit Uhud (inet)

Secercah noda putih di kain hitam akan sulit hilang…
Kalau ia besar, akan mengganggu eksistensi warna hitamnya…
Semakin besar noda putih itu, ia akan menutupi segala yang hitam…

dakwatuna.comDalam interaksi kita membutuhkan cara. Cara itu akan menentukan bagaimana relasi bisa terjaga atau terputus. Kalau tiada teknik dalam melakukan sebuah komunikasi dan menata sebuah sistem berbasis komunitas atau kumpulan manusia yang sejenis dalam tujuan, mungkin akan ada masa kala relasi itu tidak memiliki ruh, tidak memiliki kerinduan karena tidak ada yang membuatnya terkesan namun memunculkan trauma.

Sedari ayat 153 hingga beberapa ayat setelahnya di surah Ali Imran, Allah swt menjelaskan bagaimana suasana yang luar biasa di perang Uhud. Kalau di “Kontemplasi Pagi” yang lalu kita mengambil sisi “Kemaafan” yang luas dari Rabb untuk umatnya, kini penulis ingin mengambil dari sisi teknik dakwah dan penataan sumber daya yang dijelaskan sangat gamblang di ayat 159. Ayat ini seakan tersisip untuk menjelaskan secara mendasar dalam melakukan teknik dakwah.

Di ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, Allah masih menjelaskan bagaimana suasana yang sangat variatif di perang Uhud. Ya, perang kedua ini membuat pasukan muslimin memiliki tingkat percaya diri yang melambung, namun Allah punya rencana lain, kala Ia ingin menguji sedalam apa keimanan hamba-Nya, sehingga ketika pasukan muslimin dikepung dari segala arah kita melihat ada yang mundur, ada yang lari, ada yang lupa akan sahabatnya namun bersamaan dengan itu ada yang terus mengawasi kondisi Rasul-Nya bahkan harus menerima serentetan luka fisik yang membekas. Luka mereka bukan melemahkan namun membuat mereka girang, segirang-segirangnya,

“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam perang Uhud), orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertaqwa di antara mereka mendapat pahala yang besar.” (QS. Ali-Imran: 171-172)

 

Bagaimana orang yang terluka itu senang bukan kepalang?
Atau apa yang mendasari tekad mereka dalam berjuang?

Ternyata itu adalah buah dari kearifan dakwah, kala Rasul dengan kearifan itu bisa merubah kain hitam menjadi putih, sebut saja nama Umar bin Khattab yang berislam atau bagaimana dengan berislamnya seorang pemuda kaya nan cerdas seperti Mush’ab bin Umair. Apakah ada cara yang baku dalam mengajak manusia kepada kebenaran dan kenikmatan ibadah itu? Mari kita simak dustur ilahi di ayat 159 masih di surah yang sama,

“Maka berkat Rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersifat keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.”

Dari ayat di atas dapat kita ambil beberapa i’tibar (manfaat) umum yang dengannya mempermudah kita dalam amal-amal yang kolektif dan hanya bertumpu pada Ridha-Nya.
Yang utama Allah menekankan sikap lemah lembut dalam interaksi, karena dengan kerasnya hati mampu membuat lawan bicara tak nyaman atau bahkan pergi. Dengan hati yang keras pula, semua sensitivitas persaudaraan akan runtuh, karena kita tak peka akan kesulitan sesama dan acuh tak acuh dalam melihat kesulitan saudara. Selepasnya, saling maaf merupakan sebuah tonggak interaksi. Dalam interaksi pasti ada kesalahan dan kesilapan, dengan hati yang lembut akan membawa pada kebiasaan untuk menerima dan memaafkan kesilapan saudara.

Pada akhirnya, kala di antara kita haruslah mengemban amanah memimpin, musyawarah merupakan jalan terbaik dalam menyelesaikan urusan. Namun musyawarah yang dimaksud adalah musyawarah yang produktif bukan musyawarah yang berujung pada pertikaian dan konsepsi yang berlarut, oleh karenanya dalam amal butuh perencanaan namun perencanaan itu ialah tindakan nyata bukan hanya di atas kertas dan regulasi kosong.

Ketika musyawarah telah usai, kini tinggallah ketergantungan absolut pada Rabb dalam wujud tawakal. Dengan tawakal, segala ikhtiar terasa nikmat karena ikhtiar telah menuju maksimal dan segalanya kini adalah keputusan Rabb, seperti pengibaratan kala seorang sahabat diperintahkan oleh Rasul mengikat untanya baru menyerahkan total pada Rabb bukan pasrah tanpa ikhtiar.

Semoga dengan hati lembut, musyawarah yang dijunjung lalu berakhir pada tawakal, membuat hari-hari dalam amal dan ikhtiar itu ibarat air sejuk di kala berbuka, nikmat dan melepaskan segala dahaga untuk-Nya dalam bingkai ibadah.

Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Spirit yang Hilang, Aku Rindu “Masa” Itu